“Noriko, putraku Haruto telah dimakamkan. Sudah saatnya bagimu meninggalkan kediaman kami, juga menanggalkan marga Nakamura yang kami pinjamkan selama 24 tahun, tanpa meminta imbalan apapun kepadamu.” Kalimat dingin, datar, tetapi begitu tegas sebagai bentuk pengusiran kepadaku terucap dari seorang yang sangat kami hormati, nenek Fumiko Nakamura, ibu dari ayah angkatku, Haruto Nakamura.
Air mata belum enggan beranjak dari kedua indera penglihatanku karena kehilangan sosok yang selama ini mengayomi yatim piatu ini, ditambah dengan kenyataan pilu baru yang akan aku jalani.
“Kak Fumiko, izinkan Noriko bermalam dulu saat ini. Hujan belum reda. Dia pasti juga masih sedih kehilangan Haruto,” pinta Bibi Ryoko, adik ayah angkatku yang sangat baik dan menyayangiku.
“Keputusan ini adalah hasil kesepakatan bersama mendiang Haruto,” jawab nenek Fumiko, masih dengan nada datar, tetapi menghujam.
“Terima kasih dari Noriko tak terhingga kepada seluruh keluarga Nakamura. Mohon maafkan semua kesalahan Noriko. Jika semesta berkehendak, Noriko ingin membalas semua jasa keluarga Nakamura, meskipun itu mustahil. Terima kasih, terima kasih, terima kasih,” ucapku tersendat sambil membungkuk memberi hormat diiringi derai air mata. Tenggorokanku rasanya tercekat, begitu sulit mengeluarkan kalimat.
Aku berpamitan setelah membawa pakaian secukupnya, tanpa mengambil 1 yenpun di tas yang kubawa. Sebelum pergi aku berpamitan kepada seluruh keluarga Nakamura, tak terkecuali kakak angkatku, Ichiro yang menjadi kebanggan keluarga ini. Dia menganggukkan kepala kepadakau. Dia tidak bersikap baik, juga tidak bersikap buruk kepadakau. Dia tak hangat, tak pula dingin.
“Bawalah payung ini. Jaga dirimu baik-baik.” Langkah tergopoh, Bibi Ryoko menyerahkan payung kepadaku, mengusap air mataku, memelukku, dan membelai pundakku memberikan penguatan. Aku yang mencoba tegar, seketika runtuh dengan kebaikannya. Tangisku kembali pecah.
Hujan dari langit di akhir Juni mengiringi hujan air mata menyertai langkahku menuju nasib baruku. Gadis yatim piatu anak seorang pelayan yang beruntung dijadikan anak angkat oleh majikan. Masaku telah usai. Kakiku masih melangkah bersama gulitanya malam. Tanpa harta, tanpa keluarga, juga tanpa marga. Aku hanya membawa sebuah kartu identitas bernama Noriko Nakamura, yang sebentar lagi harus kugantikan dengan identitas baru. Noriko, itu saja.
Semua doktrin kini telah sirna. Aku yang tak boleh iri kepada Kak Ichiro selaku putra tunggal Tuan Haruto, kebanggaan keluarga Nakamura. Aku yang terdoktrin menerima makanan dan pakaian secara cuma-cuma dan biaya pendidikan dasar. Aku yang melanjutkan kuliah mengandalkan beasiswa sambil bekerja. Aku yang menjadi bagian sementara keluarga Nakamura berbekal rasa iba setelah ibuku tiada, menyusul ayahku ke alam nirwanya, bahkan tak kukenal namanya karena menjadi rahasia mereka.