Reno terduduk di kursi kebesarannya sambil menatap langit-langit ruangan. Lampu gantung kristal di kantornya yang mewah seolah-olah sedang mentertawakan nasibnya.
Di layar melayang di depannya, angka indikator Status Misi berwarna merah menyala dan berkedip-kedip panik.
[SISTEM KEBANGKRUTAN MAHA KAYA]
- Sisa Waktu: 10 Hari (240 Jam)
- Total Aset AetherAI: Rp 31,05 Triliun (Hasil Lisensi GigaTech + Langganan Premium)
- Target Saldo Akhir: Rp 0 (Kebangkrutan Total)
- Status Misi: CRITICAL EMERGENCY!
"Tiga puluh satu triliun..." gumam Reno dengan mata kosong. "Bagaimana caranya membuang tiga puluh satu triliun dalam sepuluh hari tanpa melanggar hukum?!"
Jika ia mencuri uang itu atau mentransfernya ke rekening pribadi, Sistem akan mendeteksi pelanggaran aturan dan menghapus kesempatannya selamanya. Semua pengeluaran harus berbentuk biaya operasional, investasi, atau keputusan bisnis yang sah.
Reno menarik napas dalam-dalam. Matanya tiba-tiba berbinar.
Tentu saja! Kenapa aku tidak memikirkan ini dari kemarin? batinnya. Cara tercepat membakar uang perusahaan adalah dengan fasilitas karyawan yang tak masuk akal dan proyek R&D berisiko tinggi yang 100% pasti gagal!
Reno segera memencet tombol interkom di mejanya. "Siska, Dian, rapat darurat di ruanganku. SEKARANG!"
Taktik 1: Kesejahteraan Karyawan yang Absurd
Lima menit kemudian, Dian dan Siska sudah berdiri rapi di depan meja kerja Reno. Wajah mereka berseri-seri, masih dalam suasana euforia kemenangan atas kesepakatan bernilai triliunan rupiah dengan GigaTech.
"Pak Reno, apakah kita akan membahas pembukaan cabang baru di Lembah Silikon?" tanya Siska penuh semangat.
"Bukan," jawab Reno dingin. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan, mencoba berakting seperti pemimpin yang berwibawa. "Pencapaian kita baru-baru ini menunjukkan satu hal: karyawan kita terlalu bekerja keras. Sebagai CEO yang beretika, saya tidak bisa membiarkan hal ini."
Dian terenyuh. "Pak Reno... Anda memperhatikan kesehatan mental kami?"
"Tentu saja!" Reno menepuk meja. "Mulai hari ini, saya memberlakukan kebijakan baru:
- Gaji seluruh karyawan dinaikkan 1.000% (10 kali lipat).
- Jam kerja dikurangi menjadi 2 jam sehari, sisanya wajib main gim atau tidur.
- Fasilitas Kantor Baru: Saya akan menyewa tiga lantai teratas di gedung pencakar langit paling mahal di pusat kota. Sediakan koki bintang tiga Michelin untuk makan siang gratis, tukang pijat profesional stanby 24 jam, dan ruang gim berisi konsol tercanggih untuk setiap staf!"
Siska terperangah. Matanya membelalak lebar. "P-Pak Reno! Menaikkan gaji 10 kali lipat?! Itu akan membengkakkan biaya operasional harian kita hingga ratusan miliar per bulan!"
Iya, betul sekali! Habiskan uang itu cepat! jerit Reno girang dalam hati.
Namun sebelum Siska sempat memprotes lebih jauh, Dian justru memotong dengan nada bergetar penuh haru.
"T-Tunggu dulu, Mbak Siska..." Dian menatap Reno dengan tatapan menyembah. "Ini... ini adalah penerapan metode 'Ultra-Wellbeing Productivity' yang pernah diteliti oleh pakar sains perilaku dari Harvard! Dengan memberikan kenyamanan tingkat tertinggi dan mengurangi beban kerja secara drastis, tingkat stres karyawan turun ke angka nol, yang justru menstimulasi kreativitas otak kanan hingga 500%!"
Reno menegang. Hah? Teori dari mana itu?! Aku cuma asal ceplos!
"Bukan cuma itu, Pak!" lanjut Siska tiba-tiba sadar, matanya berbinar-binar. "Jika berita ini tersebar, perusahan kita akan dinobatkan sebagai 'The Best Company to Work For' nomor satu di dunia! Seluruh talenta jenius dari Google, OpenAI, dan Meta pasti akan mengundurkan diri dan memohon-mohon untuk bekerja di AetherAI secara gratis!"
Reno: "..."
Taktik 2: Proyek R&D Paling Tidak Berguna di Dunia
Melihat Taktik 1 sepertinya belum cukup tajam untuk menghabiskan 31 Triliun dalam 10 hari, Reno langsung meluncurkan Taktik 2 yang menjadi kartu truf-nya.
"Ehem! Baik, masalah fasilitas sudah selesai," potong Reno cepat sebelum mereka berdua makin berimajinasi. "Sekarang, untuk urusan R&D. Dian, aku punya proyek baru. Proyek ini harus menyerap sisa anggaran kita sebesar Rp 30 Triliun dalam waktu satu minggu."
