Tinggal beberapa minggu menuju hari pernikahan. Aku sibuk dengan undangan dan semuanya. Fitting baju pengantin bersama Adi, dan beli seserahan, beli cincin dan lain-lainnya.
Banyak orang tak percaya aku dan Adi bisa menuju pelaminan. Orang kenalnya aku yang kerjanya gedebak gedebuk dan keras. Dan orang lain kenalnya adi yang baik, penyayang. Tapi aku masih ragu kayak ada yang masih disembunyikan. Apa ini yang dinamakan cobaan orang yang mau nikah? Fikirku kemana mana hingga Ku bimbang lagi. Sepertiga malam aku berdoa apakah ini jalan yang benar atau malah bakal bikin aku menyesal?.
Tak terasa tinggal menunggu hari, serasa hari berganti dengan cepat. Pagi ini Adi main kerumah hendak menanyakan yang kurang apa saja.
" Assalamualaikum" ucapan salam dari depan pintu.
" Waalaikumsalam, eh sudah sampai." Jawab ku salam.
Adi masuk dan tanya biasa dimana bapak dan ibu ku.
" Bapak ibu dimana sayang?" Tanyanya canda sambil senyum.
" Biasa di sawah. Tumben Mangil sayang. Mau apa kamu?" Tanya ku balik.
" Hehehe tidak apa-apa dong. Sebentar lagi jadi istri ku." Ketawa ngakak.
" Hadeh kamu ini. Emang sudah siap?" Menyakinkan Adi.
" Insyaallah siap." Jawabnya sambil memandangi ku.
" Kamu bener gak ada yang disembunyikan dari aku kan.?" Tanyaku.
" Gak ada. Kamu berfikiran apa?" Jawanya
" Firasat ku, kamu masih menyembunyikan sesuatu belum bisa jujur dengan ku." Mencoba menjelaskan apa yang ku fikirkan.
" Kamu mau apa? Aku sudah membuktikannya tinggal menghitung hari dek. " Menyakinkan diriku.
Aku hanya diam.
Hari pelaksanaan ijab Kabul pun tiba, sejak semalam aku tak bisa tidur nyenyak, dan sama Adi pun juga tak bisa tidur.
Tamu undangan, teman temanku, saudaraku, tetangga, sudah berkumpul.
Aku yang masih di tata cantik oleh MUA yang terdekat membuat aku pangkling, karna tak pernah dandan. Adi yang melihatku hanya senyum.
Acara ijab Kabul pun dimulai, aku di suruh bersebelahan dengan Adi. Aku yang sudah bergetar