Tak terasa sudah empat bulan aku disini. Memiliki keluarga yang menerima dan menyayangiku. Memiliki pekerjaan yang menyenangkan. Bertambah pengalaman dan perkenalan dengan orang-orang yang sangat ramah. Hanya saja ketika Ken berusaha mengajakku bertemu, Alisha pasti akan ikut meskipun harus membatalkan pertemuannya dengan Brian.
Sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadan. Biasanya aku ikut menemani Alisha berpuasa. Namun, di sini menyambut bulan Ramadan sangat meriah. Setelah mengunjungi makam orang tua ayah dan ibu kami pulang dan membersihkan diri. Kukeringkan rambut sebahuku selepas keramas. Kubuka pintu kamar agar terasa lebih segar. Tiba-tiba…
“Maaf, maaf Noriko, seharusnya aku mengetuk pintu dulu.” Kak Irsyad langsung keluar dari kamar.
“Kak Irsyad masuk saja, itu kan kamar Kak Irsyad.” Aku tertawa melihatnya terkaget melihatku tadi.
“Maaf, aku mau ambil beberapa baju koko dan sarung untuk persiapan tarawih. Kadang lupa kamar ini ada peghuninya.” Kak Irsyadpun ikut tertawa.
Kulanjutkan menyisir rambut di luar kamar sambil menunggu Kak Irsyad. Sebelum meninggalkan rumah menuju rumah sebelah, Kak Irsyad memintaku melanjutkan menyisir rambut di dalam kamar.
Sahur dan berbuka puasa sudah sering kulakukan saat menemami Alisha, tetapi sensasi berburu takjil di sini sangatlah seru. Kami berganti-ganti menu dan berbagi tugas siapa yang membeli takjil. Saat akhir pekan kami berburu takjil bersama. Selepas salat tarawih, aku ikut mendengarkan ceramah di serambi masjid dan membantu mengedarkan camilan untuk para jaamaah putri yang melaksanakan tadarus. Anehnya, saat Iqbal yang menjadi penceramah, Alisha mengajakku pulang.
Membaca kitab suci di kamar Kak Irsyad, membaca buku tentang agama, mendengarkan ceramah, mendengarkan suara orang mengaji, serta interaksi dengan masyarakat di sini membuatku merasa tentram. Suara adzan yang dulu sebenarnya menggangguku, kini menjadi suara candu yang selalu ingin kudengar.
“Apakah bisa aku menjadi Islam?” tanyaku penuh keraguan tapi juga pengharapan selepas sahur.
Ayah, ibu, Alisha, dan Kak Irsyad saling berpandangan.
“Tentu bisa, syarat masuk Islam sangat mudah cukup membaca syahadat. Akan tetapi, setelah menjadi seorang muslim ada kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan. Larangan-larangan yang tidak boleh dilanggar. Yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan.” Ayah memberikan penjelasan.
“Insya Allah Noriko mau belajar.” Sebuah kalimat meluncur ringan dari bibirku.
“Kami akan membantumu,” serentak Alisha dan Kak Irsyad menguatkan.
Setelah melalui diskusi serius, ayah menghubungi pemuka agama, ibu memesan nasi dus untuk takjil hari ini, Kak Irsyad membelikan dua mukena, Alisha membelikan beberapa gamis dan jilbab. Ayah juga memberikan sajadah oleh-oleh saudara yang melaksanakan ibadah umroh.
Selepas ashar kami ke masjid menyaksikan prosesi pengislamanku. Dengan suara yakin namun bergetar kuucapkan dua kalimat syahadat. Air mata ini jatuh dari pertahanannya. Rasa yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Ibu dan Alisha memelukku, para jamaah mengucapkan selamat datang kepadaku. Ayah dan Kak Irsyad sebagai saksi menuju jalan hidupku yang baru di pertengahan bulan penuh berkah ini.
BERSAMBUNG