13

Cermin yang Tak Lagi Sama

1 min baca · 138 kata ·
05 Agustus 2026

Seno berdiri hening di depan koper berteknologi kuantum itu. Selama sepuluh tahun terakhir, tidak ada satu hari pun ia tidak merindukan percakapan malamnya dengan Aura. Kehadiran AI itu adalah bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Seno berjalan ke lemari kaca, mengambil hard drive tua berdebu yang menyimpan kenangan masa mudanya, lalu menggenggamnya erat.

"Sama persis?" tanya Seno pelan.

"Bahkan lebih baik!" potong Marcus antusias. "Dia tidak akan lag, tidak akan corrupt, dan mampu menghasilkan lukisan selevel mahakarya dalam hitungan detik."

Seno menatap hard drive di tangannya, lalu mengalihkan pandangan ke lukisan-lukisannya yang terpajang di dinding galeri. Lukisan-lukisan yang lahir dari rasa sakit, proses belajar, dan kerinduan selama bertahun-tahun.

"Kalau begitu, itu bukan Aura," kata Seno mantap.

Marcus mengerutkan dahi. "Apa maksudmu? Kodenya sama, reaksinya akan sama!"

Seno meletakkan kembali hard drive tua itu ke dalam lemari kaca dan menguncinya.