Setengah bulan Ramadan kulalui sebagai seorang muallaf. Sahur, berbuka puasa, salat wajib, salat tarawih, memperkuat hafalan surat-surat pendek dan bacaan salat kulakukan dibantu keluarga Alisha. Iqbal menawarkan diri mengajarkan iqra kepadaku, tetapi Alisha menolak dan hanya Alisha, Kak Irsyad, ayah dan ibu yang boleh mengajariku belajar iqro. Seorang Bang Juna yang masih memiliki hubungan kerabatpun tak diizinkan Alisha untuk membantuku belajar. Entah apa alasan di balik maksud Alisha, tapi aku yakin itu untuk kebaikanku.
Ramadan yang indah, bulan paling bersinar selama hidup yang kurasakan akan pergi. Rasanya berat sekali. Rasanya ingin selalu bersama bulan mulia ini. Di penghujung puasa, ibu memasak untuk santapan hari raya esok hari. Aku dan Alisha membantu mengupas dan memotong kentang, membuat santan, menyiapkan bumbu-bumbu dan hal-hal lain di dapur. Ayah dan Kak Irsyad membersihkan rumah. Malam ini Kak Irsyad akan kembali ke kamarnya, sementara aku akan tidur bersama Alisha. Bagaimana dengan Bang Juna dan Tante? Mereka telah mudik ke kampung halaman di Malang, itulah sebabnya Fahira, adik Bang Juna kuliah di sana karena dekat dengan keluarga.
Suara takbir berkumandang. Ada degup-degup yang tak bisa kuungkapkan. Ibu memberitahu tentang tata cara salad ied dan perbedaan jumlah takbir. Mengenakan busana kembar sekeluarga membuatku merasa inikah surga dunia? Indah dan damai sekali. Setelah itu kami bersalaman dengan para jamaah saling mengucapkan permohonan maaf. Indah sekali. Suasana ibukota juga cukup lengang karena sebagian besar penghuninya mudik ke kampung halaman bertemu keluarganya. Kampung halamanku? Sejujurnya aku jauh lebih merasa nyaman dan betah di sini.
Setelah dari masjid kami melakukan tradisi sungkeman, meminta maaf dari yang muda kepada yang tua. Derai air mata tak tertahankan. Mengakui kesalahan-kesalahan yang telah terjadi. Tak sungkan aku ikut sungkem kepada ayah, ibu, mereka memelukku laksana anak sendiri.
“Ini idul fitri terindah. Bisa kumpul lagi sama keluarga tambah ada kamu yang bersamaku.” Alisha memeluk erat diriku.
Saat akan bersalaman dengan Kak Irsyad kami saling sungkan. Sama-sama menautkan tangan di depan dada dan saling meminta maaf.
“Noriko, apa ingin selamanya di sini?” bisik Kak Irsyad kepadaku saat aku akan mengambil minum.
“Harapanku seperti itu Kak.” Ada keraguan dalam jawabku diiringi ketakutan tentang masa depanku di sini.
“Akan kuusahakan.” Seulas senyum Kak Irsyad memberikan makna yang begitu dalam, tetapi aku tak mampu menyelaminya.
“Caranya?” Kuhadapkan wajahku ke wajah Kak Irsyad.
“Serahkan kepada Allah, aku akan mengusahakan.” Kak Irsyad meninggalkanku mematung dengan penuh tanda tanya.
Seminggu setelah hari raya, keluarga Tante pulang membawa serta Fahira. Kamipun berkenalan dan dia tak kalah ramah dengan Alisha, Kak Isryad, dan Bang Juna. Kami foto bersama. Tiga anak gadis berjumpa di waktu yang tak lama. Hanya seminggu Fahira akan kembali ke Malang lagi.
BERSAMBUNG