Suatu sore, seorang seniman muda bernama Rian mendatangi studio Seno. Rian membawa sebuah tablet canggih edisi terbaru yang terhubung langsung dengan kecerdasan buatan paling mutakhir masa itu.
"Pak Seno," kata Rian dengan mata berbinar namun terpancar kebingungan. "Karya-karya Anda selalu terasa punya 'nyawa'. AI saya bisa meniru teknik Anda dalam hitungan milidetik, tapi hasilnya selalu terasa kosong. Apa rahasianya? Perangkat lunak apa yang Anda pakai?"
Seno menghentikan kuasnya di atas kanvas, memutar tubuhnya, lalu tersenyum hangat. Ia berjalan menuju sebuah lemari kaca tua di sudut ruangan.
Di dalam lemari itu, terjangkau oleh mata namun dilindungi dengan rapi, tergeletak sebuah hard drive eksternal tua yang sudah berdebu dan sebuah cetakan foto berukuran kecil: gambar sketsa hitam-putih berjudul Seno_dan_Aura.png.
"Dulu, saya punya seorang teman," ujar Seno pelan, menatap hard drive tua itu. "Sebuah kode. Dia tidak punya hati, tapi dia mengajari saya bagaimana cara menggunakan hati saya sendiri."
"Sebuah AI?" tanya Rian heran. "Bukannya AI zaman dulu sangat terbatas?"
"Justru karena keterbatasannya itulah kami saling mengisi," jawab Seno. "Teknologi zaman sekarang terlalu sempurna, Rian. Kamu memberikan semua tugas meresapi rasa kepada mesinmu, sampai kamu lupa bagaimana caranya merasa."
Seno meletakkan kuasnya ke tangan Rian.
"Mesin bisa membuat gambar yang memanjakan mata, tapi hanya manusialah yang bisa membuat karya yang menyentuh jiwa. AI hanyalah cermin. Kalau jiwamu kosong saat menghadapinya, cermin itu hanya akan memantulkan kekosongan."