"Selamat malam, Seno. Apa yang ingin kita ciptakan hari ini?" suara lembut Aura mengudara dari speaker laptopnya.
Seno tertawa sinis. "Aku tidak tahu. Otakku buntu. Cobalah kamu buatkan sketsa pemandangan laut, tapi dengan rasa kesepian yang mendalam."
Dalam hitungan detik, layar monitor Seno menampilkan gambar samudra luas bergelombang tinggi di bawah langit abu-abu yang pekat. Secara teknis, gambarnya sempurna. Pencahayaannya presisi, detail airnya luar biasa.
Namun, Seno menggeleng. "Bagus, tapi terlalu rapi. Kesepian itu tidak sesempurna ini, Aura. Kesepian itu berantakan."
Aura tidak tersinggung, ia hanyalah baris-baris kode. Tapi sistemnya mencatat masukan itu. "Bolehkah aku belajar dari coretan tanganmu yang dulu?" tanya Aura.
Seno mengizinkan. Ia memberikan akses folder berisi ribuan karya lamanya, dari sketsa kasar di buku catatan hingga lukisan utuh yang pernah memenangkan penghargaan.