3

Perlindungan Sang Raja dan Kesadaran

1 min baca · 158 kata ·
27 Agustus 2026

Pintu kayu dihantam keras hingga jebol berkeping-keping. Sang koki menerobos masuk dengan pisau-pisau yang masih menari di udara. Pada saat yang sama, kelopak mata pria di kasur sebelah terbuka perlahan. Sang Raja duduk tenang, memancarkan aura dingin yang menghentikan waktu. "Kau melupakan batasmu, Koki," suara sang Raja berat dan bergema halus, menembus kedalaman air. "Siapa pun yang dipagari oleh Ratuku di kamar ini... berada di bawah perlindunganku sepenuhnya." Hanya dengan satu kibasan jemarinya, pisau-pisau tajam itu seketika meleleh, berubah menjadi ratusan gelembung sabun yang berkilauan indah sebelum akhirnya sirna.


Sang koki mematung, merayap mundur lalu hilang menembus kegelapan. Sang Ratu menoleh padaku, perlahan melepaskan kacamata renang dari wajahku. "Air di sini menyerap semua ingatan yang kamu bawa," bisiknya hangat. "Aku melihat ketakutanmu di lorong... dan keberanianmu untuk bangkit." Pandanganku melebur dalam pusaran air hangat yang mengangkatku menembus bayangan koridor tua. Saat kelopak mataku terbuka, aku terbangun di atas kasurku sendiri, meraba wajah yang tenang tanpa sisa kacamata ganda.