7

Sebuah Panggilan

3 min baca · 419 kata ·
13 September 2026

Sebelum menjalankan kendaraan, Irsyad menanti aku tenang. Alisha sudah menceritakan tentang kondisiku dan kelurgaku. Bersyukurnya aku, keluarga ini menerimaku. Pemandangan kota ini membuatku tenang. Meskipun tak sebersih kotaku dan cenderung ramai, tetapi hatiku merasakan ketentramam.

Sampailah kami di rumah keluarga Alisha. Kami disambut oleh seorang yang dipanggil Alisha dengan sebutan Tante dan Bang Juna. Mereka memeluk Alisha, Tante juga memelukku, tetapi Bang Juna hanya bersalaman denganku.

“Alisha ini Tante Suci, dan ini anaknya, namanya Arjuna, biasa dipanggil Juna.” Ayah memperkenalkan dua orang itu kepadaku.

“Dalam pewayangan, Arjuna itu tampan tapi banyak wanitanya,” ledek Alisha yang dibalas Juna dengan toyoran di jidat.

“Noriko, kamu bisa menempati kamarku, kalian pastinya butuh privasi. Aku akan tidur di rumah sebelah. Kamar Fahira, adiknya Si Juna kuliah di Malang.” Irsyad menunjukkan arah kamar kepadaku.

“Noriko kalau kemana-mana ditemani  Kak Irsyad boleh, tapi kalau sama Elu nggak boleh,” ucap Alisha kepada dua pria yang menurutku sepantaran itu.

Kumemindai area kamar ini. Ada foto keluarga saat Irsyad dan Alisha masih kecil, ada foto wisuda Irsyad. Ada kalender dengan beberapa lingkaran, salah satunya hari ini, ada pula kaligrafi, alas sholat, juga kitab suci serta buku-buku tentang ekonomi dan perbankan. Kucoba merebahkan tubuhku di tempat tidur baru ini. Nyaman, tak butuh waktu lama aku sudah tak mengingat apapun.

Suara keras membangunkanku dari ketidaksadaranku. Lelah dan nyaman membuatku terlelap. Kulihat jam digitalku menunjukkan angka 04.30. Kudengar suara dari ruang lain.

“Noriko minta maaf terlambat bangun. Ada yang bisa Noriko bantu Bu?” Sungguh aku merasa sungkan.

“Kami ke masjid dulu. Itu tadi suara adzan, panggilan salat untuk kami orang Muslim. Semoga Noriko tidak terganggu. Sehari lima kali akan ada suara adzan tanda waktu salat. Kembalilah istirahat dulu.” Ayah menjelaskan yang pernah aku dengar dari Alisha tentang ibadah salat lima waktu dalam sehari. Namun, untuk suara adzan baru kali ini aku mendengar secara langsung dan begitu lantang.

“Tidak usah sungkan, kapan-kapan kita masak bareng ya. Kalau pagi jam tiga, kami terbiasa salat tahajud, Ibu lanjut masak. Jadi salat subuh sudah tenang.” Aku mengangguk mendengar penjelasan ibu.

“Ibu, besok Noriko bantu memasak,” ucapku penuh semangat.

Sarapan pagi ini sangat nikmat, ibu memberi tahu jika ini adalah opor ayam, masakan khas Lebaran kesukaan Alisha. Tante, Bang Juna, dan Kak Irsyad juga sarapan bersama kami. Setelah itu mereka berpamitan ke tempat kerja masing-masing.

“Nanti malam kita makan rendang seperti janjiku kemarin. Jangan lupa ajak Si Brian, pasti sudah kangen lama tak jumpa kekasih tercinta,” ledek Kak Irsyad sambil membetulkan posisi kacamatanya yang membuat pipi Alisha merona. Aku tahu kalau Brian adalah kekasih Alisha.


BERSAMBUNG