8

Perkenalan Wajah-wajah Baru

4 min baca · 783 kata ·
13 September 2026

Suasana kembali sepi. Alisha minta izin tidur kembali ke kamar karena masih capek.

“Ayah, Ibu, Noriko ingin segera bekerja,” ucapku membuat ayah dan ibu saling berpandangan.

“Nanti akan kita bahas dengan Irsyad dan Juna. Sekarang istirahatlah dulu.” Jawaban ayah membuatku tak berani membantah. Akupun kembali ke kamar.

Aku bingung, tak tahu harus melakukan apa. Kucoba membaca buku milik Kak Irsyad tentang Trik Perbankan. Saat mengambil buku, jatuhlah sesuatu. Kuambil di lantai. Foto Kak Irsyad bersama seorang gadis yang sedang berulang tahun, tertulis di kue tart Calista. Aku ketakutan, ini barang pribadi Kak Irsyad.

Kualihkan pandangan. Kubuka sebuah kitab suci berisi huruf arab yang aku sama sekali tak bisa membacanya. Perlahan-lahan kubaca terjemahannya. Tak begitu sulit membaca karena aku paham Bahasa Indonesia, tetapi olah kata dalam kitab suci ini terasa seperti karya sastra yang tinggi. Aku semakin penasaran dengan isinya. Selama ini aku tak tahu cara ibadah yang baik, saat beribadah ke kuil aku tidak pernah diajak.

Adzan dhuhur berkumandang, kuperhatikan orang-orang berdatangan ke masjid yang lokasinya di samping rumah Alisha. Kuperhatikan mereka dan kuberanikan diri mendekat. Melihatku di halaman masjid, ayah memperkenalkanku kepada para tetangga. Mereka menyambutku dengan ramah dam antusias. Aku yang sangat asing di tanah kelahiranku, disambut bak seorang artis di negeri orang. Ada juga yang mengajak foto bersama. Setelah semua berpamitan, seseorang datang dan memperkenalkan dirinya bernama Iqbal. Ayah bilang Iqbal itu putra dari Ustadz Haris, tokoh panutan di sini. Aku membungkuk memberi hormat.

“Norikooo,” panggil Alisha dari rumah dengan suara cukup kencang dan nada yang tidak begitu bersahabat.

“Ada apa? Maaf aku tadi keluar sebentar untuk berkenalan,” jelasku kepada Alisha.

“Ayo siapkan baju untuk nanti kita jalan-jalan dan makan malam sama Kak Irsyad.” Alisha terlihat bersungut-sungut, sedangkan aku tak tahu apa kesalahanku.

Setelah salat Maghrib kami berangkat menuju restoran Jepang. Saat Alisha menelpon Brian, aku jadi teringat foto yang jatuh dengan nama Calista. Kuberanikan diri meminta maaf kepada Kak Irsyad.

“Kak Irsyad, maafkan Noriko, tadi akan meminjam buku, Noriko tak sengaja menjatuhkan foto Calista. Noriko benar-benar tidak sengaja dan minta maaf. Noriko juga sudah mengembalikan ke tempatnya. Noriko juga minta izin meminjam kitab suci di meja Kak Irsyad,” Aku yang terbiasa terdoktrin memohon-mohon dan meminta maaf, tak mengalami kesulitan mengucapkannya.

“Calista itu mantan Kak Irsyad, kalau aku jadi kamu sudah kubuang fotonya,” Alisha meledek kakaknya. Dari pantulan cermin di kursi belakang kulihat wajah Kak Irsyad terlihat datar, seperti Ichiro.

“Tidak apa-apa Noriko. Kalau mau membaca kitab suci, kuberikan itu untukmu,” jawab Kak Irsyad sambil menengok ke arahku dan tersenyum tips.

“Terima kasih,” jawabku yang masih terasa menggantung karena Kak Irsyad tidak merespon tentang foto Calista.

Sampai di sebuah restoran Padang, tiga orang pria menyambut kami dengan sumringah. Seorang yang kukenal adalah Bang Juna, seorang lagi Brian, karena Alisha memanggilnya dengan lantang, satu lagi seorang dengan ciri fisik sepertku, kulit kuning bermata sipit.

“Hai Noriko, ini kubawakan teman asli Jepang untukmu. Kenalkan namanya Kenichi Yamada, panggilannya Ken.” Bang Juna memperkenalkan kami.

“Awww, lama nggak ketemu kok aku dicubit Beb,” teriak Brian yang lengannya dicubit Alisha dengan tatapan tidak suka ke arah Bang Juna.

Ken mendekatiku dan mengajak mengobrol dengan hangat. Aku sangat senang bertemu kawan baru yang ramah di sini. Alisha menarik tanganku.

“Ayo kita makan, aku sudah lapar.” Selain menarik tanganku, kulihat Alisha juga menginjak kaki kiri Bang Juna sambil mengatakan, “Ngapain ngajak orang Jepang kesini?”

Alisha duduk berdekatan dengan Brian, dia memintaku duduk di sebelahnya. Alisha juga menaruh tasnya di kursi sebelahku sambil mengatakan, “Ini tempat duduk Kak Irsyad!”

 

Lidahku beradu dengan bumbu yang begitu kuat meresap ke dalam daging sapi.

“Bagaimana, suka dengan rendang?” tanya Kak Isyad dengan antusias.

Kujawab dengan anggukan dan senyum yang aku tidak bisa mengartikannya. Rasanya pedas, nikmat, tetapi lidahku masih butuh waktu untuk berkenalan dengannya.

“Kapan-kapan kita ke restoran Jepang kalau kangen rumah,” timpal Ken.

“Noriko akan sering dikenalkan makanan khas Indonesia, karena dia akan selamanya di sini,” serobot Alisha tak bersahabat.”

“Tenang ya  Beb,” kudengar ucapan lirih Brian menenangkan Alisha yang entah dari tadi siang sepertinya ada yang salah denganku.

“Yang duduk di sana itu Yovita, dari dulu naksir Brian, tapi aman, Brian kuat kok LDR-an,” Bang Juna menunjuk ke arah seorang wanita berambut panjang.

“Jangan manas-manasi lah Bro, kami baru ketemu ini lho,” rajuk Brian. Wajah Alisha semakin cemberut.

Alisha pamit ke kamar mandi. Aku menemaninya karena aku tau dia sedang tidak baik-baik saja. Setelah dari kamar mandi Alisha bertambah kesal, “Ya ampun tambah ada Calista juga!”

Kami bergabung kembali bersama keluarga dan kulihat secara langsung gadis yang tadi kulihat di foto.

“Ini pasti Noriko ya. Kenalkan aku Calista, bekerja di kantor imigrasi. Waktu Irsyad menghubungiku kukira mau ngajak balikan, ternyata mau mengurus kepindahanmu kesini,” Calista mengulurkan tangan kepadaku, kusambut uluran tangannya sambil menundukkan kepala dan mengucapkan terima kasih. 


BERSAMBUNG