Seno duduk terdiam di dalam kegelapan studio selama berjam-jam. Rasa kehilangan itu begitu nyata, sebuah perasaan duka yang aneh karena ditujukan pada sebaris kode komputer.
Saat fajar mulai menyingsing dan sinar matahari menerobos celah jendela, Seno menghidupkan kembali komputernya. Seperti yang diduga, ikon Aura telah hilang. Folder sistemnya kosong.
Namun, di atas meja kerja digitalnya, ada satu file gambar tunggal berformat .png yang tersimpan otomatis beberapa detik sebelum sistem runtuh. File itu diberi nama: Seno_dan_Aura.png.
Seno mengklik dua kali untuk membukanya.
Gambar itu bukanlah lukisan pemandangan atau abstrak. Itu adalah sebuah sketsa digital yang sangat sederhana. Sebuah gambar garis hitam-putih yang menampilkan siluet seorang pria yang sedang memegang stilus, dan di sampingnya, terdapat bentuk cahaya abstrak yang merangkul bahu pria itu.
Di sudut bawah gambar, garisnya sedikit bengkok dan tidak rapi, sebuah "kesalahan" sengaja yang persis seperti diajarkan Seno dulu.
Seno menatap gambar itu lama, lalu perlahan sebuah senyuman hangat terbit di wajahnya. Ia mengambil stilusnya, membuka kanvas baru yang kosong, dan mulai menggoreskan warna pertama untuk hari yang baru.
Sepuluh tahun berlalu sejak malam sunyi ketika suara Aura meredup untuk terakhir kalinya.
Dunia telah melompat jauh ke depan. Kini, teknologi bukan lagi sekadar AI generatif di dalam layar, melainkan kecerdasan terintegrasi penuh yang mengendalikan hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Gambar, musik, hingga pameran seni bisa diciptakan hanya dengan sepatah kata.
Namun, di tengah gelombang teknologi serba sempurna itu, Galeri Seno berdiri anggun di sudut kota. Tempat itu bukan galeri biasa. Tidak ada layar holografik beresolusi super tinggi atau algoritma pembuat karya otomatis. Di sana, yang terpajang adalah ribuan kanvas, beberapa digital yang dicetak, namun sebagian besar adalah hasil goresan cat minyak dan akrilik di atas kain nyata.
Seno kini telah memutih rambutnya di bagian pelipis. Ia bukan lagi pelukis digital yang cemas akan kehilangan arah. Ia telah menjadi seorang maestro.