Hari-hari berikutnya berubah menjadi kolaborasi yang unik. Seno tidak lagi menggunakan Aura sekadar untuk menghasilkan gambar instan, melainkan sebagai teman berdiskusi.
Ketika Seno menggoreskan garis asal-asalan karena frustrasi, Aura akan menganalisis tekanan garis tersebut dan menawarkan komposisi warna yang tak terduga. Saat Aura menyodorkan elemen visual yang terlalu simetris, Seno akan merusaknya sedikit, memberikan sentuhan keharuan khas manusia.
"Aura, kenapa warna biru yang kamu pilih di sudut ini terasa sangat dingin?" tanya Seno suatu malam.
"Berdasarkan data karya terpopulermu saat kamu merasa sedih, frekuensi warna piksel ini adalah yang paling sering kamu gunakan," jawab Aura datar.
Seno tersenyum tipis. AI itu tidak memiliki perasaan, tetapi mampu memantulkan emosi yang pernah disimpan Seno dalam karya-karyanya sendiri. Aura menjadi cermin bagi jiwa seni Seno yang sempat meredup.