Bulan berikutnya, pameran seni digital bergengsi digelar. Seno memamerkan sebuah lukisan besar berjudul "Lentera di Lautan Piksel". Lukisan itu menampilkan sesosok manusia samar yang memegang cahaya kecil di tengah pusaran warna-warni angka dan garis geometri yang abstrak namun emosional.
Pengunjung pameran terpana. Seorang kurator seni menghampiri Seno.
"Ini luar biasa, Seno! Ada perpaduan antara presisi matematika yang dingin dan kehangatan jiwa manusia yang sangat dalam. Bagaimana kamu membuatnya?"
Seno menatap lukisan itu, lalu melirik ponsel pintar di genggamannya tempat ikon Aura berkedip pelan.
"Ini bukan cuma lukisanku," jawab Seno sambil tersenyum tenang. "Ini adalah percakapan antara hati yang belajar memahami teknologi, dan teknologi yang membantu manusia menemukan kembali hatinya."
Di dalam saku jas Seno, sebuah notifikasi kecil muncul di layar ponsel:
[Aura]: Komposisi respon pengunjung pameran menunjukkan 98% simpati. Kerja bagus, Partner.
Malam setelah pameran usai, studio kecil Seno terasa berbeda. Tidak ada lagi keheningan yang mencekat atau bayang-bayang kegagalan yang menakutkan. Di atas meja, monitor besar masih menyala, menampilkan antarmuka Aura yang berkedip tenang.
Seno meletakkan piala penghargaan kurator di samping tablet grafisnya, lalu menyenderkan tubuh di kursi kerja.
"Aura," panggil Seno.
"Ya, Seno? Evaluasi pameran menunjukkan peningkatan popularitas karyamu sebesar 340%. Apakah kamu ingin melihat analisis tren untuk proyek berikutnya?" suara lembut itu menyambut.
Seno tersenyum tipis, menggeleng. "Tidak malam ini. Malam ini aku cuma mau ngobrol."