2

Saudari dari Manca

2 min baca · 394 kata ·
30 Agustus 2026

Kutekan bel sebuah apartemen, tempat satu-satunya yang bisa kujadikan tempat tinggal, paling tidak untuk sementara.

“Tinggallah di sini bersamaku,” ucapnya seraya memelukku.

“Terima kasih Alisha,” kueratkan pelukan kepada temanku asal Indonesia ini. Satu-satunya orang yang mengetahui kisah hidupku. Kepadanya kuceritakan semua, termasuk kejadian jika hari ini terjadi. Dia siap menampungku. Alisha, gadis manis temanku kuliah, juga partner kerja paruh waktu di sebuah restoran ramen di kios jajanan kawasan Fukuoka ini.

Alisha membuatkanku teh panas dan menghangatkan makanan untukku. Sementara itu dia berpamitan kepadaku untuk mengambil air wudhu, mengenakan kain panjang yang kutahu itu bernama mukena, dan melaksanakan ibadah yang bernama salat. Aku dan Alisha saling memahami satu sama lain. Perbedaan negara, budaya, agama dan bahasa tak membuat kami terjeda sebagai teman selayaknya saudara. Aku dan Alisha, tak terkendala komunikasi karena dia menguasai Bahasa Jepang, akupun memahami Bahasa Indonesia.

Sambil menanti Alisha menunaikan ibadahnya, kulihat foto kami sewaktu menyaksikan Dontaku, suatu parade di Fukuoka yang meriah, 4 Mei yang lalu. Sambil menikmati cuaca cerah, kami disuguhi hana jidosha, mobil-bobil yang dihiasi bunga, serta tari-tarian kompak dengan dandanan yang mempesona. Rute parade dari stasiun Gofukomachi menuju Taman Pusat Tanjira tak menyurutkan langkah mereka memberikan hiburan bagi penonton tak tercuali aku dan Alisha.

Rasa lelah dan nyaman bersama Alisha membuatku dapat memejamkan mata dengan melupakan sejenak beban yang kupikul. Keesokan harinya aku tetap melanjutkan kuliah dan bekerja paruh waktu seperti biasanya. Aku dan Alisha sama-sama mengambil program pascasarjana berbekal beasiswa di Universitas Kyushu. Jaraknya tak jauh dari apartemen, sehingga kami terbiasa berjalan kaki menuju kampus. Begitu pula lokasi tempat bekerja paruh waktu.

Beruntungnya aku memiliki sahabat seperti Alisha, kami memiliki rekening bersama hasil bekerja paruh waktu untuk biaya kehidupan. Terbukti dalam situasi seperti ini aku masih mampu bertahan hidup setidaknya sampai menyelesaikan pendidikan magister yang kutempuh. Lagipula keluarga Nakamura menanggung pendidikanku sampai pendidikan dasar saja, selebihnya aku sudah terbiasa di usia muda, menjadi pembantu dari pelayan keluarga Nakamura. Lebih jelasnya aku mendapat upah dari pelayan keluarga angkatku untuk membiayai pendidikanku di sekolah lanjutan.

Hari ini Minggu dengan cuaca yang bersahabat bertepatan dengan hari ulang tahun nenek Fumiko. Aku masih bimbang apa yang harus kulakukan. Aku memilih menyegarkan pikiran sejenak dengan berjalan-jalan ke Kastil Kokura, sedangkan Alisha memanfaatkan waktu melakukan panggilan video dengan keluarganya di Indonesia. Di bawah pohon sakura tak jauh dari kastil bersejarah ini, kutulis semua kebaikan keluarga Nakamura untukku. Tanpa dikomando, kedua mataku kembali basah.