Sejak bekerja sama dengan Zahra, kehidupan Naima berubah semakin jauh dari sebelumnya. Hampir setiap hari ada saja konten yang harus dibuat. Zahra selalu mempunyai ide baru yang menurutnya bisa membuat akun Naima semakin besar. Kadang tentang kisah kehidupan, kadang tentang pengalaman pribadi, kadang tentang nasihat agama, dan tidak jarang pula tentang sesuatu yang sedang ramai diperbincangkan. Naima hanya perlu duduk di depan kamera, berbicara, dan mengikuti arahan yang sudah diberikan. Namun semakin banyak konten yang dibuat, semakin sering pula Naima merasa seperti sedang memainkan sebuah peran. Ia harus tersenyum ketika kontennya membutuhkan senyuman, harus terlihat sedih ketika ceritanya membutuhkan kesedihan, dan harus menunjukkan ketegasan ketika ingin terlihat sebagai sosok perempuan yang kuat. Semuanya terlihat mudah di depan kamera, tetapi setelah kamera dimatikan, Naima terkadang hanya duduk diam dan bertanya kepada dirinya sendiri, sebenarnya dirinya yang mana?
Pagi itu Naima sedang berada di depan cermin. Ia sudah mengenakan pakaian yang akan digunakan untuk membuat konten. Cadar sudah terpasang rapi, matanya sudah dihias seperti biasanya, dan ponsel sudah berada di atas tripod. Namun sebelum kamera dinyalakan, ia menatap dirinya sendiri cukup lama. Beberapa hari terakhir ia merasa semakin sering melihat dirinya melalui layar ponsel daripada melalui cermin. Bahkan ketika tidak sedang membuat konten pun, ia masih sering memikirkan bagaimana dirinya akan terlihat jika direkam. Ia mulai terbiasa memperhatikan angle, pencahayaan, cara berbicara, bahkan ekspresi wajahnya.
"Na, sudah siap?" terdengar suara Zahra dari luar kamar.
"Sebentar."
Naima masih menatap cermin. Ia mencoba tersenyum. Kemudian wajahnya dibuat serius. Setelah itu ia mencoba tersenyum lagi.
"Yang mana aku?" gumamnya pelan.
Ia sendiri tidak tahu kenapa pertanyaan itu muncul. Naima kemudian menggelengkan kepala dan berusaha mengabaikannya. Tidak lama kemudian kamera dinyalakan.
"Assalamu'alaikum, sahabat semuanya. Hari ini saya ingin berbagi sedikit cerita tentang bagaimana kita harus tetap kuat ketika mendapatkan ujian dari Allah..."
Suaranya terdengar lembut dan tenang. Ia tersenyum sesekali, kemudian menundukkan kepala pada bagian tertentu agar terlihat lebih menyentuh. Setelah beberapa menit, rekaman selesai.
"Bagus," kata Zahra.
Naima melihat hasilnya. Wajah di layar terlihat begitu tenang. Tatapannya teduh. Suaranya lembut. Cara bicaranya juga terlihat seperti seseorang yang benar-benar sedang memberikan nasihat dari hati. Namun anehnya, Naima justru merasa asing melihat dirinya sendiri.
"Bagus, kan?" tanya Zahra.
"Iya."
"Upload sekarang?"
Naima mengangguk.
Video tersebut kemudian diunggah. Tidak sampai beberapa jam, komentar mulai berdatangan. Banyak orang memuji cara Naima berbicara. Ada yang mengatakan bahwa nasihatnya membuat hati mereka tenang. Ada yang mengatakan bahwa Naima terlihat sangat sabar dan dewasa. Bahkan beberapa orang mengaku merasa mendapatkan semangat setelah melihat videonya.
Naima membaca semuanya.
Dulu komentar seperti itu akan membuatnya sangat bahagia. Sekarang pun sebenarnya masih sama. Ia tetap merasa senang ketika mendapatkan pujian. Namun ada sesuatu yang berbeda. Setiap kali seseorang mengatakan bahwa dirinya adalah perempuan yang sabar, ia justru teringat bagaimana dirinya sering marah ketika jumlah tayangan tidak sesuai harapan. Ketika seseorang mengatakan bahwa dirinya selalu ikhlas, ia teringat bagaimana dirinya bisa merasa kesal ketika kontennya tidak mendapatkan perhatian. Ketika seseorang mengatakan bahwa dirinya begitu sederhana, ia teringat berapa lama waktu yang ia habiskan hanya untuk memilih angle dan filter yang tepat.
Naima menutup kolom komentar. Ia merasa tidak nyaman. Namun beberapa menit kemudian, ia membukanya lagi. Komentarnya semakin banyak. Perasaan tidak nyaman itu kembali tertutup oleh rasa senang.
Begitulah yang terjadi hampir setiap hari. Di depan kamera, Naima terlihat seperti seseorang yang tenang, sabar, sederhana, dan selalu mempunyai jawaban untuk setiap masalah. Tetapi di balik kamera, ia sering gelisah memikirkan angka. Ia bisa merasa sangat bahagia ketika sebuah video mendapatkan banyak tayangan dan merasa sangat kecewa ketika jumlah penontonnya turun. Ia bisa memberikan nasihat agar orang lain tidak terlalu memikirkan penilaian manusia, tetapi dirinya sendiri justru tidak bisa tidur ketika merasa orang-orang mulai kurang memperhatikannya.
