"Sibuk banget kamu di depan HP mulu dari tadi, Ma!" ucap Fatimah tiba-tiba kepada sahabatnya yang sedang live streaming di medsos.
"Sttt ....!" jawab Naima lirih sambil menutup mulutnya menggunakan jari telunjuknya." Wanita bercadar ini mulai mempunyai kesibukan baru yaitu live streaming, di mana sebelumnya ia merasa asing dengan hal itu. Wanita ini menggunakan cadar sejak 1 tahun yang lalu. Yang awalnya hanya konten-konten dakwah dan nasihat-nasihat islami, kini berubah jadi kebiasaan yang seakan wajib dilakukan oleh seorang Naima kepada para penggemarnya. Dulu ia tidak pernah menampakan wajahnya, di awal ia belajar untuk menggunakan cadar. Namun entah dari mana awalnya kini seakan ia sudah kecanduan dengan yang namanya media sosial dan juga live streaming. Setiap kata pujian dari kaum Adam dan para penggemarnya seakan menjadi tambahan vitamin dan suplemen di hatinya, hingga tidak terasa sudah berbulan-bulan ia melakukan live streaming dengan menggunakan cadar. Dan tak lupa ia selalu menghias mata dan bulu matanya yang lentik sehingga terlihat begitu menonjol meskipun ia tetap menggunakan cadar.
Fatimah adalah sahabatnya, dia selalu ada untuk Naima sejak mereka kuliah di semester satu. Penampilannya sederhana ia menggunakan jilbab yang tidak terlalu panjang dan tidak menggunakan cadar. Namun Fatimah belakangan ini merasa aneh dengan perilaku sahabatnya, di mana dulu Naima adalah orang yang anti dengan kamera. Namun sekarang tiada hari tanpa eksis di depan kamera dan live streaming.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan juga berganti tahun. Naima kini sudah berada di puncak popularitas, dimana setiap unggahan yang ia tulis atau yang ia posting selalu mendapat respon positif dan bisa mencapai ratusan ribu tayangan, bahkan ia sering diundang untuk kegiatan-kegiatan penjualan produk entah dari produk fashion, home living, dan lain-lain.
Namun ternyata semua itu tidak selalu seperti itu. Respon yang positif dan tayangan yang mencapai ratusan ribu yang selalu ia kejar setiap harinya, di satu waktu ia akan merasa sangat gelisah ketika unggahannya tidak mencapai target itu, dia merasa seperti sangat lelah ketika pencapaian itu tidak bisa ia dapatkan.
Di sisi lain, Fatimah selalu menasehatinya agar tidak terlalu terjerumus ke dalam gemerlapnya dunia maya, namun ia selalu punya pegangan di mana ia selalu menegaskan kepada Fatimah kalau apa yang ia lakukan saat ini adalah demi menebar kebaikan adalah demi menebarkan ilmu yang bermanfaat. Namun pada realitanya ia hanya mencari popularitas dan merasa bangga ketika ia dipuji cantik, Sholihah, ukhti yang menawan, teduh pandangannya, dan lain-lain.
"Jangan terlalu mencari citra dan popularitas di dunia maya, Ma," nasihat itu terucap begitu saja dari mulut Fatimah.
"Ah, kamu! Bilang saja kamu iri kan atas pencapaianku ini!" Bentak Naima angkuh.
Seperti biasa, katika Fatimah menasehatinya ia selalu merasa kalau Fatimah cemburu dengan pencapaiannya dan menganggap Fatimah sudah kalah dalam hal itu dengannya. Padahal Fatimah adalah orang yang sangat peduli kepadanya. Ia merasa bahwa Naima sudah berbeda jauh dengan Naima yang dikenal dulu. Naima yang dulu adalah sosok yang sederhana, tidak neko-neko, tidak suka dipuji, suka menutup diri dan selalu menjaga keikhlasan. Namun kepeduliannya saat ini malah dianggap hanya kecemburuan karena pencapaian di dunia maya.
Karena tidak ingin situasi bertambah keruh akhirnya Fatimah menutup diri ia sudah terlalu banyak menasehati tapi malah dianggap buruk oleh sahabatnya itu. Fatimah merasa kali ini Naima sudah terlalu jauh. Ia hanya mendoakan agar Naima sadar dengan apa yang dilakukannya sekarang, agar ia tidak terlalu jatuh terlalu dalam popularitas yang fana.
BERSAMBUNG