Sudah beberapa bulan kini aku menjalin hubungan dengan seseorang, kita bertemu saat KKN ( kuliah kerja nyata) aku kuliah sambil kerja. Namanya Wahyu kita berbeda jurusan. Aku sudah menyelesaikan kuliahku dan Wahyu harus menyelesaikan skripsinya.
"Pagi sayang 😁". Sapaku lewat pesan teks.
" Pagi juga". Balasnya.
Begitulah dia tak bisa romantis tapi dia humbel. Aku gak tau bisa memilih Wahyu sebagai kekasih. Mungkin selama kkn sering sapa sering komunikasi jadi bersatu.
"Agenda hari ini mau ngapain? Mau bimbingan atau mau reset?" Tanyaku.
" Gak mau ngapa-ngapain, mau santai dirumah dulu". Balasnya cuek.
" Kamu gak kerja to?" Timpa pesan belum aku balas.
" Iya ini kerja kok". Balasku singkat
" Dilanjutkan dulu kerjanya, hati- hati ya😊". Balasnya
Sepulang kerja aku balas pesannya, tapi tak ada balasan. Ku coba Telpon juga tak ada jawaban. Aku masih berpikir positif dan sabar, mungkin dia lagi pusing mikirin skripsi yang tak kunjung acc.
Saat aku terbangun dari tidurku ternyata pesan ku dibalas.
"Maaf lagi sibuk". Balasnya singkat.
Ku lihat dia online di sosmed Facebook maupun Instagram.
" Iya tak apa, sudah malam lebih baik istirahat ". Balasku.
Dan benar tak di balas lagi. Kini dia offline. Aku bingung kenapa akhir-akhir ini dia begini, ada apa dengan Wahyu.
Keesokan harinya pulang kerja kucoba kirim pesan.
" Kamu kenapa? Sakitkah?". Tanyaku.
" Tidak. Aku Alhamdulillah sehat. Kamu Sehat sehat ya, jangan lupa makan." Balasnya dengan perhatian.
" Akhir-akhir ini kamu berubah. Ada apa? Apa karna skripsi? Aku bisa bantu, coba cerita". Pintaku.
Aku tau si Wahyu gak mau buat aku khawatir dia pendam sendiri kebingungannya, kalau tak aku bujuk tuk cerita tak akan mau cerita.
" Aku hanya ingin fokus buat skripsi saja". Balasnya
" Ya sudah, kalau mau cerita atau butuh bantuan bilang saja ya sayang". Aku masih memperhatikannya.
" Aku gak pantas kamu panggil sayang". Balasnya
" Maksud kamu apa?". Aku bingung dengan balasannya, ini beneran atau hanya bercanda guramku.
" Kita sudahi saja ya. Aku gak pantas buat kamu, kamu terlalu baik". Balasnya membuatku bingung.
" Aku punya salah apa? Kalau kamu capek istirahat dulu besok saja dilanjutkan lagi". Aku meneteskan air mata sampai tak bisa terpejam lagi.
Siangnya kucoba lihat tak ada pesan dari Wahyu.
" Kamu beneran?" Ku meyakinkan dirinya lagi.
" Iya." Balasnya singkat.
" Mungkin ini pilihanmu aku gak bisa memaksamu. Aku hanya berpesan semangat untuk mengerjakan skripsinya agar cepat lulus dan bisa mencari pekerjaan yang lebih baik". Balasku.
" Ini yang aku tak pantas buat kamu. Kamu terlalu baik ke aku. Aku takut hubungan ini sampai jauh. Aku belum punya apa-apa."Jelasnya.
" Kamu berpikiran tentang aku apa?" Tak kusangka akan berakhir seperti ini.
" Nanti ada saatnya kamu tahu semuanya". Balasnya.
Setelah saat itu nomonya aku blokir serta semua sosmednya.
Hari hari ku berjalan seperti biasanya. Aku coba buat status di Facebook ternyata ada pesan masuk dari Adi.
" Fat." Pesan masuk.
