1

Pelarian dari Lorong Gelap

1 min baca · 148 kata ·
27 Agustus 2026

Bau semen basah dan karat besi menguasai udara, menusuk hidungku hingga paru-paruku terasa terhimpit. Di lorong tua yang remang-remang ini, gema langkah kaki para penyandera kian kencang membuntutiku dari kegelapan. Dadaku sesak, berdegup liar layaknya genderang perang. Ketika kakiku mendadak membatu di depan pintu kayu raksasa, rasa takut melumpuhkan seluruh keberanianku. Aku memilih meringkuk di bilik gelap, bersembunyi sambil menahan napas dalam kepanikan. Namun, sebuah dorongan nekat yang entah dari mana asalnya menggerakkan badanku. Aku melesat keluar dari persembunyian, berlari membabi buta menembus lorong sepi itu.


Seketika kepalaku berputar hebat. Sensasi aneh melingkupiku saat pandanganku mengabur—kacamata minusku tertindih kaku oleh kacamata renang. Angin dingin menerpa wajah dan mendadak aku meluncur di atas perosotan air raksasa. Di sisiku, seorang wanita berwajah tenang membimbingku melakukan posisi floating. Namun, sebelum sempat kupahami, cairan hitam tebal meletup dari dasar air, membelit pergelangan kakiku dan menarik kami berdua jatuh ke dalam kedalaman misterius.