Suara lantunan ayat Al-Qur'an masih terdengar ketika Haris memasuki ruangan. Langkahnya tidak tergesa-gesa. Ia sesekali menganggukkan kepala kepada orang-orang yang menyapanya, membalas salam dengan senyum tipis yang terlihat begitu tenang. Kemeja koko putih yang dikenakannya tampak sederhana, dipadukan dengan sarung berwarna gelap dan peci hitam yang terpasang rapi di kepala. Tidak ada yang berlebihan dari penampilannya. Justru kesederhanaan itulah yang membuat banyak orang merasa dekat dengannya.
Malam itu sebuah kegiatan keagamaan digelar di sebuah gedung serbaguna yang tidak terlalu besar. Kursi-kursi plastik telah memenuhi hampir seluruh ruangan. Sebagian jamaah duduk bersila di bagian depan, sementara yang lain memilih duduk di kursi karena usia mereka sudah tidak lagi muda. Anak-anak kecil berlarian di halaman sebelum akhirnya dipanggil orang tua masing-masing untuk masuk dan diam.
Haris duduk di barisan depan.
Beberapa orang menghampirinya sekadar untuk bersalaman. Ada yang memanggilnya Pak Haji. Ada pula yang menyebut namanya dengan nada penuh hormat. Haris menerima semua itu dengan senyum yang sama. Tidak terlalu lebar, tidak pula dibuat-buat. Setidaknya begitulah yang terlihat.
Ketika tiba waktunya memberikan ceramah, suasana perlahan menjadi lebih tenang.
Haris berdiri di depan jamaah. Tangannya sesekali bergerak pelan mengikuti kalimat yang diucapkannya. Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas untuk membuat orang-orang di belakang ikut mendengarkan.
“Mungkin kita sering merasa bahwa yang namanya amanah itu hanya berkaitan dengan jabatan,” katanya.
Beberapa jamaah mengangguk.
“Padahal amanah itu ada di mana-mana. Ketika seseorang diberi kepercayaan mengurus uang, itu amanah. Ketika seseorang diberi jabatan, itu amanah. Ketika seseorang diberi kesempatan membantu orang lain, itu juga amanah.”
Ruangan kembali hening.
Haris berhenti sebentar, membiarkan kalimatnya mengendap.
“Jangan sampai sesuatu yang bukan hak kita, kita anggap sebagai rezeki.”
Seorang lelaki tua di barisan depan mengangguk lebih dalam.
Haris melanjutkan dengan suara yang tetap lembut. Tentang kejujuran. Tentang rasa takut kepada Tuhan. Tentang bagaimana seseorang seharusnya menjaga dirinya ketika tidak ada orang lain yang melihat. Ia berbicara seolah-olah manusia yang paling sulit diawasi bukanlah orang lain, melainkan dirinya sendiri.
“Karena yang namanya amanah,” ujarnya, “bukan hanya dipertanggungjawabkan di hadapan manusia.”
Kali ini beberapa orang mengucapkan istighfar pelan.
Tidak ada yang aneh dari ceramah itu. Tidak ada kalimat yang kontroversial. Bahkan mungkin sebagian besar orang sudah pernah mendengarnya berkali-kali dari ustaz atau penceramah lain. Namun entah mengapa, ketika Haris yang menyampaikannya, kalimat-kalimat itu terasa lebih meyakinkan.
Mungkin karena ia seorang pejabat. Mungkin karena ia sudah bergelar haji. Atau mungkin karena selama ini orang-orang memang mengenalnya sebagai seseorang yang dekat dengan kegiatan keagamaan.
Setelah acara selesai, jamaah tidak langsung beranjak pulang. Beberapa orang justru mengerumuni Haris. Ada yang ingin bersalaman, ada yang meminta foto bersama, dan ada pula yang sekadar ingin menyampaikan terima kasih.
“Bagus sekali ceramahnya, Pak Haji.”
“Jadi ingat untuk lebih hati-hati soal amanah.”
“Kalau semua pejabat seperti Bapak, mungkin masyarakat lebih tenang.”
Haris hanya tersenyum.
“Doakan saja kita semua bisa menjadi orang yang lebih baik,” jawabnya.
Jawaban sederhana itu kembali membuat orang-orang mengangguk.
Di sudut ruangan, beberapa anak muda mengambil foto Haris diam-diam. Tidak lama kemudian, foto itu mungkin akan beredar di grup-grup percakapan warga. Seorang pejabat yang religius. Seorang pejabat yang sederhana. Seorang pejabat yang masih mau duduk bersama masyarakat.
Haris tidak keberatan. Ia justru terlihat santai ketika beberapa orang meminta berfoto sekali lagi. Namun di tengah kerumunan itu, matanya beberapa kali bergerak ke arah pintu samping.
Sekilas ... kemudian kembali tersenyum.
Seorang lelaki muda yang berdiri agak jauh dari kerumunan sempat memperhatikan gerakan matanya. Haris menangkap pandangan itu. Ia tersenyum kepadanya, lalu mengangkat tangan kecil sebagai tanda menyapa.
Lelaki itu ikut tersenyum. Haris kembali berbicara dengan jamaah. Tidak ada yang terjadi. Setidaknya, bagi orang lain.
Beberapa menit kemudian, ketika kerumunan mulai berkurang, Haris berjalan keluar melalui pintu samping gedung. Begitu melewati pintu, senyumnya perlahan menghilang.