" Eh iya di. Ada apa?" Balasku.
" Aku kira sudah gak aktif lagi ini sosmed, kenapa galau?" Tanyanya.
" Oh tak apa biasalah di. Eh gimana kamu sama Reka jadi menikah?". Tanyaku balik.
"Aku sudah tak bersamanya lagi fat. Sudah lama." Balasnya.
" Masak sih.. kok bisa?" Kepo nya diriku.
"Memilih yang lain dia." Balasnya singkat.
Hari berganti hari Sejak saat itu, aku mulai dekat lagi dengan Adi.
Kedua orangtuaku selalu menanyakan kapan aku menikah. Aku tak berpikiran sampai jenjang pernikahan. Aku hanya ingin mencari pekerjaan yang cocok untukku. Mencoba memperbaiki diri yang lebih baik lagi syukur bisa ketemu jodoh yang bisa membimbingku ke jalan yang benar.
Setiap hari ditanyai punya pacar tidak? Kapan nikah? Selalu dibanding-bandingkan dengan teman-temanku yang sudah menikah. Aku muak, aku benci selalu dibanding-bandingkan sampai saat itu aku bernazar, sebelum usiaku 25 tahun ada seseorang yang mau ngajak aku menikah aku akan jawab iya mau.
Hari berganti hari, aku dekat dengan Adi hanya sebatas teman atau bisa dibilang TTM ( Teman Tapi Mesra) dan sebatas pembeli pulsa saat urgent.
"Selamat berbuka puasa." Pesan masuk dari Adi
"Iya selamat buka puasa juga". Balasku. Biasa kalau aku sif siang selalu dikabari kalau waktunya berbuka puasa.
Dan perhatian kecil selalu di berikan Adi ke aku, hingga aku sudah tak mengaharapkan Wahyu lagi.
Lebaran idul Fitri telah tiba, maaf maafan dengan sanak saudara.
"Minal aidzin wal faidzin fat," pesan dari Adi.
" Iya aku juga minal aidzin wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin" balasku
" Lebaran mau kemana, Fat?" Tanyanya.
" Kerumah saudara dan kerumah temen- temen, Di." Jawabku
" Misal aku main kerumahmu boleh?" Tanyanya
Aku kaget ini orang beneran apa tidak ya, guramku. Mau aku tentang tapi ini lebaran gimana ya aku harus menjawabnya.
" Hari apa kamu mau main?" Ku coba tanya si Adi.
" Kamu di rumah hari apa?" Balasnya tanya.
" Aku sibuk loh. Mau kesana kesini." Ngelesnya aku.
" Mau kemana, mau aku antar?" Tawarnya.
" Bener mau nganter aku?" Balasku cepat.
" Iya, kamu mau kemana? Hari apa?" Balasnya.
" Hari Rabu ikut aku ke rumah temanku waktu SMA." Jawabku.
" Oke." Balasnya.
Hari Rabu telah tiba. Aku lupa kalau si Adi gak tau rumah aku. Ku kasih MAP ternyata tidak bisa baca MAP. Ku telpon ku kasih arahan menuju rumahku. Setelah sekian lama aku tidak pernah memperbolehkan seorang laki-laki main kerumah.
Sesampainya dia cerita kalau tadi muter-muter di gangku, dan aku balas tertawa saja.
" Malah ketawa" sambil melirikku.
" Aku kira kamu bisa baca MAP. Maaf deh maaf ya." Sambil ketawa dan sambil menunjuk kedalam rumah.
" Kok sepi pada kemana?" Tanyanya.
" Ibu dan bapak pada di sawah, dan adekku sudah pergi sama teman-temannya". Balasku.
Sambil minum air putih dan kue lebaran yang di meja aku memberi kabar ke temanku ( Teman saat SMA ) yang hendak aku kunjungi. Terakhir ketemu saat COD jajan di depan Indomaret.
" Yuk kita pergi sekarang." Ajakku ke Adi.
" Kamu tau rumahnya kan?" Tanyanya.
