Tidak semua orang yang berada di sekitar Haris Maulana memiliki jabatan. Bahkan sebagian besar dari mereka tidak memiliki sesuatu yang istimewa. Mereka hanyalah orang-orang biasa yang kebetulan menemukan jalan menuju seseorang yang memiliki kekuasaan. Ada kontraktor kecil yang sebelumnya hanya mendapatkan pekerjaan sesekali, ada pengusaha yang usahanya tidak pernah benar-benar berkembang, ada pegawai yang tahu bagaimana membuat urusan menjadi lebih mudah, ada orang-orang yang hampir selalu muncul ketika sebuah kegiatan membutuhkan panitia, dan ada pula warga biasa yang entah bagaimana mulai sering mendapat kesempatan setelah mengenal Haris lebih dekat. Mereka tidak datang bersamaan. Satu per satu. Lewat kebutuhan yang berbeda-beda. Ada yang datang karena pekerjaan, ada yang datang karena ingin dibantu, ada yang datang karena ingin mendapatkan proyek, dan ada pula yang awalnya hanya ingin mengenal seorang pejabat yang dianggap dekat dengan masyarakat. Tidak ada yang merasa sedang memasuki sebuah lingkaran. Mereka hanya merasa sedang mendapatkan kesempatan.
Jaka termasuk salah satunya. Beberapa tahun sebelumnya, hidupnya tidak bisa dibilang mudah. Ia bukan orang miskin yang tidak memiliki apa-apa, tetapi penghasilannya tidak pernah benar-benar cukup untuk membuatnya merasa aman. Pekerjaan datang dan pergi. Kadang ia membantu mengerjakan proyek milik orang lain, kadang menjadi tenaga lepas, kadang menerima pekerjaan kecil yang bahkan keuntungannya habis untuk kebutuhan sehari-hari. Ia pernah beberapa kali mengirim lamaran, mendatangi orang yang katanya bisa memberikan pekerjaan, bahkan meminjam uang hanya untuk bertahan sampai mendapatkan penghasilan berikutnya. Saat pertama kali bertemu Haris, Jaka tidak berpikir macam-macam. Ia hanya tahu bahwa orang di depannya adalah seorang pejabat yang mungkin bisa membuka jalan.
Pertemuan itu terjadi karena sebuah proyek kecil. Jaka tidak mendapatkan proyek tersebut secara langsung dari Haris. Ada orang lain yang mengenalkannya kepada seseorang yang berada di dalam lingkaran Haris. Pekerjaannya tidak besar. Nilainya pun tidak seberapa jika dibandingkan dengan proyek-proyek yang biasa dibicarakan orang di kantor. Namun bagi Jaka, keuntungan dari pekerjaan itu cukup untuk membuatnya bernapas lebih lega selama beberapa bulan. Ia bisa membayar tunggakan, memperbaiki kendaraan yang sudah lama bermasalah, dan menyisihkan sedikit uang untuk kebutuhan rumah. Malam ketika menerima pembayaran terakhir, Jaka duduk cukup lama di teras rumah sambil menghitung uang yang ada di tangannya. Ia merasa lega. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa mungkin hidupnya mulai berubah.
“Lumayan, kan?” kata Darman ketika mereka bertemu beberapa hari kemudian.
Jaka tersenyum. “Lumayan banget.”
“Makanya, kalau ada kesempatan jangan dilepas.”
Jaka mengangguk. Saat itu ia belum tahu bahwa kalimat sederhana seperti itu akan sering ia dengar.
Darman adalah orang yang berbeda dari Jaka. Ia sudah lebih dulu berada di sekitar Haris. Tidak jelas kapan tepatnya kedekatan itu dimulai, tetapi hampir semua orang yang mengenal lingkaran Haris mengenal Darman. Ia bukan pejabat. Bukan pula orang yang secara resmi memiliki jabatan penting. Namun kalau ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada Haris, sering kali orang-orang justru mencarinya lebih dulu. Darman tahu siapa yang harus dihubungi, siapa yang sedang memegang urusan, siapa yang bisa diajak bicara, dan siapa yang sebaiknya tidak ditanya terlalu banyak. Ia seperti pintu yang tidak pernah terlihat sebagai pintu, tetapi selalu tahu siapa yang boleh masuk.
