Sebelum Bibo sempat mencerna perintah Kael, banjir cairan bening menyapu Benua Silika dengan kecepatan membunuh.
Bagi manusia, itu hanyalah satu semprotan hand sanitizer yang diusap dengan tisu. Namun bagi peradaban Aethel, itu adalah kiamat.
Senyawa etanol menyusup ke setiap sudut. Mekanismenya begitu brutal: molekul alkohol melarutkan lapisan lemak pada membran sel secara instan, menyedot air keluar dari sitoplasma, dan menggumpalkan protein-protein penting di dalam tubuh bakteri. Bibo melihat dengan mata kepalanya sendiri melalui sensor struktur bagaimana sel-sel di sekitarnya hancur. Dinding sel mereka retak, membran mereka robek, dan isi sel mereka meluap keluar, larut dalam cairan beracun tersebut.
"Zea!" teriak Bibo, mencoba menjangkau saudaranya.
Zea berada di area terbuka. Matriks biofilm yang dibangunnya terkikis dalam hitungan mikrodetik oleh daya larut etanol yang dahsyat. Dinding sel Zea mulai melengkung tak berdaya.
"Bibo... masuk ke dalam... serat..." suara sinyal Zea melemah saat protein pembawanya terdenaturasi satu per satu, hingga akhirnya selnya pecah menjadi serpihan molekul tak bernyawa.
"Tidak!" Bibo menjerit.
Sebuah dorongan gelombang menghempaskan Bibo dari pegangannya. Pili-pili bagian depannya putus. Dalam keputusasaan, ia melepaskan seluruh cadangan energinya untuk menggerakkan sisa flagelanya, melawan arus etanol yang membakar. Ia membedah jalan melewati runtuhan sel-sel kawannya yang telah mati, menuju sebuah retakan mikroskopis yang sangat dalam di dalam serat kayu jati tempat di mana cairan pembersih tidak bisa masuk karena tegangan permukaan.
Ia melemparkan dirinya ke dalam kegelapan retakan tersebut tepat saat sebuah usapan tisu raksasa menyapu permukaan meja, menyedot miliaran jiwa dan sisa-sisa peradaban Aethel ke dalam ketiadaan.