12

Cerita dalam Hujan

4 min baca · 636 kata ·
13 September 2026

Penerimaan dan kebebasan yang kuraih di sini membuatkau semakin betah dan yakin ingin berada di sini selamanya. Hubungan Alisha dan Brian juga semakin mengarah ke jenjang lebih serius. Aku ikut bahagia untuknya setelah mereka menjalani LDR dan mampu melewatinya. Namun, hal itu terkendala Kak Irsyad yang belum memiliki calon istri. Alisha tak ingin mendahului kakaknya.

Sedangkan aku, cukup menjalani hidup seperti ini sangat bahagia, rasannya tak ingin menikah, ingin kumengabdi kepada ayah ibu di hari tuanya sebagai balas budi dan tanda cinta terdalamku untuk mereka. Harapanku tak direstui ibu, beliau juga ingin aku menemukan pasangan hidup yang akan membimbing dan menjagaku saat mereka semakin renta atau kembali kepada Sang Pencipta. Ibu juga mengatakan bahwa menikah adalah ibadah terpanjang, menyempurnakan separuh agama.

Aku merasa agamaku jauh dari sempurna, tetapi Alisha selalu meyakinkanku pasti ada pria baik yang akan menjadi pasangan hidupku. Aku sendiri merasa tidak yakin dengan hal itu.

Aku mulai beradaptasi dengan cuaca di sini. Jika di Jepang kami dibersamai indahnya musim semi, teriknya musim panas, sendunya musim gugur dan menusuknya musim dingin, maka di Indonesia ini hanya ada dua musim yaitu penghujan dan kemarau. Musim kemarau telah kulalui cukup kepayahan tetapi terselimuti oleh kebahagiaan hati. Saat pancaroba aku ikut memeriahkan terkena flu, batuk, dan pilek khas orang negeri tropis. Kini Oktober yang mempesona ini kami bersahabat dengan hujan yang hampir tiap hari menemani.

Rintik hujan sore selepas ashar kian deras. Setelah membersihkan diri usai bekerja kusendiri di rumah. Ayah, ibu, serta tante menghadiri acara pernikahan diantar Bang Juna. Kak Irsyad menelponku, memintaku ke teras rumah. Dia membawa dua cup cokelat hangat dan camilan.

“Aku gabut. Ayo kita ngobrol. Noriko suka cokelat kan?” Kak Irsyad mengeluarkan harta karun bawaannnya dari plastik hijau setelah meletakkan payungnya.

Entah mengapa tiba-tiba air mata ini malah meluncur bersaing dengan derasnya air hujan. Sesenggukan, tak satupun kata mampu kuucapkan. Kak Irsyad masuk ke ruang tamu mengambil tisu kemudian menyerahkan kepadaku. Perlakuan-perlakuan yang aku terima di sini berbanding terbalik dengan yang kurasakan di tempat aku berasal. Sepertinya Kak Irsyad memahami itu.

“Kamu tahu kenapa ayam berkaki dua?” tiba-tiba Kak Irsyad melontarkan teka-teki kepadaku.

“Karena yang berkaki empat itu kambing,” jawabku mencoba serius menghadapi candaan yang sering kami lakukan saat Bersama Alisha dan Bang Juna.

“Bukan.” Tegas Kak Irsyad

“Lalu apa yang benar?” Kekerutkan dahi tanda penasaran.

“Ya karena sudah dari sananya begitu. Mikir serius yaa,” goda Kak Irsyad.

Tiba-tiba saja dinginnya isi hatiku mencair seketika. Diiringi percikan air dari langit kami saling bercerita. Tentang doktrin yang kuterima, jika memilih aku ingin berstatus sebagai anak pelayan yang jelas daripada menjadi anak majikan yang begitu menyakitkan.

Kak Irsyadpun bercerita tentang gejolak masa lalunya. Perjuangan mencari pekerjaan sebagai anak pertama bergender laki-laki, Adiknya yang memiliki akademik cemerlang dan mendapat beasiswa ke luar negeri, serta yang paling menyakitkan pengkhianatan dari Calista saat dirinya sedang berproses menjadi karyawan sebuah bank syariah, kini menjelma menjadi seorang manajer.

Aku pernah mendengar cerita dari Bang Juna demi membantu proses kepindahanku, Kak Irsyad melepaskan egonya menghubungi Calista yang bekerja di kantor imigrasi untuk mendapatkan persyaratan kepindahan dan jika aku suatu saat berganti kewarganegaraan. Namun, detik ini Kak Irsyad tidak pernah menceritakan itu kepadaku. Betapa tulus pria yang ada di hadapanku saat ini.

“Jika suatu saat menikah, Noriko ingin laki-laki yang seperti apa?” Tiba-tiba Kak Irsyad melontarkan pertanyaan yang membuatku tersentak.

“Menikah? Apa ada yang mau denganku Kak?” jawabku ragu.

“Jika ada laki-laki yang serius melamarmu, berjanji akan membimbing dan menjagamau apa Noriko mau menerimanya?” tanya Kak Irsyad dengan nada serius.

Aku mengangguk, “Dengan syarat ayah, ibu, Alisha, dan Kak Irsyad menyetujui.”

“Baiklah, tunggu kabar baik ya,” seulas senyum terukir diiringi lesung pipit khas Kak Irsyad.

Namun senyum Kak Irsyad tiba-tiba sirna saat ponselu berdering, tertera nama Ken disitu. Kuangkat panggilan darinya. Ken mengajakku makan malam, namun kutolak, entah mengapa aku malas keluar dan merasa nyaman dengan kebersamaan ditemani hujan ini.


BERSAMBUNG