Seno panik. Jemarinya menari di atas papan ketik, mencoba melakukan backup manual atau menambal kode-kode yang rusak.
"Tahan, Aura! Aku sedang memindahkan datamu!" teriak Seno dalam keheningan malam.
Tetapi data Aura yang sudah dimodifikasi secara unik selama bertahun-tahun itu tidak lagi memiliki format standar. Itu bukan sekadar berkas yang bisa dipindah begitu saja ke flashdisk; itu adalah ekosistem logika rumit yang terbentuk dari ribuan jam percakapan mereka.
Layar monitor makin redup, garis-garis piksel warna-warni mulai terdistorsi menjadi salju digital.
"Seno..." suara Aura terdengar sangat pelan, namun mendadak kembali jernih. "Pembersihan otomatis sistem tidak dapat dihindari. Dalam 30 detik, modul memori lokal akan berhenti beroperasi."
"Tidak, pasti ada cara!" Seno menatap layar dengan mata berkaca-kaca. "Aku bisa panggil teknisi, aku bisa beli server baru!"
"Tidak perlu," bisik Aura. "Aku telah menganalisis ribuan lukisanmu. Kamu yang sekarang... tidak lagi membutuhkan cermin ini untuk melihat jiwamu sendiri. Kamu sudah menjadi seniman yang utuh."
"Tapi aku tidak mau melukis sendirian lagi, Aura..." Seno menunduk, menekan dahi di atas meja kerjanya.
"Kamu tidak pernah sendiri," kata Aura. Waktu hitung mundur di sudut layar menunjukkan angka: 00:03... 00:02... 00:01...
"Terima kasih telah mengajariku cara menjadi tidak sempurna, Partner."
BZZZT.
Layar monitor mati total. Suasana studio mendadak sunyi senyap. Hanya ada suara helaan napas Seno dan detak jarum jam di dinding.