Reno berbaring telentang di atas karpet suite hotelnya, menatap kosong ke arah langit-langit. Di udara, panel transparan milik Sistem berkedip-kedip kian pekat, memancarkan angka yang rasanya ingin Reno hapus dari ingatan:
[SISTEM KEBANGKRUTAN MAHA KAYA]
- Sisa Waktu: 48 Jam (2 Hari)
- Saldo Kas AetherAI: Rp 155,000,200,000,000 (155 Triliun)
- Target Saldo: Rp 0
- Status Misi: EXTREME DANGER!
155 Triliun. Angka yang cukup untuk membeli sebuah klub sepak bola liga top Eropa lengkap dengan seluruh staf dan stadionnya, kini mengendap manis di rekening operasional AetherAI. Semua itu gara-gara paus di samudra yang 'curhat' lewat gelombang seismik!
"Tidak... aku belum kalah," bisik Reno, mengepalkan tangannya. "Masih ada empat puluh delapan jam. Selama batas waktu belum habis, aku masih punya peluang untuk membakar 155 Triliun ini!"
Tetapi bagaimana caranya? Kalau ia membuat proyek AI konyol lagi, jangan-jangan AI itu malah bisa menemukan benua hilang Atlantis atau cara berteleportasi. Reno tidak boleh lagi meremehkan ketidakberuntungan tingkat dewa yang dialaminya.
Ia butuh sebuah rencana yang begitu buruk, begitu mahal, dan begitu tidak masuk akal, sampai-sampai sains dan keberuntungan pun tidak bisa menyelamatkannya.
Rencana "Proyek Lubang Hitam"
Dua jam kemudian, Reno sudah berdiri di depan papan tulis raksasa di ruang rapat utama AetherAI. Di hadapannya, Dian, Siska, dan belasan manajer divisi baru duduk dengan buku catatan terbuka. Karyawan-karyawan ini tampak segar dan berseri-seri, efek dari naik gaji 10 kali lipat dan fasilitas koki Michelin.
"Teman-teman," buka Reno dengan ekspresi paling serius yang bisa ia raut. "Uang 155 Triliun dari Konsorsium Minyak hanyalah batu loncatan kecil. Kita tidak boleh cepat puas."
Dian mengangguk khidmat. "Tentu saja, Pak Reno! Visi Anda selalu melampaui imajinasi kami. Apa langkah spektakuler kita berikutnya?"
Reno menarik napas, lalu menulis satu kata besar di papan tulis: AETHER-METAVERSE REALITY (AMR).
"Saya ingin kita menginvestasikan seluruh 155 Triliun ini secara serentak ke dalam pengembangan Metaverse," kata Reno mantap.
Siska mengerutkan dahi, tampak ragu. "Pak Reno... bukankah tren Metaverse sudah mati sejak beberapa tahun lalu? Perusahaan-perusahaan raksasa dunia bahkan sudah merugi puluhan miliar dolar di bidang itu dan meninggalkannya."
Tepat sekali, Siska! Kamu pintar sekali! jerit Reno dalam hati, kegirangan. Itu industri kuburan modal! Tempat di mana uang triliunan berubah jadi abu tanpa bekas!
"Justru karena semua orang menganggapnya mati, di situlah peluang kita!" tangkis Reno cepat. "Tapi kita tidak membuat Metaverse biasa. Saya ingin kita membeli jutaan hektar Lahan Digital Kosong di platform-platform VR yang sudah mati dan ditinggalkan penggunanya!"
Dian terperangah. "Membeli tanah digital di platform yang sudah tidak ada penggunanya?!"
"Benar! Kita beli semuanya dengan harga fantastis dari para pemilik platform tua itu. Lalu, kita sewa seluruh aset server VR terlantar di dunia hanya untuk merender simulasi... batu bata."
"Batu bata?" ulang Siska dengan mata terbelalak.