Suatu malam, Naima sedang bersiap untuk melakukan live streaming. Zahra sudah memberikan beberapa poin yang harus dibicarakan. Kali ini mereka sepakat membuat suasana lebih santai. Naima akan menjawab pertanyaan pengikut dan sesekali bercerita tentang kehidupan pribadinya.
Kamera dinyalakan. Senyum Naima muncul.
"Halo, semuanya. Apa kabar?"
Komentar langsung memenuhi layar.
"Masyaallah, Kak Naima."
"Ukhti cantik."
"Matanya bagus banget."
Naima tersenyum.
"Terima kasih semuanya."
Salah satu pengikut kemudian bertanya tentang bagaimana Naima menjaga ketenangan hati di tengah kesibukan.
Naima terdiam beberapa detik.
"Menurut saya, kita harus selalu dekat dengan Allah. Jangan terlalu memikirkan apa kata manusia. Kalau kita sudah melakukan yang terbaik, serahkan semuanya kepada Allah."
Kalimat itu keluar dengan lancar. Banyak yang menyukainya. Komentar positif kembali berdatangan.
Namun setelah live streaming selesai, Naima duduk diam di depan kamera yang masih menyala. Ia tidak langsung bangkit seperti biasanya. Ia justru menatap layar dengan tatapan kosong. Kalimat yang baru saja ia ucapkan terus terngiang di kepalanya.
"Jangan terlalu memikirkan apa kata manusia."
Naima tersenyum getir. Bukankah dirinya sendiri justru sangat memikirkan apa kata manusia?
Ia bahkan sering membuka komentar berkali-kali hanya untuk mencari pujian. Ia pernah menghapus konten hanya karena jumlah tayangannya tidak sesuai harapan. Ia pernah membuat ulang video berkali-kali hanya karena merasa dirinya kurang menarik di layar. Ia bahkan mulai memperhatikan apa yang disukai orang lain sebelum memutuskan sesuatu.
Naima mematikan kamera. Kamar menjadi sunyi. Untuk beberapa saat ia hanya duduk di kursinya. Kemudian ponselnya berbunyi.
Pesan dari Zahra.
"Besok kita buat konten yang lebih emosional. Aku sudah punya idenya."
Naima membaca pesan tersebut.
"Konten tentang apa?"
"Pengalaman kamu ketika mulai dikenal orang. Bisa dibuat seolah kamu pernah merasa kehilangan diri sendiri karena tuntutan orang."
Naima terdiam. Kata-kata itu terasa aneh. Kehilangan diri sendiri. Ia membaca pesan tersebut sekali lagi.
Bukankah itu yang sebenarnya sedang terjadi?
Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh, Zahra kembali mengirim pesan.
"Kalau dikemas dengan baik, ini bisa ramai. Orang suka cerita yang relate seperti itu."
Naima menatap layar ponselnya cukup lama.
Akhirnya ia menjawab singkat.
"Baik."
Malam itu Naima berbaring di tempat tidur, tetapi matanya sulit terpejam. Ia memikirkan semua yang telah terjadi selama beberapa tahun terakhir. Ia teringat Naima yang dulu. Naima yang tidak terlalu memikirkan bagaimana dirinya terlihat. Naima yang bisa duduk berjam-jam bersama Fatimah tanpa menyentuh ponsel. Naima yang dulu merasa cukup ketika hidupnya sederhana. Naima yang tidak pernah merasa perlu menunjukkan semuanya kepada orang lain.
Sekarang semuanya berbeda.
Ia memiliki lebih banyak pengikut, lebih banyak uang, lebih banyak pekerjaan, dan lebih banyak orang yang mengenalnya. Tetapi semakin banyak yang ia dapatkan, semakin sering ia merasa tidak mengenal dirinya sendiri.
Naima mengambil ponsel dan membuka galeri. Ia melihat video-video lama sebelum dirinya menjadi seperti sekarang. Dalam salah satu video, ia terlihat sedang tertawa bersama Fatimah. Tidak ada filter. Tidak ada pencahayaan khusus. Tidak ada angle yang diatur. Tidak ada skrip.
Hanya dirinya.
Naima memperhatikan video itu cukup lama.
Ia tersenyum.
"Ini aku yang dulu."
Kemudian ia membuka video terbarunya.
Ia melihat perempuan bercadar dengan suara lembut dan tatapan teduh yang sedang memberikan nasihat kepada ribuan orang.
Naima kembali terdiam.
"Kalau yang ini siapa?"
Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak. Ia tidak tahu jawabannya.
Apakah Naima yang tersenyum di depan kamera adalah dirinya yang sebenarnya? Ataukah Naima yang marah, iri, gelisah, dan takut kehilangan popularitas adalah dirinya yang sebenarnya? Atau mungkin keduanya adalah dirinya? Naima menutup galeri.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa selama ini dirinya telah terlalu lama memainkan sebuah peran hingga lupa bagaimana menjadi dirinya sendiri.
Ia tidak lagi tahu kapan ia sedang benar-benar sedih dan kapan ia hanya sedang membuat konten. Ia tidak tahu kapan ia benar-benar ingin berbagi dan kapan ia hanya ingin mendapatkan perhatian. Ia tidak tahu kapan ia tersenyum karena bahagia dan kapan ia tersenyum karena kamera sedang merekam. Naima mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di samping tempat tidur.
Malam semakin larut.
Namun pertanyaan itu masih terus berputar di dalam pikirannya.
"Siapa sebenarnya aku?"
Dan untuk pertama kalinya, Naima tidak memiliki jawaban.
BERSAMBUNG