Reno menatap layar transparan yang tiba-tiba melayang di depan wajahnya. Sebagai CEO muda yang baru dinobatkan di AetherAI, perusahaan startup kecerdasan buatan milik almarhum pamannya, ia merasa dunia sudah cukup gila. Tapi panel biru di depannya ini membawanya ke level kegilaan baru.
[SISTEM KEBANGKRUTAN MAHA KAYA]
- Tugas Utama: Buat perusahaan AetherAI mengalami total bankruptcy (kebangkrutan total) dalam waktu 1 Bulan (30 Hari).
- Aturan:
- Dilarang melarikan uang perusahaan secara ilegal.
- Dilarang merusak aset secara sengaja tanpa alasan operasional.
- Semua keputusan pengeluaran harus berkedok "usaha pengembangan bisnis".
- Hadiah Keberhasilan: Rp 100.000 Triliun tunai masuk ke rekening pribadi (bebas pajak).
- Hukuman Gagal: Jika perusahaan mencetak profit, kamu hanya akan menerima gaji pokok CEO (Rp 5 juta/bulan) tanpa bonus selamanya.
"Seratus ribu triliun?!" mata Reno hampir melompat keluar.
Satu bulan? Membangkrutkan perusahaan di industri AI yang persaingannya sekeramut ini? Pasti sangat mudah! Industri AI itu membakar uang seperti membakar kertas. Bikin satu model AI tanpa arah saja sudah cukup untuk menghabiskan ratusan miliar dalam seminggu.
Reno tersenyum licik. "Sistem, terima tantangannya!"
Langkah 1: Membuang Anggaran Secara "Legal"
Hari berikutnya, Reno memanggil Kepala Tim R&D, Dian, seorang pemuda jenius yang selalu mengenakan kacamata tebal dan kelihatan kurang tidur.
"Dian," ujar Reno dengan nada meyakinkan. "Proyek AI Chatbot yang sedang kita kembangkan untuk layanan pelanggan itu... batalkan."
Dian terperanjat. "Tapi Pak Reno! Itu produk utama kita yang siap rilis minggu depan! Klien sudah mengantre"
"Tidak ada but-but!" potong Reno tegas. "Produk itu terlalu biasa. Mulai hari ini, saya ingin tim R&D fokus pada proyek baru. Saya namakan: Project Emotion-AI."
"Emotion-AI? Maksudnya AI untuk mendeteksi emosi manusia lewat kamera?" tanya Dian bingung.
"Bukan!" Reno tersenyum lebar. "Saya ingin kamu membuat AI yang memiliki mood sendiri. Jika pengguna menanyakan hal yang membosankan, AI-nya boleh marah, merajuk, atau pura-pura mati. Kalau pengguna bertengkar dengannya, AI-nya harus bisa gosting pengguna selama 3 hari!"
Dian melotot. "Pak... siapa yang mau beli AI yang bisa gosting pelanggannya sendiri? Itu akan menghancurkan reputasi bisnis apa pun yang memakainya!"
Tepat sekali! batin Reno bersorak girang.
"Justru itu seninya! Ini adalah inovasi tanpa batas!" seru Reno teatrikal. "Saya alokasikan anggaran Rp 50 miliar untuk menyewa server kuantum terbaik dan chip GPU tercanggih. Habiskan dalam 3 minggu!"
Dian menatap Reno dengan pandangan tidak percaya, namun matanya perlahan berkaca-kaca. "Pak Reno... Anda ternyata seorang visioner. Anda ingin menciptakan AI dengan kesadaran (Sentience) sejati, bukan sekadar alur respons kaku! Baik, saya akan kerjakan dengan segenap jiwa saya!"
Reno membatin puas: Silakan kerjakan. Semakin konyol fungsinya, semakin cepat kita bangkrut!
Langkah 2: Mengacaukan Strategi Marketing
Tak berhenti di situ, Reno memanggil Siska, Kepala Marketing.
"Siska, untuk promosi Project Emotion-AI, saya melarang kamu membuat iklan profesional di LinkedIn atau baliho kota," perintah Reno.
Siska mengerutkan dahi. "Lalu kita promosi di mana, Pak?"
"Buat akun di platform media sosial, lalu unggah video pendek yang menampilkan AI kita sedang 'bertengkar' dengan pengguna. Buat kesan seolah-olah produk kita adalah produk gagal yang melenceng dari standar industri. Buat caption: 'Jangan Unduh AI Ini Kalau Mental Anda Lemah'. Biarkan publik mengejek kita!"
Siska tertekan. "Tapi Pak, reputasi kita"
"Lakukan saja!"
Reno pulang ke rumahnya malam itu dengan perasaan luar biasa bahagia. Dalam hitungan hari, 50 miliar lenyap, reputasi hancur, dan tidak akan ada investor yang mau menyentuh AetherAI. 100.000 Triliun sudah di depan mata!
Minggu Ke-3: Ada yang Salah...
Dua puluh hari berlalu. Reno sedang menikmati kopi pagi sambil membayangkan membeli pulau pribadi, ketika tiba-tiba pintu ruangannya didobrak.
Dian dan Siska masuk dengan wajah merah padam dan napas terengah-engah.
"Ada apa?!" Reno kaget. Apakah juru sita pajak sudah datang? Apakah kita resmi bangkrut?!
"Pak Reno... Anda luar biasa! Anda benar-benar jenius tanpa tanding!" teriak Dian sambil mengangkat tabletnya.
"Hah? Maksudnya?"
Siska menyambar tablet tersebut dan memperlihatkan layarnya. "Iklan 'anti-marketing' yang Anda perintahkan malah jadi Viral Global! Video AI kita yang gosting pengguna ditonton 500 juta kali di TikTok dan X!"
"A-apa?!" Reno tersedak kopinya.
"Netizen menganggap AI kita sebagai 'AI Paling Manusiawi dan Menghibur dalam Sejarah'. Gen-Z dan Milenial bosan dengan AI kaku yang selalu sopan. Mereka justru bayar berlangganan premium hanya untuk adu argumen dan dicuekin sama AI kita!" lanjut Siska histeris.
Dian menimpali dengan mata berbinar. "Bukan cuma itu, Pak! Raksasa teknologi dunia, GigaTech, baru saja menandatangani kontrak lisensi eksklusif sebesar USD 2 Miliar (Rp 31 Triliun) untuk memasukkan algoritma 'Emotion-AI' milik kita ke dalam robot pendamping lansia dan gim VR mereka! Mereka bilang ini adalah terobosan terbesar dalam dekade ini!"
Layar transparan Sistem mendadak muncul di depan mata Reno, berkedip merah terang:
[PERINGATAN SISTEM]
- Aset AetherAI melonjak 6000%.
- Estimasi Waktu Kebangkrutan: IMPOSSIBLE (0%).
- Sisa Waktu Misi: 10 Hari.
- Peringatan: Risiko kegagalan misi sangat tinggi!
Reno mematung. Cangkir kopinya terlepas dari genggaman dan jatuh berkeping-keping di lantai.
"Pak Reno? Kenapa Anda menangis? Apakah Anda terlalu terharu dengan kesuksesan ini?" tanya Siska prihatin melihat air mata menetes di pipi sang CEO.
Reno menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong.
"Seratus ribu triliunku... melayang..." bisiknya lirih.
Bagaimana menurutmu? Apakah kamu ingin melanjutkannya ke Bab 2 (di mana Reno mencoba cara yang lebih ekstrim untuk menghabiskan uang 31 Triliun dalam waktu 10 hari tersisa)?