Sejak kecil, Lara selalu dianggap berbeda. Gerakannya lembut, cara bicaranya tenang, dan kebiasaannya membuat orang-orang di sekitarnya sering bercanda bahwa ia seperti putri keraton. Lara tidak pernah menganggapnya serius. Baginya, itu hanya kebiasaan yang terbawa sejak kecil. Sampai suatu malam, ketika hujan turun deras dan listrik di rumah padam. Di tengah gelap, Lara mencium aroma melati. Tak lama kemudian, terdengar suara gamelan dari kejauhan, disusul sebuah panggilan yang membuat bulu kuduknya meremang. “Ndoro...” Sejak malam itu, mimpi-mimpi aneh mulai datang. Lara melihat sebuah tempat yang tidak pernah ia datangi, tetapi terasa seperti rumah. Ada pendopo, gamelan, perempuan-perempuan berkebaya, dan seorang perempuan yang selalu menyambutnya dengan kalimat yang sama. “Putriku, akhirnya kau pulang.” Awalnya Lara mengira semua itu hanya mimpi. Sampai ibunya, Raras Yogyadewi, mengaku mengalami mimpi yang sama. Perlahan, kehidupan keluarga mereka mulai menyimpan semakin banyak kejanggalan. Narendra, Jatmika, dan Kaivan pun menunjukkan hal-hal aneh yang tidak bisa dijelaskan begitu saja. Bahkan perbedaan wajah mereka yang selama ini dianggap sekadar kebetulan mulai terasa seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar. Jika mereka memang pernah hidup sebelumnya, mengapa mereka terlahir kembali sebagai satu keluarga? Dan siapa sebenarnya Lara sebelum kehidupan yang sekarang? Semakin dekat ia pada jawabannya, semakin Lara menyadari bahwa mungkin bukan masa lalu yang sedang ia cari. Melainkan sesuatu yang tertinggal di sana.