Kael merayap mendekati Bibo, lalu menempelkan permukaannya ke dinding sel Bibo yang retak, membagikan sedikit molekul asam amino untuk membantu proses perbaikan tubuh Bibo.
"Dengar baik-baik, Bibo," kata Kael, pandangan sensoriknya menatap lurus ke arah cakrawala meja yang luas. "Manusia berpikir mereka telah membersihkan dunia ini. Mereka berpikir alkohol dan zat kimia bisa menghapus keberadaan kita selamanya. Namun mereka lupa satu hal."
"Apa itu?"
"Kita telah ada di planet ini tiga miliar tahun sebelum tangan pertama mereka tercipta. Kita belajar bertahan hidup dari gumpalan magma, dari lautan asam, dan dari atmosfer tanpa oksigen. Pembersih tangan hanyalah badai kecil dalam sejarah panjang bangsa kita."
Kael menunjuk ke arah celah-celah kayu lain di sepanjang permukaan meja. Dari kegelapan retakan-retakan tersebut, satu per satu sel yang selamat mulai bermunculan. Bakteri-bakteri dari bangsa lain, bahkan beberapa Staphylococcus yang dulunya adalah musuh, kini merayap keluar dalam semangat bertahan hidup yang sama.
Kelembapan udara mulai mengendapkan kembali molekul-molekul nutrisi baru di atas kayu. Mikro-droplet air membawa jejak gula yang baru jatuh dari udara.
Bibo merasakan protein di dalam dirinya merespon nutrisi tersebut. Dinding selnya yang retak mulai menutup kembali. DNA di dalam nukleoidnya mulai membuka lipatannya, mengandakan diri dalam persiapan untuk proses yang paling mendasar dari kehidupan mereka.
"Lihat tubuhmu, Bibo," berbisik Kael. "Kau merasa memanjang?"
Bibo melihat tubuhnya sendiri. Ia memang tumbuh. Molekul-molekul glukosa baru yang diserapnya diolah dengan kecepatan luar biasa. Energi mengalir deras ke seluruh sitoplasmanya.
"Kehancuran mereka hanyalah jeda bagi kita," kata Kael. "Sekarang, lakukan tugasmu."
Bibo memejamkan sensor-sensor kimianya, merasakan cincin pembelahan mulai terbentuk tepat di tengah tubuhnya. Membran selnya memlekuk ke dalam, membagi sitsoplasma menjadi dua bagian yang seimbang. Dalam hitungan detik, rasa hangat yang dulu dirasakannya saat lahir kembali hadir kali ini, ia yang memberikannya kepada generasi berikutnya.
Plop.
Di sebelahnya, kini berdiri seekor Lactobacillus baru yang segar dan penuh vitalitas.
"Selamat datang di dunia, anakku," ujar Bibo melalui sinyal kimiawi yang tegas dan penuh kebanggaan. "Dunia ini luas, keras, dan penuh raksasa. Tapi ingatlah satu hal: kita adalah pemilik sejati dari tempat ini, dan kita tidak akan pernah bisa dimusnahkan."
Di atas meja kayu yang dianggap manusia telah steril dan bersih itu, jutaan pembelahan baru mulai terjadi dalam hening. Peradaban mikro tidak mati; mereka hanya sedang bersiap untuk menguasai Benua Silika sekali lagi.