Dian tersentak. "Tiga puluh triliun dalam seminggu?! Proyek apa itu, Pak? Apakah kita akan membangun supercomputer penerobos batas fisika?"
"Lebih hebat dari itu!" Reno tersenyum penuh kemenangan. "Aku ingin kamu mengembangkan 'AI Penerjemah Bahasa Hewan Peliharaan'."
Suasana ruangan mendadak hening.
"Bahasa... hewan peliharaan?" ulang Dian pelan.
"Benar! Kucing, anjing, hamster, hingga ikan mas hias!" jawab Reno berapi-api. "Beli jutaan sampel suara Gonggongan dan Meongan, sewa satelit komunikasi khusus, dan bangun pusat pemrosesan data di tengah gurun. Fokuskan seluruh dana 30 Triliun itu untuk menerjemahkan apa yang dipikirkan ikan mas hias saat berenang melingkar di dalam akuarium!"
Reno tertawa jahat dalam hati. Ikan mas hias cuma punya ingatan 3 detik! Apa yang mau diterjemahkan?! Proyek ini tidak mungkin menghasilkan uang satu rupiah pun! Murni pemborosan 30 Triliun!
Siska menatap Reno dengan pandangan tidak percaya. "Pak Reno, apakah ada pasar untuk terjemahan ikan mas?"
"Pasar? Kita tidak butuh pasar! Ini adalah eksplorasi sains murni!" tegas Reno. "Dian, bisakah kamu menghabiskan 30 Triliun untuk proyek ini dalam 7 hari?"
Dian menarik napas dalam-dalam, mengoreksi posisi kacamatanya yang melorot. Wajahnya menunjukkan kepasrahan sekaligus kekaguman yang luar biasa.
"Pak Reno... visi Anda begitu dalam hingga melampaui batas antroposentrisme manusia. Anda tidak lagi memikirkan bisnis, tapi ingin menghubungkan kesadaran spesies manusia dengan alam semesta. Baik! Saya akan sewa seluruh superkomputer di lima benua untuk memproses data bio-akustik ini sekarang juga!"
Hari Ke-28: Menjelang Detik-Detik Terakhir
Tujuh hari berlalu dengan sangat cepat.
Reno memantau laporan keuangan perusahaan dari kamar hotel mewahnya. Senyum lebar mengembang di wajahnya. Strateginya berhasil!
Uang 31 Triliun itu mengalir deras seperti air terjun:
- Sewa Superkomputer & Satelit: Melayang Rp 25 Triliun.
- Gaji Karyawan & Fasilitas Michelin: Melayang Rp 4 Triliun.
- Pusat Data Gurun: Melayang Rp 1,8 Triliun.
Sisa saldo di rekening AetherAI sekarang tinggal Rp 200 Juta!
"Haha! Hahaha! Berhasil!" Reno menari-nari kecil di atas karpet. "Tinggal dua hari tersisa! Dengan gaji karyawan baru yang fantastis besok, saldo perusahaan akan minus atau pas nol! Hadiah 100.000 Triliun akan jadi milikku!"
Tiba-tiba, ponsel Reno berdering keras. Nama Dian tertera di layar.
Reno mengangkatnya dengan nada santai. "Ya, Dian? Ada masalah dengan proyek ikan mas-nya? Superkomputernya meledak? Bagus kalau begitu"
"PAK RENO! AJAIB! INI AJAIB BUKAN MAIN!" teriak Dian dari balik telepon, suaranya hampir pecah karena histeris.
Jantung Reno mendadak berhenti berdetak. "A-apa yang ajaib?"
"AI Penerjemah Hewan yang kita buat... saat kita coba hubungkan ke sinyal bio-akustik paus di samudra lewat satelit baru kita... AI-nya secara tidak sengaja mengurai dan memetakan pola gelombang seismik kerak bumi!"
"M-maksudmu apa?!" pekik Reno, keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"AI kita baru saja memprediksi lokasi titik minyak bumi dan gas alam raksasa baru di lepas pantai yang selama ini tak terdeteksi oleh geologis mana pun di dunia!" kata Dian penuh kemenangan. "Kementerian Energi dan Konsorsium Minyak Internasional baru saja mentransfer DP kontrak pembelian lisensi data seismik kita..."
Dian jeda sejenak untuk mengambil napas.
"...sebesar USD 10 Miliar (Rp 155 Triliun) tunai ke rekening perusahaan kita lima menit yang lalu, Pak!"
BIP.
Layar Sistem mendadak muncul secara paksa di depan wajah Reno, memancarkan cahaya merah pekat yang menyilaukan mata:
[PERINGATAN SISTEM]
- Saldo Terbaru AetherAI: Rp 155,000,200,000,000 (155 Triliun)
- Tingkat Kebangkrutan: -99999%
- Sisa Waktu Misi: 48 Jam.
- Status: ANDA BERADA DI AMBANG KEGAGALAN TOTAL!
Telepon genggam di tangan Reno terlepas, jatuh meluncur ke bawah tempat tidur.
Reno berlutut di lantai, meremas rambutnya sendiri dengan wajah penuh keputusasaan.
"PAUS?! KENAPA HARUS PAUS?! AKU KAN CUMA SURUH TRANSLATE IKAN MAS!!!" jerit Reno menembus langit malam.