4

Pertemuan keluarga

6 min baca · 1079 kata ·
09 September 2026

Hari berganti hari kini aku menjalin hubungan dengan Adi. Tak terasa aku mulai agak nyaman dengan Adi, entah memang lelaki itu seperti itu iya? Kalau hendak menginginkan sesuatu.

Suatu hari aku di ajak Adi di rumahnya untuk bertemu kedua orangtuanya pertama kali.

" Dek," pesan masuk dari Adi.

"Dalem mas". Balasku.

" Hari Minggu mau kan kalau kamu aku kenalkan kepada orang tuaku." Pintanya.

" Cuman main doang kan?" Balasku ragu.

" Iya main dek." Balasnya.

" Oke deh". Balasku.

Hari minggu telah tiba. Adi menjemputku tuk hendak di perkenalkan kedua orang tua nya. Dan di perjalanan kita ngobrol sana sini sampai menuju rumahnya.

" Assalamualaikum" salamku dan adi.

" Waalaikumsalam,". Balasan salam wanita tinggi berambut pendek yang menuju pintu.

Aku di persilahkan duduk.

" Siapa itu Di". Bertanya kepada Adi.

" Ini buk yang aku ceritakan kemarin." Balasnya.

Aku hanya tersenyum dan banyak pertanyaan tuk ingin aku tanyakan ke Adi.

" Oh ini yang namanya Fatma. Aku ibunya Adi." Sambil melihatku.

" Eh enggeh ibu, saya Fatma." Sambil ku jabat tangan ibunya Adi.

Setelah itu Ibunya Adi menceritakan Adi itu orangnya begini begitu panjang sekali. Aku hanya mendengarkan apa yang di ceritakan si Ibu.

" Gini nak fatma, hari Kamis saya dan bapaknya Adi mau main kerumahnya nak fatma mau bertemu keluarga nak fatma." Pintanya ibunya Adi.

Aku sontak kaget dan tak percaya, ini beneran? Apakah hubungan ini akan jadi hubungan serius?.

" Nanti aku sampaikan kedua orang tua ku dulu,Bu." Jawabku.

Adi hanya menunduk dan mainan tangan. Aku hendak seret dan ingin tanya tujuannya mengajakku kerumahnya tadi apa.

" Nanti kabarin ke Adi ya nak," pintanya Ibu.

" Enggeh bu". Jawabku.

Adi hanya tersenyum.

" Tak buatkan minum dulu, disini saja dulu". Pintanya ibu

Aku hanya tersenyum.

Setelah ibunya pergi ke dapur meninggalkan aku dan Adi di ruang tamu. Aku menanyakan ke adi.

" Heh, maksud kamu apa? Kok sampai ke hal itu." Aku berbisik-bisik biar Ibu nya tidak mendengar.

" Aku mau hubungan ini serius dek." Jawabnya.

" Masih banyak yang ingin aku tanyakan ke kamu." Sambil ku menjauhi Adi. Tetapi Adi hanya tersenyum melihat kelakuanku.

Sudah pukul 10.00 ternyata 2 jam aku di rumahnya Adi, akhirnya aku pamit pulang diantar adi.

Di perjalanan aku mulai bertanya ke Adi, maksudnya hubungan ini.

" Ini beneran?. Tanyaku memastikan adi.

" Iya dek, kamu mau kan?." Jawabnya sambil memegangi tanganku.

" Aku gak tahu, dan aku gak yakin itu." Jawabku.

" Bolehkan jika hari kamis orangtua ku bertemu kedua orangtua mu dek?" Tanyanya.

Aku hanya diam dan tak menjawab pertanyaan Adi. Sesampainya di rumahku, Adi masih bertanya lagi.

" Dek, bolehkan?". Tanya Adi sambil memegang tanganku.

" Beri aku waktu untuk sholat." Jawabku.

" Aku serius dek, ingin kamu jadi istriku." Asi menyakinkan diriku.

" Kamu tahu kan, nikah itu gak main-main. Nikah sekali untuk seumur hidup. Aku gak mau salah milih pasangan. Benar aku tahu kamu sudah lama, tapi bukan aku tahu sifat kamu semuanya seperti apa aku tak tahu. Apakah kamu bisa jujur ke aku? Semuanya!" Tegasku sambil menahan tangis.

" Iya dek. Aku jujur semua ke kamu dek." Jawabnya Adi.

Setelah itu Adi pun pulang.

