Beberapa minggu setelah kegiatan malam itu, nama Haris kembali muncul dalam sebuah acara keagamaan. Kali ini bukan di gedung serbaguna yang sama, melainkan di sebuah halaman sekolah yang disulap menjadi tempat pengajian. Terpal dipasang di atas kepala jamaah. Kursi-kursi disusun memanjang. Di bagian depan terdapat sebuah meja panjang dengan beberapa botol air mineral dan kotak makanan yang belum dibagikan. Sejak sore, orang-orang sudah mulai berdatangan. Anak-anak berlarian di sekitar halaman, sementara para ibu sibuk mencari tempat duduk yang teduh. Ketika Haris tiba, beberapa panitia langsung menghampirinya. Seperti biasa, ia menyapa mereka satu per satu. Tidak ada kesan terburu-buru meskipun beberapa orang sudah menunggu cukup lama.
Jaka berada di antara panitia yang sibuk sejak siang. Ia membantu memindahkan kursi, mengatur kendaraan, dan sesekali menerima telepon dari orang-orang yang menanyakan acara. Ia sebenarnya tidak terlalu memahami mengapa dirinya selalu dilibatkan dalam kegiatan seperti itu. Awalnya ia hanya diminta membantu sekali. Lama-lama namanya seperti selalu ada setiap kali Haris membutuhkan orang. Ia tidak mendapat jabatan apa pun. Tidak ada kartu khusus. Tidak ada seragam. Namun orang-orang mulai mengenalnya sebagai salah satu orang dekat Pak Haris.
Ketika acara dimulai, Jaka memilih berdiri di bagian belakang. Dari sana ia masih bisa melihat Haris dengan jelas. Lelaki itu kembali mengenakan pakaian sederhana. Suaranya terdengar tenang ketika berbicara tentang kehidupan, tentang tanggung jawab, dan tentang manusia yang sering lupa bahwa setiap perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban. Jamaah mendengarkan dengan khidmat. Beberapa orang bahkan mengeluarkan ponsel untuk merekam.
“Jangan pernah mengambil apa yang bukan hak kita,” kata Haris pada satu bagian ceramahnya. “Kadang manusia merasa sesuatu itu kecil. Hanya sedikit. Hanya sekali. Hanya karena orang lain juga melakukannya. Padahal yang sedikit kalau terus dilakukan bisa menjadi kebiasaan.”
Jaka yang semula tidak terlalu memperhatikan mendadak mengangkat wajah.
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang pernah ia dengar.
Haris melanjutkan. “Jangan kita mencari pembenaran hanya karena banyak orang melakukannya. Kalau salah, tetap salah. Kalau bukan hak kita, tetap bukan hak kita.”
Beberapa jamaah mengangguk.
Jaka menunduk lagi.
Entah mengapa, kali ini ia tidak merasa setenang biasanya.
Setelah acara selesai, Haris kembali dikerumuni orang-orang. Ada yang meminta foto, ada yang mengajak berbicara, dan ada pula yang menyampaikan keluhan tentang berbagai urusan. Jaka tidak ikut mendekat. Ia memilih membereskan kursi di belakang. Baru ketika halaman mulai sepi, Darman memanggilnya.
“Ka.”
Jaka menoleh.
“Ada yang mau dibicarakan.”
“Sekarang?”
“Iya.”
Mereka berjalan ke sebuah ruangan kecil di belakang sekolah. Di dalam sudah ada dua orang lain yang Jaka kenal. Salah satunya seorang pengusaha yang beberapa kali ikut dalam kegiatan mereka. Di atas meja terdapat beberapa lembar kertas, sebuah map cokelat, dan sebuah kalkulator. Jaka duduk di kursi paling ujung.
“Ini yang kemarin?” tanyanya.
Darman mengangguk. “Yang ini.”
Salah seorang lelaki membuka map dan mengeluarkan rincian anggaran. Jaka melihat sekilas angka-angka yang tertulis di sana. Ada biaya konsumsi, transportasi, sewa perlengkapan, dokumentasi, dan beberapa kebutuhan lain. Jumlah akhirnya membuat Jaka mengernyitkan dahi.
“Sebanyak ini?”
Darman menoleh.
“Kenapa?”
“Pesertanya kan tidak sebanyak itu.”
“Sudah dihitung.”
Jaka kembali melihat kertas di tangannya. Ia bukan orang yang ahli menghitung anggaran. Namun selama beberapa tahun terakhir ia cukup sering mengurus kegiatan sehingga tahu kira-kira berapa biaya yang dibutuhkan. Ada beberapa angka yang menurutnya terlalu tinggi.
“Kalau konsumsi segini, bukannya cukup?”
“Sudah termasuk cadangan.”
“Cadangan sebanyak ini?”
Darman tertawa kecil. “Kamu mulai lagi.”
Jaka diam.
Lelaki yang sejak tadi memegang kalkulator kemudian berkata, “Tidak usah dipikirkan detailnya. Yang penting administrasinya lengkap.”
“Terus selisihnya?”
Ruangan mendadak lebih tenang.
Darman menatap Jaka.
“Selisih apa?”
Jaka menunjuk salah satu bagian.
“Ini. Kalau kebutuhan sebenarnya segini, kenapa yang diajukan lebih besar?”
Darman menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kamu terlalu polos.”
“Bukan begitu.”
“Terus bagaimana?”
Jaka tidak langsung menjawab.
Ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
Sebelumnya ia memang pernah melihat anggaran seperti itu. Hanya saja nilainya kecil dan tidak pernah membuatnya bertanya terlalu jauh. Kali ini jumlahnya jauh lebih besar. Dan yang membuatnya semakin tidak nyaman adalah cara orang-orang di ruangan itu membicarakannya. Tidak ada yang tampak bingung. Tidak ada yang merasa perlu memeriksa kembali. Semua seperti sudah mengetahui apa yang harus dilakukan.
Darman mengambil map tersebut dari tangan Jaka.
“Sudah. Nanti biar saya yang urus.”
Jaka menatapnya.
“Ini memang boleh?”
Darman terdiam sebentar. Kemudian tertawa. Bukan tawa keras. Hanya tawa pendek yang membuat dua orang lain di ruangan itu ikut tersenyum.
“Kamu baru masuk sudah sok suci.”
Wajah Jaka berubah.
Darman masih tersenyum.
“Dulu waktu susah, siapa yang bantu kamu?”
Jaka tidak menjawab.
“Waktu kamu tidak punya kerjaan, siapa yang kasih kamu kesempatan?”
Jaka menunduk.
“Sekarang baru dapat sedikit sudah mulai banyak bertanya.”
“Aku cuma tanya.”
“Iya. Saya tahu.”
Darman berdiri sambil membawa map.
“Makanya jangan terlalu banyak mikir. Selama tidak merugikan kita, ya jalan.”
Kalimat itu kembali terdengar.
Sama seperti sebelumnya.
Jaka memperhatikan Darman yang berjalan keluar ruangan. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung. Dua orang lainnya juga segera mengikuti. Tidak ada yang merasa pembicaraan itu perlu dilanjutkan.
Jaka masih duduk sendirian.
Dari luar terdengar suara orang-orang membereskan perlengkapan acara. Beberapa kursi digeser. Kardus makanan diangkut ke kendaraan. Suara mesin motor sesekali terdengar dari halaman.
Ia teringat ceramah Haris beberapa menit sebelumnya.
Jangan pernah mengambil apa yang bukan hak kita.
Jaka mengusap wajahnya perlahan.
Mungkin ada penjelasan yang belum ia ketahui. Mungkin memang ada biaya lain yang tidak tertulis di sana. Mungkin semua itu sudah biasa dilakukan dalam kegiatan seperti ini. Ia mencoba mencari alasan yang masuk akal agar pikirannya kembali tenang.
Tidak lama kemudian, seseorang memanggilnya dari luar.
“Jaka!”
Ia berdiri.
Sebelum keluar, matanya kembali jatuh pada meja yang kini kosong. Map tadi sudah dibawa Darman. Hanya tersisa satu lembar kertas yang tertinggal. Jaka mengambilnya, membacanya sekilas, lalu meletakkannya kembali.
Ia berjalan keluar tanpa mengatakan apa-apa.
Malam semakin larut ketika mereka akhirnya pulang. Di perjalanan, Darman duduk di sampingnya sambil memainkan ponsel. Tidak ada pembicaraan tentang anggaran tadi. Seolah percakapan itu tidak pernah terjadi.
Setelah beberapa menit, Darman tiba-tiba berkata, “Kamu jangan sampai berubah gara-gara kebanyakan dengar omongan orang.”
Jaka menoleh.
“Berubah bagaimana?”
“Ya begitulah.”
Darman tersenyum.
“Kita ini bukan orang yang punya banyak pilihan. Kalau ada jalan yang bisa bikin hidup lebih mudah, kenapa harus sengaja dibuat susah?”
Jaka tidak menjawab.
Lampu-lampu jalan bergerak melewati kaca kendaraan.
Di kepalanya, kalimat Darman bercampur dengan suara Haris beberapa jam sebelumnya. Tentang amanah. Tentang hak orang lain. Tentang kesalahan yang tetap salah meskipun banyak orang melakukannya.
Untuk pertama kalinya, Jaka mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.Bukan karena ia sudah tahu semuanya. Justru karena ia belum tahu semuanya. Ia hanya mulai melihat potongan-potongan kecil yang selama ini mungkin sengaja tidak diperhatikannya.
Sesampainya di rumah, Jaka tidak langsung tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil membuka ponselnya. Ada pesan dari Darman yang masuk beberapa menit sebelumnya.
Besok ikut saya. Ada urusan.
Jaka membaca pesan itu dua kali.
Kemudian meletakkan ponsel di sampingnya.
Ia teringat uang dari proyek pertama yang pernah membuatnya begitu bersyukur. Uang yang waktu itu ia anggap sebagai rezeki. Uang yang membantunya membayar kebutuhan rumah ketika hidup sedang sulit.
Untuk pertama kalinya, pertanyaan yang selama ini tidak pernah muncul tiba-tiba datang sendiri.
Kalau jalan mendapatkannya tidak benar, apakah uang itu tetap bisa disebut rezeki?
Jaka tidak menemukan jawabannya malam itu. Ia hanya mematikan lampu dan berbaring. Namun pikirannya tidak ikut padam.
Di tempat lain, Haris mungkin sudah beristirahat setelah seharian bertemu masyarakat dan berbicara tentang amanah. Sementara orang-orang di sekelilingnya sedang memastikan sebuah anggaran berjalan sesuai rencana.
Dan di antara keduanya, Jaka mulai berdiri di tempat yang berbeda. Belum cukup berani untuk pergi. Tetapi juga tidak lagi sepenuhnya nyaman untuk tinggal.
BERSAMBUNG