Ia berhenti sebentar. Menoleh ke belakang. Memastikan tidak ada orang yang mengikutinya. Baru setelah itu ia berjalan menuju halaman.
Udara malam terasa lebih dingin dibandingkan di dalam ruangan. Beberapa kendaraan terparkir tidak jauh dari halaman. Lampu-lampu gedung menerangi jalan setapak yang mulai sepi.
Di sana sudah ada beberapa orang yang menunggunya. Mereka tidak ikut duduk bersama jamaah sampai acara selesai. Sebagian bahkan tidak masuk ke dalam gedung.
Jaka berdiri paling dekat dengan sebuah mobil berwarna hitam. Ketika melihat Haris keluar, ia langsung berdiri lebih tegak.
“Sudah selesai, Pak?”
Haris mengangguk.
“Yang lain mana?”
“Sudah ada di mobil.”
Haris berjalan pelan menuju kendaraan. Namun sebelum mendekat, ia melihat ke kanan dan kiri sekali lagi.
“Yang tadi di depan masih ada?”
Jaka mengerutkan kening.
“Siapa, Pak?”
“Yang pakai kemeja biru.”
Jaka menoleh ke arah gedung.
“Sudah pulang, kayaknya.”
Haris tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil. Baru setelah itu ia berjalan menuju mobil.
Orang-orang yang menunggunya segera mengikuti. Suasana mereka berbeda dari jamaah yang baru saja mendengarkan ceramahnya. Tidak ada pembicaraan tentang amanah. Tidak ada pembahasan tentang dosa mengambil sesuatu yang bukan hak. Mereka berbicara lebih pelan, sesekali melihat ke arah gedung untuk memastikan tidak ada orang yang memperhatikan.
Haris membuka pintu mobil, tetapi sebelum masuk, ia berhenti.
“Dana yang kemarin sudah masuk?”
Jaka yang berdiri beberapa langkah di belakangnya segera menjawab.
“Masih diproses, Pak.”
“Kapan?”
“Katanya paling lambat beberapa hari lagi.”
Haris menatap Jaka cukup lama.
“Siapa yang pegang?”
“Masih di bagian keuangan.”
“Namanya?”
Jaka menyebutkan sebuah nama. Haris mengangguk.
“Jangan hubungi dia malam ini.”
Jaka sedikit heran.
“Kenapa, Pak?”
“Jangan terlalu sering menghubungi orang kalau belum perlu.”
Nada suara Haris tetap tenang. Jaka mengangguk.
“Iya, Pak.”
Haris kembali melihat ke arah gedung. Lampu di beberapa ruangan masih menyala. Dari dalam terdengar suara orang-orang membereskan kursi.
“Dan satu lagi,” katanya.
Jaka menunggu.
“Kalau ada yang tanya soal dana itu, kamu tidak tahu apa-apa.”
Jaka terdiam sebentar. Haris menatapnya. Bukan tatapan marah. Justru terlalu tenang.
“Paham?”
“Paham, Pak.”
Haris mengangguk. Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada kata-kata yang bisa disebut sebagai perintah aneh. Tetapi Jaka tahu, ada beberapa hal yang memang tidak perlu dibicarakan terlalu banyak. Haris kemudian masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup. Sebelum kendaraan bergerak, ia menurunkan kaca jendela sedikit.
“Jaka.”
“Iya, Pak?”
“Besok jangan datang ke kantor pagi-pagi. Siang saja.”
“Baik.”
Kaca kembali tertutup. Mesin menyala. Kendaraan perlahan meninggalkan halaman gedung. Jaka masih berdiri di tempatnya sampai mobil itu menghilang di tikungan.
Darman, yang sejak tadi bersandar di mobil lain, menghampirinya sambil memainkan ponsel.
“Sudah?”
“Sudah.”
“Katanya dana masih diproses.”
Jaka mengangguk. Darman memasukkan ponselnya ke saku.
“Ya sudah. Tunggu saja.”
Mereka kemudian berjalan menuju kendaraan masing-masing.
Di dalam gedung, beberapa jamaah masih membicarakan ceramah Haris. Ada yang memuji cara bicaranya. Ada yang mengatakan bahwa pejabat seperti dirinya semakin jarang ditemukan. Ada pula yang mengatakan bahwa anak-anak muda seharusnya belajar dari sikapnya.
Tidak seorang pun membicarakan percakapan singkat yang terjadi di halaman belakang. Tidak seorang pun tahu apa yang dimaksud dengan dana yang sedang diproses. Dan mungkin, malam itu, memang belum ada yang perlu tahu.
Namun di dalam mobil yang melaju meninggalkan tempat tersebut, Haris tidak lagi terlihat seperti lelaki yang baru saja berdiri di depan jamaah dan berbicara tentang amanah.
Ia membuka ponselnya. Ada satu pesan masuk. Ia membacanya sebentar. Kemudian menghapusnya. Beberapa detik kemudian, ia menghapus percakapan sebelumnya. Ponselnya dimasukkan kembali ke saku. Wajahnya tetap tenang. Ia menyandarkan kepala ke kursi dan memejamkan mata. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Seolah kalimat-kalimat tentang amanah yang baru saja keluar dari mulutnya tidak pernah bertabrakan dengan percakapan yang terjadi beberapa menit kemudian.
Dan malam itu, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak perlahan di belakang nama Haris Maulana.
Sesuatu yang belum terlihat. Sesuatu yang belum terbuka. Tetapi kelak, mungkin akan membuat banyak orang berharap mereka tidak pernah mengenalnya.
BERSAMBUNG