Irsyad Kurniawan, pria yang dipanggil kakak oleh Alisha, berperawakan tinggi, langsing, kepala lonjong, berambut lurus, benar-benar secara fisik mengingatkanku kepada seseorang, yaitu mantan kakakku, Ichiro. Akankah aku mengulangi hal yang sama di negeri asing ini?
“Kenapa melamun Noriko? Kau sudah yakin kan untuk tinggal di sini?” Kulihat Alisha gelisah dengan ekspresiku.
“Eh, aku.., aku tidak tahu bagaimana berterima kasih untuk kebaikanmu dan keluargamu Alisha?” kujawab dengan sangat grogi.
“Sepertinya kalian perlu penyesuaian. Ayo, kita makan di restoran Jepang dulu,” ajak Irsyad yang ternyata sangat ramah, jauh dari aura dingin khas Ichiro.
Di negeri baru ini, kami menikmati makanan khas negara kelahiranku. Keluarga ini sangat hangat dan menerimaku dengan baik. Waktu ibadah tiba, aku menunggu tempat duduk seraya menanti mereka ke mushola.
“Maaf membuatmu menunggu. Kapan-kapan kau harus mulai berkenalan dengan makanan khas Indonesia. Makanan apa yang paling ingin kamu coba?” tawaran Irsyad benar-benar meyakinkanku bahwa dia memang bukan Ichiro, hanya perawakan mereka saja yang setipe.
“Aku ingin mencoba rendang yang terkenal itu. Selama ini kami sering makan nasi goreng dan mie instan,” Jawabanku mengalir, tak grogi seperti awal bertemu dengannya.
“Oke, besok kita ke restoran Padang. Noriko, terima kasih sudah menjaga Alisha selama di Jepang.” Dari sosok yang hangat, ekspresinya berubah ketika mengucapkan terima kasih, terlihat dia begitu menyayangi adiknya. Pastinya karena Alisha adik kandungnya.
“Ayo kita pulang, biar kedua putri ayah ini istirahat dulu,” ajak ayah.
“Noriko, aku seneng banget kamu ikut ke Indonesia,” Alisha memelukku, rasanya seperti mimpi indah, dan aku berharap ini bukan mimpi.
Ibu menggandeng tanganku dan tangan Alisha. Inikah yang disebut keluarga. Tiba-tiba tubuhku terdiam, tumpah air mataku.
BERSAMBUNG