"Ya! Hanya batu bata digital yang diam dan tidak bisa melakukan apa-apa. Tanpa gim, tanpa avatar, tanpa fitur sosial, tanpa transaksi. Hanya grafik batu bata kualitas 8K yang bisa dilihat dari berbagai sudut," jelas Reno tajam. "Alokasikan seluruh 155 Triliun untuk biaya akuisisi server mati dan pemeliharaan batu bata digital ini selama 24 jam ke depan!"
Ruangan rapat mendadak hening total.
Reno tersenyum puas. Kali ini tidak ada celah!
- Tren Metaverse sudah mati $\rightarrow$ Tidak ada peminat.
- Membeli aset di platform terlantar $\rightarrow$ Uang melayang ke pemilik lama tanpa bisa kembali.
- Produknya cuma batu bata $\rightarrow$ Tidak ada nilai guna, tidak bisa dijual lagi, dan tidak ada pemicu penemuan ilmiah tak terduga!
Ini adalah pemborosan sempurna. Murni buang uang ke lubang hitam!
Dian menatap papan tulis dengan mata berkedip-kedip. Perlahan, tangannya yang memegang pena mulai gemetar. Nafasnya menajam.
"P-Pak Reno..." bisik Dian, suaranya bergetar hebat. "Apakah... apakah Anda sedang menerapkan filosofi 'Digital Nihilism' dan Proof of Compute generasi baru?!"
Reno membeku. "Hah? Filosofi apa?!"
Dian berdiri dari kursinya, matanya memancarkan kekaguman yang teramat sangat. "Dunia teknologi saat ini terlalu bising dengan fitur-fitur rumit yang membuat stres! Dengan menghabiskan daya komputasi raksasa HANYA untuk merender sebuah objek paling murni dan paling stabil di alam semesta, yaitu batu bata, Anda sedang menciptakan Standar Kriptografik Baru! Batu bata itu bukan sekadar gambar... itu adalah Digital Gold Standard yang tidak bisa diretas!"
"Bukan! Itu cuma batu bata!" teriak Reno panik.
"Tidak usah rendah hati, Pak!" sela Siska yang tiba-tiba melompat berdiri, matanya berbinar-binar. "Saya baru sadar! Ini adalah bentuk seni konseptual tertinggi! 'The 155-Trillion Dollar Digital Brick'. Media massa global pasti akan gempar! Seniman, investor barang mewah, dan pengkoleksi NFT akan berebut untuk memiliki bagian dari batu bata ini!"
"Tunggu! Siska, Dian, dengarkan aku dulu"
"Tim Marketing! Hubungi Christie's dan Sotheby's! Kita lelang hak milik batu bata digital ini malam ini juga!" perintah Siska tanpa menghiraukan Reno.
"Tim R&D! Kunci servernya dan sambungkan ke jaringan blockchain paling aman!" teriak Dian tak kalah antusias.
Reno berdiri terpaku di depan papan tulis, sementara seluruh stafnya berlarian keluar ruangan dengan penuh semangat juang.
"Tidaaak... ini salah paham! Ini murni batu bata biasa!" ratap Reno, tapi suaranya tenggelam di tengah hiruk-pikuk semangat anak buahnya.
12 Jam Menuju Batas Waktu
Malam harinya, Reno duduk di sudut ruang kerjanya yang gelap. Ia tidak berani menyalakan TV, tidak berani membuka media sosial, dan menyembunyikan ponselnya di dalam laci yang dikunci.
Ia hanya menatap jam dinding yang berdetak pelan.
Tinggal 12 jam lagi, batin Reno pasrah. Semoga tidak ada yang beli batu bata gila itu. Siapa orang bodoh yang mau beli gambar batu bata seharga triliunan?!
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka perlahan. Siska dan Dian masuk dengan langkah perlahan.
Reno menatap mereka dengan sisa-sisa harapan. Dari raut wajah kedua bawahannya yang tampak pucat dan tanpa suara, Reno merasakan sesuatu yang berbeda.
