2

Bayangan Awan Hitam

2 min baca · 259 kata ·
09 Agustus 2026

Kehidupan di Koloni Aethel berjalan dalam irama metabolisme yang harmonis. Bibo belajar menyerap glukosa, mengolahnya melalui jalur glikolisis, dan melepaskan energi untuk memperkuat dinding selnya. Ia berkenalan dengan Zea, sebuah sel Lactobacillus betina, jika konsep itu bisa disematkan pada organisme membelah diri yang tinggal dua mikron di sebelah kirinya. Zea ahli dalam membangun matriks ekstraseluler, semacam 'semen' biologis yang merekatkan sel-sel dalam koloni menjadi benteng biofilm yang kokoh.

"Jika kita berhasil memperluas biofilm ini sampai ke lekukan serat nomor tiga," ujar Zea suatu ketika saat mereka sedang bertukar plasmid informasi genetika, "koloni kita akan cukup kuat untuk menahan kekeringan musim panas."

"Apakah ada yang lebih menakutkan dari kekeringan?" tanya Bibo.

Zea menghentikan aktivitas sintesis proteinnya sejenak. "Tetua Kael pernah bercerita tentang Tangan Besar. Kadang-kadang, langit di atas kita menjadi gelap, dan hujan beracun turun tanpa peringatan."

Bibo tertawa kecil melalui getaran cairan. "Kau terlalu banyak mendengarkan mitos kuno, Zea. Langit hanyalah udara kosong."

Namun, ucapan Bibo menguap begitu saja ketika sebuah gelombang tekanan dahsyat tiba-tiba menghantam Benua Silika.

Getaran itu bukan berasal dari molekul air biasa. Ia begitu masif, seperti gumpalan gunung yang jatuh dari langit. Cahaya mikroskopis yang biasanya menembus celah-celah kayu mendadak redup total. Sebuah bayangan merah muda berserat kulit manusia menutup sebagian besar wilayah Koloni Aethel selama beberapa milidetik.

Lalu, bau itu datang. Bau kimia yang belum pernah Bibo rasakan sebelumnya: tajam, dingin, dan menusuk hingga ke dalam inti DNA-nya.

"Sinyal Merah! Alkohol 70 persen!" jerit Kael melalui pendaran senyawa kimia darurat yang memenuhi udara. "Semua sel, kunci matriks! Aktifkan pompa efluks! Berlindung di celah terdalam!"