Anehnya, bukannya tenggelam dan tersedak, aku justru bisa bernapas lega di balik himpitan air. Wanita itu menggenggam tanganku, menuntunku melintasi koridor kaca yang berkilauan menuju sebuah dapur istana yang megah namun mencekam. Seorang koki wanita bertubuh tinggi sedang mengaduk adonan ungu pekat yang membubung busa. "Adonan ini terbuat dari sisa-sisa ingatan mereka yang tenggelam dalam ketakutan," bisiknya dingin. Tanpa ragu, wanita di sisiku menepis nampan panas milik sang koki hingga terhempas pecah berantakan. Jeritan murka sang koki memecah kesunyian; puluhan pisau dapur tajam melayang di udara, mengincar nyawa kami.
Kami berlari sekuat tenaga menembus pintu emas berlapis ukiran, menyelinap cepat ke dalam sebuah kamar beranjang ganda. Di atas salah satu kasur, seorang pria tampak tertidur lelap. Di momen yang menegangkan itu, aku baru menyadari bahwa wanita yang melindungiku ini adalah seorang Ratu. Dengan lembut namun sigap, ia menyembunyikan diriku di pojok kasur kosong, lalu merentangkan tangannya sebagai perisai hidup.