" Iya tau. Tapi kalau nanti nyasar ya maklum ya hehehe". Sambil ketawa.
" Ya sudah yang penting temen kamu bisa dihubungi". Jawabnya.
Aku di boncengkan Adi menuju rumah temanku. Di perjalanan kita ngobrol ngalor ngidul sambil ketawa. Tak lama kita sampai dirumah temanku.
" Assalamualaikum murty" salamku.
" Waalaikumsalam fat. Aku kira sendiri, tenyata sama gandengan." Jawabnya sambil menyenggol bahuku.
" Ini temenku loh bukan siapa-siapa." Jawabku jujur karna memang Aku dan Adi tidak ada hubungan apapun.
" Bener mas?" Tanya ke Adi tuk menyakinkan.
" Hehehe ya gitu lah mbak." Sambil senyum dan melirikku.
Kita masuk dan makan minum yang di suguhkan temanku murty.
" Kamu orang mana mas?". Tanyanya murty ke Adi.
" Aku orang Tengel mbak." Jawab si Adi.
"Aku punya temen juga di sana namanya sri." Sambil mencari foto tuk di perlihatkan ke Adi.
" Ini fotonya, kamu kenal?" Sambil menunjukkan foto di Hp murty.
" Ini saudaraku mbak. Kok kenal mbak?". Tanyanya balik.
Aku bingung apa yang dibicarakan, coba kulihat foto nya juga.
" Ini temen aku waktu kuliah mas". Jawabnya murty.
Dunia sempit sekali, guramku.
Hampir 2 jam kita dirumah murty dan saatnya pulang, kulepas rinduku ke murty saat berpamitan pulang.
" Kalau nikah kabar kabar ya fat." Sambil nyolek pinggangku.
" Huss apaan sih mur." Sambil balas berjabat tangan.
"Bye bye murty. Assalamualaikum." Salamku ke murty.
" Monggo mbak". Sahutnya Adi.
" Waalaikumsalam, hati hati ya." Balasnya murty.
Di perjalanan pulang menuju rumahku, Aku gelisah dengan perkataanku saat aku bilang teman.
Sesampainya di rumah kedua orang tuaku masih belum pulang. Ku persilahkan Adi masuk dulu, kasian capek.
" Fat. Aku mau ngomong boleh? Tapi sini mendekatlah" Pintanya.
Pikirku sudah kemana-mana, apa dia tersinggung ya.
" Apa sih, serius amat." Tanyaku balik.
" Kamu saat ini ada yang mendekati atau punya hubungan sama orang lain?" Tanyanya serius.
" Mau jawab jujur apa gak nie". Sambil ku tertawa tuk menghilangkan gerogiku.
"Ini beneran fat. Gini deh kamu ada buku gak?" Jawabnya.
" Bentar tak ambilin buku sama bolpoin dulu." Sambil ku mencari dan memberikannya.
Dia langsung menulis apa yang mau diungkapkan ke aku dan langsung diberikan kepadaku.
Aku sontak ketawa tapi ini apa? Apakah ini jawaban dari ucapanku. Guramku.
"Semisal kamu tak ajak taaruf purun?"
Itu tulisan yang diberikan ke aku. Aku bingung mau jawab apa. Aku takut salah pilih. Apalagi masuk jenjang pernikahan itu seumur hidup sekali.
" Bismillahirrahmanirrahim, purun". Jawabku.
" Beneran?" sontak Adi melihat diriku yang duduk di sebelahnya.
" Emmm aslinya bingung,Di. Sudah tak anggap teman sih." Jawabku ragu.
" Kita kenal kan sudah 6 tahun. Kamu tahu aku, Aku tahu kamu." Jelasnya.
" Kita ikuti air mengalir saja ya." Ku coba meredanya.
Apakah ini jawaban dari nazarku, Ya allah apakah aku salah pilih pasangan. Apakah aku salah jika aku tak menepati nazarku. Apakah aku berdosa? Ribuan pertanyaan ada dikepalaku.
~ Bersambung