“Lara!”
Aku yang sedang menata buku di atas meja langsung menoleh.
“Apa?”
“Cepetan! Ibu nyuruh makan.” Suara Jatmika terdengar dari ruang makan.
“Sebentar.”
“Dari tadi sebentar.”
Aku tidak menjawab.
Buku yang sebenarnya sudah rapi masih kugeser sedikit ke kanan. Lalu satu buku lagi ke kiri. Entah kenapa kalau melihat sesuatu tidak sejajar, tanganku rasanya ingin membetulkannya.
“Lara!”
“Iya, iya!” Aku akhirnya berdiri. Baru dua langkah keluar kamar, Jatmika sudah muncul di ujung lorong dengan wajah tidak sabar.
“Kamu kalau jalan kenapa sih?”
Aku menatapnya. “Kenapa?”
“Lambat banget.”
“Aku jalan biasa.”
“Biasa dari mana?” Dia mendahuluiku sambil menggeleng. “Kalau rumah kebakaran, kayaknya kamu masih sempat rapihin bantal.”
Aku mendengus. “Lebay.”
“Fakta.”
Aku tidak membalas lagi. Sebenarnya aku sudah sering mendengar komentar semacam itu. Cara jalanku memang lambat.
Bukan sengaja. Aku juga tidak pernah merasa sedang berusaha berjalan anggun atau apa. Kakiku memang melangkah begitu saja. Kalau sedang duduk, punggungku juga otomatis tegak. Kalau mengambil sesuatu dari orang lain, tanganku hampir selalu terulur dengan dua tangan.
Ibu pernah bilang aku sudah begitu sejak kecil.
Jadi, mungkin memang bawaan.
Atau kebiasaan.
Aku tidak pernah memikirkannya terlalu jauh.
Sampai beberapa orang mulai memanggilku—“Putri keraton.”
Awalnya hanya bercanda. Teman sekolahku yang pertama kali bilang.
Katanya, cara dudukku terlalu sopan dan cara jalanku terlalu pelan.
Jatmika kemudian ikut-ikutan.
Bapak malah tertawa setiap kali mendengarnya.
Cuma Ibu yang biasanya diam. Namanya Raras Yogyadewi.
Nama yang menurutku terlalu cantik untuk seorang ibu yang setiap pagi masih sibuk mencari sandal yang sebenarnya ada di bawah kursinya sendiri.
“Bu, sandalnya di bawah.”
Ibu menunduk. “Oh.”
Aku menahan tawa. “Dari tadi dicari?”
“Iya.”
“Padahal kelihatan.”
“Kalau sudah tua begini—”
“Umur Ibu belum tua.”
“Biarin.”
Aku tersenyum. Begitulah Ibu. Tidak ada yang terlalu istimewa.
Setidaknya begitu pikirku.
Bapak, Satradipa Wicaksono, lebih sederhana lagi. Orangnya santai, suka bercanda, dan punya kebiasaan membaca koran sambil mencari-cari kacamatanya.
Padahal kacamatanya hampir selalu ada di kepalanya.
Anak pertama mereka adalah Narendra.
Wajahnya paling sering jadi bahan pertanyaan orang.
“Mas Narendra keturunan Tionghoa, ya?”
Entah sudah berapa kali dia mendengar kalimat itu. Padahal setahuku keluarga kami semuanya Jawa.
Narendra biasanya hanya tersenyum tipis. “Nggak.” Lalu selesai.
Jatmika beda lagi.
Wajahnya sangat Jawa. Ganteng, manis, dan kelihatannya ramah.
Sayangnya, kelakuannya tidak selalu sesuai tampang.
Sedangkan Kaivan...
kalau sudah berpakaian rapi, rambut ditata, dan bajunya tidak ada yang kusut, wajahnya mendadak seperti pemeran drama Korea.
Jatmika pernah mengatakan itu dengan sangat serius.
Kaivan tersinggung selama dua hari.
Aku sendiri berada di tengah-tengah mereka.
Tidak punya wajah yang terlalu mencolok.
Tidak punya sifat yang terlalu istimewa.
Hanya punya satu kebiasaan aneh yang bahkan tidak kusadari. Aku selalu menoleh kalau mendengar suara gamelan.
Bukan karena suka.
Entah kenapa, setiap mendengarnya, dadaku terasa sedikit sesak.
Seperti ada sesuatu yang hampir kuingat.
-------
Malam itu hujan turun cukup deras.
Aku sedang duduk di kamar ketika listrik tiba-tiba padam. Rumah langsung gelap.
“Lara!” teriak Jatmika dari luar.
“Apa?”
“Lilin di mana?”
“Di laci dapur!” jawabku dari dalam kamar.
“Yang mana?” tanya Jatmika.
“Sebelah kiri!”
“Yang kiri mana?!”
Aku hendak keluar untuk membantu. Tapi baru saja membuka pintu kamar, aku mencium sesuatu.
Bau bunga.
Melati.
Aku berhenti tiba-tiba.
Aneh. Di rumah tidak ada bunga melati.
Aku berjalan menuju ruang tengah. Gelap.
Hanya suara hujan dari luar.
Lalu... aku mendengar suara gamelan, pelan sekali.
Seperti berasal dari tempat yang sangat jauh.
Aku berdiri diam. Jantungku berdetak lebih cepat.
Suara itu semakin jelas. Gamelan.
Kemudian terdengar suara perempuan.
“Ndoro...”
Aku membeku.
Suara itu tidak berasal dari rumah.
Tidak mungkin. Aku menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
“Lara?” Suara Ibu membuatku tersentak.
Ibu berdiri di ujung lorong sambil membawa lilin. “Kamu kenapa?”
Aku menatapnya. Untuk beberapa detik aku tidak bisa menjawab.
“Ibu...”
“Iya?”
Aku hampir mengatakan bahwa aku mendengar seseorang memanggilku.
Tapi entah kenapa, kata-kata itu berhenti di tenggorokan.
Aku menggeleng. “Nggak apa-apa.”
Ibu menatapku cukup lama. Kemudian matanya berpindah ke arah belakangku.
Ke lorong yang gelap. Wajahnya berubah.
Hanya sebentar. Sangat sebentar.
Tapi aku melihatnya.
Seolah-olah... Ibu juga mendengar sesuatu. Malam itu aku tidur lebih cepat dari biasanya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bermimpi tentang sebuah tempat yang belum pernah kudatangi. Tempat yang terasa seperti rumah.
Di sana, seorang perempuan sedang menungguku. Ia memakai kebaya.
Di belakangnya berdiri beberapa perempuan lain. Semuanya menundukkan kepala ketika aku datang. Aku tidak tahu siapa mereka. Aku juga tidak tahu siapa diriku.
Sampai perempuan itu tersenyum dan berkata, “Putriku, akhirnya kau pulang.”
Aku terbangun sebelum sempat bertanya... pulang ke mana?