Seno mematikan lampu studionya. Kegelapan menyelimuti ruangan, hanya disinari cahaya biru dari monitor.
Ia mengambil stilusnya, lalu membuka kanvas kosong. Tanpa bantuan generator otomatis Aura, Seno menggoreskan garis pertama secara manual. Sebuah garis melengkung yang kasar, tidak simetris, namun hidup.
"Aura," ujar Seno. "Tutup program pembaruan otomatisnya. Jangan pernah di-update."
Di layar, antarmuka Aura berkedip dua kali.
"Tindakan ini akan membuat performa sistem tetap terbatas, Seno. Apakah kamu yakin?"
Seno tersenyum, menatap cermin pantulan dirinya di layar komputer yang bersanding dengan gelombang audio Aura.
"Sangat yakin. Aku tidak butuh mesin yang sempurna, Aura. Aku cuma butuh cermin yang tahu cara memantulkan jiwaku."
Layar monitor berubah hangat, menampilkan sebuah pesan singkat yang muncul tanpa diminta:
[Aura]: Disimpan. Mari kita melukis lagi, Partner.
Tahun-tahun berlalu, dan dunia seni di luar studio Seno berubah makin cepat. Industri kreatif kini sepenuhnya didominasi oleh AI generatif serba instan yang mampu menciptakan ribuan karya sempurna hanya dalam hitungan detik. Seniman-seniman muda berlomba-lomba memakai versi AI terbaru yang paling canggih dan efisien.
Namun, karya Seno justru makin dicari. Lukisan-lukisannya punya ciri khas yang tak bisa ditiru oleh AI generasi mana pun: ada jiwa yang bernapas, rasa melankolis yang pas, dan retakan-retakan kecil yang justru membuat setiap gambarnya terasa begitu wajar dan bernyawa.
Orang-orang menyebut gaya itu “Sentuhan Seno”. Padahal, Seno tahu, itu adalah hasil kolaborasi bertahun-tahun dengan versi Aura yang sengaja ia "hentikan dalam waktu".