“Jangan terlalu banyak mikir,” katanya suatu sore ketika Jaka mulai merasa tidak nyaman dengan sebuah pekerjaan yang mereka bicarakan. “Selama tidak merugikan kita, ya jalan.”
Jaka menatapnya. “Kalau memang bukan urusan kita?”
“Ya bukan urusan kita.”
“Kalau ada yang salah?”
Darman tertawa kecil. “Kamu ini baru dapat sedikit sudah banyak pertanyaan.”
Jaka ikut tersenyum, meskipun tidak sepenuhnya merasa lucu. Ia tidak menjawab lagi. Mungkin Darman benar. Mungkin selama dirinya tidak mengambil sesuatu secara langsung dari tangan orang lain, tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu jauh. Bukankah pekerjaan tetaplah pekerjaan? Bukankah setiap orang membutuhkan kesempatan? Dan bukankah Haris selama ini juga sering membantu orang?
Pikiran-pikiran semacam itu membuat Jaka merasa lebih tenang.
Setelah pekerjaan pertama itu, Jaka mulai beberapa kali diminta membantu. Kadang mengurus sesuatu yang sederhana, kadang mengantar dokumen, kadang menemani orang dari luar daerah yang datang untuk suatu keperluan. Tidak semuanya menghasilkan uang secara langsung. Namun hampir selalu ada sesuatu yang ia dapatkan. Uang transportasi. Makan. Kendaraan. Penginapan ketika ikut perjalanan. Kadang sebuah pekerjaan kecil yang muncul tanpa perlu ia cari. Semakin sering ia berada di sekitar mereka, semakin banyak pula wajah yang dikenalnya. Orang-orang yang sebelumnya hanya ia lihat dari jauh, sekarang bisa ia ajak duduk semeja.
Pada sebuah perjalanan, misalnya, Jaka baru menyadari bahwa hampir semua orang di dalam kendaraan itu pernah mendapatkan sesuatu dari Haris. Ada yang mendapat proyek, ada yang mendapat akses untuk bertemu orang tertentu, ada yang dibantu menyelesaikan urusan yang berbelit, ada yang usahanya tiba-tiba mendapat banyak pesanan setelah diperkenalkan kepada seseorang. Tidak ada yang membicarakannya sebagai sebuah transaksi. Semua terlihat seperti bantuan biasa.
“Pak Haris memang begitu,” kata seseorang sambil tertawa ketika makan malam. “Kalau bisa bantu ya dibantu.”
Darman langsung menyahut, “Makanya jangan macam-macam sama beliau.”
Orang-orang tertawa. Jaka juga tertawa, tetapi setelah itu ia diam. Ia memperhatikan meja di hadapannya. Makanan yang tersaji cukup banyak. Tidak ada yang membayar sendiri. Ketika selesai makan, seseorang sudah lebih dulu mengurus semuanya. Jaka tidak tahu dari mana uang itu berasal. Ia juga tidak bertanya.
Lama-kelamaan, hal-hal seperti itu menjadi biasa.
Yang awalnya terasa sebagai sebuah pemberian mulai dianggap sebagai hak. Yang awalnya membuat Jaka sungkan menerima, lama-lama diterimanya tanpa banyak berpikir. Ketika mendapatkan tumpangan, ia tidak lagi bertanya siapa yang membayar bahan bakar. Ketika diajak menginap di sebuah tempat yang jauh lebih baik daripada yang biasa ia tempati, ia tidak lagi merasa perlu mengetahui siapa yang menanggung biaya. Ketika sebuah pekerjaan datang melalui orang Haris, ia hanya memastikan pekerjaan itu selesai dan uangnya diterima.