Keesokan harinya aku coba tanya teman-teman di pabrik. Dan ada satu orang yang ngasih tahu aku tentang hubungan Adi sama Reka. Aku coba menahan diri dan coba tanya kelainnya. Dan benar isu itu.

" Dek, sudah istirahat apa belum?" Pesan masuk adi saat aku kerja.

" Iya sudah. Aku mau tanya boleh?" Tanyaku balik.

" Iya dek apa?" Balasnya.

" Ada yang kamu sembunyikan dari aku? Apa kamu gak mau berterus terang?" Tanyaku mendesak.

" Maksud kamu apa dek?" Balasnya bingung.

" Mending batal aja ya. Kita sudahi hubungan ini." Pintaku.

" Bentar. Ini maksudnya apa?" Balasnya.

Adi mencoba telvon tapi tak aku angkat. Aku biarkan dia seperti itu apakah mungkin ada sesuatu yang tidak aku ketahui. Aku paling benci jika aku di bohongi.

Pukul 15.00 saatnya pulang kerja. Saat aku menuju pulang, aku dihadang Adi.

" Dek. Maksudnya apa?" Sambil memegangi tanganku agar aku tak pergi.

" Jika kamu masih punya hubungan dengan seorang wanita aku mundur. Jika kamu masih punya rasa denganya aku mundur. Dan jika kamu masih bertahan dengannya aku mundur. Intinya sudahi saja." Jawabku singkat.

" Hey kamu dengar cerita apa tentangku? Apa kamu percaya?" Tanyanya adi.

" Buktikan jika itu salah. Aku paling benci jika di bohongi. Kamu tahu itu kan." Jawabku dan meninggalkan adi.

Sampainya dirumah adi selalu kirim pesan mencoba menjelaskan jika Dia sudah tidak punya hubungan apapun dengan Reka. Beberapa kali adi menelepon diriku tapi ku abaikan. Setiap malam aku sholat istikharah dan tahajud agar di permudah dan diperjelas hubungan ini.

Beberapa hari aku abaikan pesan dan telpon dari Adi. Dan hari Minggu dia datang kerumahku.

" Dek, percaya aku. Aku sudah tidak punya hubungan apapun dengan Reka. Aku akan jujur semua ke kamu dek." Jelasnya Adi.

" Jujur aku kecewa, walau banyak yang bilang kamu baik. Kamu begini begitu. Tapi buktinya apa ke aku?" Sahutku perjelas.

" Buktinya aku mau serius dengan mu dek. Aku gak main-main." Balasnya.

" Terserah kamu." Ku diam tanpa sekatah pun.

Adi ikut diam dan mencoba membujukku tuk senyum dan mau cerita apa yang masih buat aku tak bisa mempercayai dirinya.

Hari kamis pun tiba, keluarga Adi datang kerumah ku tuk mengkhitbahku. Dan dengan ucap bismillah mungkin ini jawaban nazar ku. Aku harus bertanggungjawab dengan nazarku.

Selama proses khitbah dari temu orang tua dan di coba menghitung tanggal. Dapatlah tanggal tuk pelaksanaan ijab Kabul. Dati pihak keluarga ku terutama ibuku tak mau tuk bulan itu karna menurut jawa bulan sapar, pertahun kedepannya harus melakukan hajat terus jangan sampai ditinggalkan. Tetapi dari pihak keluarga Adi bersisih keras untuk bulan itu. Terutama ayah nya Adi.

Sepulangnya dari rumahku, Adi kirim pesan. Mengucapkan terimakasih dan akan selalu jujur ke aku.

" Terimakasih ya dek, sudah mau kasih kesempatan ini." Pesannya adi.

" Iya. Jangan kau bohongi aku lagi." Balasku masih ketus.

"Kamu kenapa? Masih marahkah?" Tanyanya.

" Tidak. Cuman aku tidak suka berseteru tadi. Kita orang jawa, kata orang kan jangan lupa tradisi dan dimana kamu berdiri jangan lupa adat dewe desa dewe coro kan gitu kan. Aku bisa terima adatmu dan kamu harus bisa taati di desaku. Aku lihat orang tua mu begitu. " Jelasku

" Aku tidak faham soal itu dek. Yah kalau memang kamu tidak suka kita tunda, tapi ya harus di bicarakan dengan orangtua." Jawabnya.

" Mungkin cuman firasat ku saja." Balasku.

" Gak usah difikirkan ya. Kita jalani dulu." Mencoba meredam amarahku.

Bersambung ~