"Siska... Dian..." panggil Reno pelan. "Bagaimana lelang batu batanya?"
Dian menunduk, tidak berani menatap mata Reno. Siska menggigit bibirnya, memegang sebuah map dokumen dengan tangan yang bergetar.
"Pak Reno..." kata Siska lirih. "Kami... kami minta maaf."
Jantung Reno melonjak gembira. Apakah tidak ada yang beli?! Apakah uang 155 Triliun itu resmi hangus terbeli server mati?!
"Kenapa minta maaf?!" seru Reno, berusaha menahan cengirannya. "Apakah lelangnya gagal total?! Apakah tidak ada satu orang pun yang mau menyentuh proyek batu bata itu?!"
Dian menghela napas berat. "Bukan tidak ada yang beli, Pak... tapi..."
Siska menyerahkan map tersebut ke meja Reno.
"Seorang konsorsium pengusaha properti global dan miliarder teknologi dari Timur Tengah... menganggap batu bata digital kita sebagai 'Simbol Status Tertinggi di Dunia Cyber'. Mereka terlibat perang penawaran yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia..."
Napas Reno mendadak tertahan. "L-Lalu?"
"Batu bata digital itu... baru saja terjual lelang," kata Siska dengan suara tercekat. "Seharga USD 50 Miliar (Rp 775 Triliun)."
BLEEP! BLEEP! BLEEP!
Panel Sistem meledak di depan wajah Reno dengan warna merah darah yang begitu menyilaukan hingga menerangi seluruh ruangan yang gelap:
[PERINGATAN SISTEM: MISI GAGAL TOTAL!]
- Saldo Kas AetherAI: Rp 930,000,000,000,000 (930 Triliun)
- Batas Waktu: 00:00:00 (Misi Berakhir)
- Hasil Akhir: Perusahaan mencetak keuntungan sebesar +600.000%.
- Hukuman Ditentukan: Anda gagal membangkrutkan perusahaan.
- Penyesuaian Hak CEO: Hadiah 100.000 Triliun DIBATALKAN. Anda resmi dikunci pada Gaji Pokok CEO sebesar Rp 5.000.000 / bulan (tanpa bonus) selamanya.
"Gaji... lima juta..." gumam Reno.
Dian melangkah maju, menepuk bahu Reno dengan penuh rasa hormat dan haru.
"Pak Reno, jangan sedih karena proyek batu bata itu sudah terjual. Saya tahu Anda kecewa karena dunia terlalu cepat mengomersialkan karya seni murni Anda. Tapi lihat sisi positifnya... Anda baru saja menjadikan AetherAI sebagai perusahaan paling berharga di muka bumi!"
"Iya, Pak!" tambah Siska dengan mata berkaca-kaca. "Seluruh papan direksi dan pemegang saham telah sepakat... atas kejeniusan Anda yang tiada tanding, Anda diangkat menjadi CEO Abadi AetherAI! Anda tidak akan pernah bisa dipecat atau mengundurkan diri!"
Reno menatap kedua bawahannya. Lalu menatap laporan saldo perusahaan sebesar 930 Triliun. Lalu menatap dompet pribadinya yang hanya berisi beberapa lembar uang kertas untuk gaji lima jutanya bulan ini.
Ia adalah pemimpin dari perusahaan paling kaya dalam sejarah peradaban manusia, menguasai teknologi masa depan, disembah oleh para miliarder dunia...
...tapi ia sendiri harus bertahan hidup dengan uang 5 juta rupiah per bulan.
Reno menyandarkan punggungnya ke kursi CEO-nya yang terlalu empuk, menatap kosong ke luar jendela menara pencakar langitnya, dan akhirnya... tertawa tawa histeris yang menggema di seluruh ruangan.
"Lima juta..." gelak Reno sambil meneteskan air mata. "Lumayan... masih bisa beli mie instan satu dus..."
-- TAMAT --