Begitulah sebuah kebiasaan terbentuk. Tidak selalu dimulai dari keserakahan. Kadang dimulai dari kebutuhan yang sederhana.
Darman memahami hal itu lebih baik daripada siapa pun. Ia tahu bahwa seseorang tidak harus diberi uang dalam jumlah besar untuk membuatnya loyal. Cukup dibantu ketika sedang kesulitan. Cukup diberi pekerjaan ketika sedang tidak punya penghasilan. Cukup dikenalkan kepada orang yang tepat. Cukup diajak dalam sebuah perjalanan. Cukup dibuat merasa bahwa dirinya dianggap penting.
Suatu malam, ketika mereka duduk di teras sebuah rumah setelah menghadiri kegiatan, Jaka bertanya kepada Darman, “Menurutmu, kenapa Pak Haris banyak banget orang yang mau bantu?”
Darman mengangkat bahu. “Karena beliau baik.”
“Cuma itu?”
“Ya karena orang baik biasanya punya banyak teman.”
Jaka diam.
Darman menyalakan rokoknya, lalu berkata santai, “Lagipula, siapa yang mau menolak orang yang sudah pernah membantu kita?”
Kalimat itu sederhana. Tetapi Jaka mengingatnya cukup lama.
Ia mulai menyadari bahwa orang-orang di sekitar Haris tidak semuanya benar-benar menyukai Haris. Sebagian hanya merasa berutang. Sebagian merasa membutuhkan. Sebagian takut kehilangan kesempatan. Dan sebagian lainnya sudah terlalu jauh menikmati apa yang mereka dapatkan.
Mereka mungkin tidak pernah duduk bersama lalu menyatakan diri sebagai kelompok. Tidak ada perjanjian tertulis. Tidak ada sumpah kesetiaan. Tidak ada satu orang pun yang mengatakan bahwa mereka harus selalu membela Haris.
Namun ketika Haris membutuhkan orang untuk berdiri di belakangnya, mereka selalu ada.
Ketika seseorang mulai mempertanyakan sebuah keputusan, Darman akan menjadi orang pertama yang menjelaskan. Ketika ada kabar yang kurang baik, selalu ada yang mengatakan bahwa itu hanya salah paham. Ketika sebuah pekerjaan dipermasalahkan, ada yang segera mengatakan bahwa semua sudah sesuai prosedur. Dan ketika seseorang bertanya terlalu jauh, biasanya akan ada suara lain yang mengingatkan bahwa tidak semua hal perlu diketahui.
Jaka belum merasa dirinya seperti mereka.
Ia masih menganggap dirinya hanya orang yang sedang mencari pekerjaan. Ia tidak pernah merasa menjadi bagian penting dari apa pun. Ia hanya kebetulan berada di tempat yang tepat, mengenal orang yang tepat, lalu mendapatkan kesempatan yang sebelumnya sulit ia dapatkan.
Setidaknya, itulah yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri.
Sementara itu, Darman sudah jauh lebih nyaman dengan posisinya. Ia tidak lagi sekadar menerima bantuan. Ia mulai menjaga agar bantuan itu tetap mengalir. Karena bagi Darman, kedekatan dengan Haris bukan lagi sekadar soal pertemanan. Ada terlalu banyak hal yang sudah ia dapatkan untuk membuatnya rela kehilangan semua itu.
Dan tanpa disadari Jaka, sejak saat itu ia mulai belajar satu hal yang kelak akan menjadi persoalan besar dalam hidupnya: bahwa seseorang tidak harus diperintah untuk menjadi kacung. Kadang ia cukup diberi sesuatu yang sangat ia butuhkan, lalu dibiarkan merasa bahwa semua yang ia lakukan setelahnya hanyalah bentuk balas budi.
BERSAMBUNG