Momen makan malam tadi seharusnya menjadi kesempatanku membicarakan masalah pekerjaan seperti yang dijanjikan ayah. Namun, Alisha yang baru jengkel mengurungkan niatku untuk membahasnya. Setelah ayah dan ibu selesai salat tahajud kubulatkan niat bangun untuk membantu memasak.
Untuk sarapan kali ini, ibu membuat sayuran rebus dicampur bumbu dari kelapa muda diparut yang disebut urap. Ibu juga menggoreng ikan dan mengatakan karena aku orang Jepang pasti suka ikan. Bagi mereka itu mungkin hal kecil, bagiku itu sesuatu yang menggetarkan sampai relung jiwaku yang teramat dalam. Penerimaan. Satu kata yang selama ini aku impikan kini jadi kenyataan. Kebebasan. Ibu dan ayah sering menawarkan menu apa yang aku inginkan. Alisha mengajak ke tempat mana yang ingin aku kunjungi. Kak Irsyad beberapa kali menanyakan apakah aku nyaman di sini? Apakah ada kesulitan penyesuaian di sini?
“Tadi setelah subuh Profesar Mukti menelponku, mengatakan kalau Alisha bisa direkomendasikan untuk menggantikan dosen sastra Jepang yang purna tugas.” Kak Irsyad memberitahukan berita bahagia itu untuk kami.
Kata Alhamdulillah secara bersamaan keluar dari bibir kami berempat, Alisha, ayah, ibu, dan aku. Selama di Jepang aku banyak mengenal kosakata Indonesia dan kosakata Islami yang sering diucapkan Alisha.
Kak Irsyad tersenyum kepadaku sambil mendekat di depanku seraya berkata, “Noriko, jangan khawatir, akan kubantu mencarikan pekerjaan yang cocok untukmu di sini,”
“Terima kasih.” Lagi dan lagi aku hanya bisa berterima kasih.
“Bolehkan aku ikut Alisha ke universitas? Noriko ingin melihat universitas di Indonesia dan siapa tahu akan menemukan pekerjaan yang cocok,” pintaku kepada keluarga. Jawaban serempak boleh dari ayah, ibu, dan Kak Irsyad.
“Boleh lihat bangunan, boleh cicipi makanan, boleh banget kalau dapat kerjaan yang dekat denganku. Tapiii tidak boleh dapat jodoh disitu,” cerocos Alisha sambil mengerling Kak Irsyad.
Kami berangkat menuju universitas tempat Kak Irsyad dan Alisha mengenyam pedidikan, memperoleh predikat cum laude dan menjadikan peluang baginya memperoleh beasiswa ke Jepang dan jalan takdir mempertemukan kami. Sambil menanti Alisha dalam proses wawancara, aku menyusuri area universitas, fakultas bahasa ini.
Kulihat seorang wanita hamil tengah kesusahan membawa beberapa barang. Tanpa perintah kubantu membawakannya memasuki area laboratorium Bahasa. Rupanya barang itu beberapa kamus baru yang akan dia gunakan untuk bertugas sebagai instruktur. Melihat wajahku, dia mengajak ngobrol memakai Bahasa Jepang. Kami berkenalan dan lagi aku menemukan sosok ramah di tempat baru dan barulah dia tahu bahwa aku paham Bahasa Indonesia. Dari name tag di dadanya kubaca nama HILDA.
“Aku sudah cukup lama menjadi instruktur tetap di sini. Untuk bisa memiliki anakpun aku menunggu sampai 5 tahun. Hasil USG menunjukkan anakku kembar, suamiku meminta berhenti bekerja setelah melahirkan, tapi pihak universitas memintaku mencari ganti dengan syarat dan kompetensi yang tidak mudah. Maukah kamu menggantikanku? Jika bersedia aku akan membicarakan dengan pihak universitas,” pinta Hilda penuh harap.
“Tentu aku mau. Aku akan mengambil kesempatan ini,” jawabku penuh semangat dan rasa syukur.
Hilda mengajakku menemui seseorang yang menjadi pimpinannya. Sang pimpinan memberikan kesempatan kepadaku dengan syarat aku menjalani masa training sebelum Hilda benar-benar mengundurkan diri.
Aku memeluk haru Alisha. Aku diterima bekerja semudah ini, di tempat yang asing ini. Sementara aku mendengar cerita tak mudah mencari pekerjaan, lulusan sarjana sekalipun.
Malam yang menenangkan bagi kami, ditambah Kak Irsyad membawakan onigiri untukku dan donat untuk Alisha yang kami nikamti bersama.
“Maaf Noriko, aku belum sempat membantu tapi malah sudah dapat kerja.” Kak Irsyad menggelengkan kepala.
“Masa susahnya sudah ditinggal jauh di sana. Di sini Noriko akan selalu bahagia,” Alisha memelukku dari samping dan menyandarkan kepalanya di pundakku.
BERSAMBUNG