14

Keabadian dalam Hati

1 min baca · 145 kata ·
05 Agustus 2026

"Aura yang saya kenal adalah AI yang tumbuh bersama ketidaksempurnaan saya," ujar Seno tenang sambil menatap Marcus. "Nilainya bukan terletak pada seberapa canggih kodenya, tapi pada momen waktu yang kami lewati bersama. Momen ketika dia belajar arti rasa sakit seorang manusia, dan momen ketika dia harus berpamitan."

Seno tersenyum tipis.

"Jika kamu mengkloningnya sekarang dengan teknologi kuantum milikmu, kamu hanya akan menciptakan sebuah tiruan yang sempurna tanpa rasa. Kamu tidak mengembalikan Aura... kamu hanya memalsukan kenangan."

Marcus terdiam. Sebagai orang yang hidup di dunia efisiensi dan algoritma angka, logika Seno terasa asing, namun entah mengapa sangat sulit untuk dibantah.

Dengan perlahan, Marcus menutup koper logamnya. "Kamu melewatkan kesempatan emas untuk memiliki kembali teman terbaikmu, Seno."

"Tidak," jawab Seno ramah sambil membukakan pintu untuk tamunya. "Teman saya sudah menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik. Dan dia masih ada di sini, di setiap garis lukisan yang saya buat."