2

Mimpi dengan Bau Melati

3 min baca · 520 kata ·
17 September 2026

Aku masih memikirkan pertanyaan itu bahkan setelah benar-benar terbangun.

Pulang ke mana?

Aku menatap langit-langit kamar sambil mencoba mengingat mimpi tadi. Aneh, biasanya kalau bangun tidur aku langsung lupa sebagian besar mimpi. Kadang bahkan baru beberapa menit sudah tidak ingat apa-apa.

Tapi yang satu ini berbeda.

Pendopo itu masih jelas di kepalaku. Tiang-tiang kayu yang tinggi, lantai yang terasa dingin, suara gamelan dari tempat yang tidak kelihatan. Bahkan perempuan yang memanggilku putri masih bisa kuingat wajahnya.

Masalahnya, aku tidak mengenal perempuan itu.

Aku mengusap wajah lalu duduk di tepi kasur

"Namanya siapa, sih?" Tidak ada jawaban, tentu saja. Aku sendiri juga bingung kenapa malah bertanya seperti itu.

Jam di meja menunjukkan pukul lima lewat sedikit. Di luar, suara air hujan masih terdengar dari talang. Semalam hujannya memang deras. Mungkin karena itu aku bermimpi aneh.

Aku berdiri dan membuka jendela sedikit. Udara pagi langsung masuk. Dingin, tapi segar.

Aku menarik napas. Tidak ada bau melati. Aku malah merasa lega.

Berarti yang semalam memang cuma mimpi. Setidaknya itu yang ingin kupercaya.

Saat turun ke bawah, rumah sudah mulai ramai. Ibu sedang sibuk di dapur, sementara Jatmika duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya.

"Lama banget," katanya begitu melihatku.

"Aku baru bangun."

"Orang lain juga baru bangun."

Aku menarik kursi. "Terus?"

"Enggak apa-apa."

Aku meliriknya. "Terus kenapa ngomel?"

Jatmika nyengir lalu kembali melihat ponselnya.

Aku mengambil roti dari meja. Baru saja hendak menggigit, suara gamelan terdengar dari luar.

Tanganku berhenti. Cuma sebentar.

Suara itu pelan sekali. Hampir seperti berasal dari kejauhan. Aku menoleh ke arah jendela.

"Ra?"

Aku tersadar.

Ibu sedang melihatku dari dapur. "Kenapa?"

"Enggak."

Aku kembali makan. Mungkin suara dari rumah tetangga.

Mungkin.

Siangnya, aku sempat mencoba melupakan semuanya. Aku belajar, membantu Ibu sebentar, lalu mengerjakan tugas sekolah. Tidak ada hal aneh yang terjadi.

Sampai malam datang.

Aku tidur lebih cepat dari biasanya. Dan aku bermimpi lagi.

Tempat yang sama. Pendopo itu.

Kali ini aku berdiri lebih dekat dengan seseorang yang kemarin hanya kulihat dari jauh. Perempuan itu mengenakan kebaya dengan rambut disanggul rapi. Di belakangnya ada beberapa perempuan lain yang berdiri sambil menundukkan kepala.

Aku ingin bertanya siapa mereka.

Namun sebelum sempat membuka mulut, seorang perempuan datang membawa nampan.

"Ndoro, monggo."

Aku menerima sesuatu dari nampan itu dengan kedua tangan.

Gerakanku terasa begitu biasa.

Tidak canggung. Tidak bingung.

Seolah aku memang sudah melakukannya berkali-kali.

Aku melihat tanganku sendiri. Kenapa aku tidak merasa asing?

Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang.

"Raden Ayu Larasati..."

Aku berbalik. Tidak ada siapa-siapa.

Suara gamelan semakin jelas. Aroma melati kembali memenuhi udara.

Aku mencoba mencari sumber suara itu, tetapi kakiku justru bergerak menuju sebuah pintu kayu di ujung pendopo.

Sebelum tanganku menyentuh gagangnya, seseorang memanggil namaku.

"Laras."

Aku terbangun. Dadaku naik turun.

Kamar masih gelap.

Beberapa detik aku hanya duduk diam sambil menatap pintu kamar.

"Larasati?" Aku mengulang nama itu pelan.

Itu namaku. Niskala Larasati.

Tapi aku tidak pernah dipanggil Raden Ayu. Bahkan aku tidak tahu kenapa kata itu muncul dalam mimpiku.

Aku mengambil ponsel di samping bantal dan melihat jam.

03.17.

Aku mencoba tidur lagi. Tidak bisa.

Dan untuk pertama kalinya, aku mulai bertanya-tanya.

Kalau ini cuma mimpi, kenapa rasanya seperti aku sedang mengingat sesuatu?