Hari itu Fatimah kembali bertemu dengan Naima. Mereka duduk berdua di sebuah tempat yang cukup tenang, sambil menikmati minuman yang sudah mereka pesan. Sejak beberapa waktu terakhir, Fatimah memang semakin sering memperhatikan perubahan sahabatnya itu. Naima yang dulu begitu sederhana kini terlihat semakin sibuk dengan media sosialnya. Hampir setiap saat ponsel tidak pernah lepas dari tangannya, bahkan ketika sedang berbicara dengan orang lain.
Fatimah sebenarnya sudah beberapa kali ingin membicarakan hal itu, tetapi ia selalu mengurungkan niatnya. Ia takut Naima kembali menganggap nasihatnya sebagai bentuk iri hati. Namun kali ini ia merasa harus mengatakan sesuatu.
"Ma," panggil Fatimah pelan.
"Hmm?" Naima masih sibuk melihat layar ponselnya.
"Menurutmu, kamu masih melakukan semua ini karena ingin berdakwah?"
Naima menghentikan jarinya. Ia kemudian menatap Fatimah.
"Ya, tentu saja. Memangnya kenapa?"
Fatimah menarik napas pelan sebelum menjawab.
"Aku cuma merasa belakangan ini kamu terlalu sibuk dengan komentar, jumlah penonton, dan perhatian orang-orang."
Naima langsung mengerutkan kening.
"Terus maksudmu apa?"
"Aku bukan mau menyalahkanmu, Ma. Aku hanya ingin mengingatkan. Kalau niatmu mulai berubah, istighfarlah."
Kalimat itu membuat wajah Naima berubah. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap Fatimah dengan tatapan tidak senang.
"Berubah bagaimana?"
Fatimah terdiam sejenak.
"Mungkin dulu kamu benar-benar ingin berbagi ilmu. Tapi sekarang aku lihat kamu mulai terlalu menikmati pujian orang lain. Kamu senang ketika banyak yang memperhatikanmu. Kamu bahkan pernah cerita sendiri kalau kamu kecewa ketika jumlah penonton turun."
"Itu bukan berarti niatku berubah, Fatimah."
"Aku tahu. Tapi justru karena aku sahabatmu, aku merasa harus mengingatkan."
Naima menghela napas. Ia merasa pembicaraan itu mulai mengarah kepada sesuatu yang tidak ia sukai.
"Kenapa kamu selalu melihat yang buruk dari apa yang aku lakukan? Aku tidak pernah menyebarkan sesuatu yang tidak baik. Aku masih membuat konten tentang agama, masih memberikan nasihat, masih mengajak orang untuk melakukan kebaikan. Apa itu salah?"
"Bukan soal kontennya yang salah, Ma."
"Lalu apa?"
"Niatnya."
Naima terdiam.
Fatimah melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.
"Aku hanya takut kamu tidak sadar kalau tujuan awalmu perlahan berubah. Kamu mungkin masih membicarakan agama, tetapi kalau di dalam hati kamu mulai senang ketika dipuji, senang ketika banyak laki-laki memperhatikanmu, dan gelisah ketika tidak ada yang melihat kontenmu, bukankah kita perlu berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri?"
Naima semakin tersinggung.
"Jadi menurutmu aku ini cuma mencari perhatian?"
"Aku tidak mengatakan seperti itu."
"Tapi itu yang kamu maksud!"
Fatimah kembali terdiam. Ia tahu Naima sedang terbawa emosi.
Naima mengambil ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Aku capek kalau setiap kali kita bertemu kamu selalu membicarakan hal yang sama. Kamu tidak tahu apa yang ada di dalam hatiku. Kamu tidak tahu niatku."
"Aku memang tidak tahu isi hatimu, Ma. Karena itu aku hanya mengingatkan."
"Kalau begitu jangan menghakimi."
Fatimah menatap sahabatnya dengan perasaan sedih.
"Aku tidak menghakimimu. Aku hanya takut suatu hari nanti kamu sendiri yang lupa untuk apa semua ini kamu mulai."
Naima tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya.
Di dalam hatinya, ia merasa Fatimah tidak memahami perjuangannya. Baginya, membuat konten bukanlah sesuatu yang mudah. Ia sudah menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk membangun akun media sosialnya. Ia merasa sudah memberikan banyak manfaat kepada orang lain.
Bukankah jika ada orang yang belajar agama dari kontennya, itu juga sebuah kebaikan? Bukankah jika ada orang yang berubah menjadi lebih baik setelah mendengar nasihatnya, berarti apa yang ia lakukan tidak sia-sia?
Pikiran-pikiran itu membuat Naima semakin yakin bahwa dirinya berada di jalan yang benar.
"Aku tahu apa yang aku lakukan," ucapnya akhirnya.
Fatimah hanya mengangguk pelan.
"Semoga memang begitu, Ma."
Percakapan mereka berakhir tanpa ada yang benar-benar merasa puas. Naima pulang dengan perasaan kesal, sementara Fatimah hanya bisa memandangi kepergian sahabatnya dengan hati yang berat.
Malam harinya, Naima kembali membuka media sosial. Beberapa pesan baru sudah masuk. Ada yang memuji kontennya, ada yang mengatakan nasihatnya sangat menyentuh, dan ada pula yang kembali memuji kedua matanya.
Seketika perasaan kesalnya kepada Fatimah sedikit menghilang. Ia tersenyum membaca satu per satu komentar tersebut.
"Masyaallah, Kak Naima benar-benar menginspirasi."
"Semoga saya bisa mendapatkan istri seperti Kak Naima."
"Nasihat Kakak selalu membuat saya ingin menjadi lebih baik."
Naima membaca semuanya dengan hati berbunga-bunga. Ia kembali merasa yakin. Apa yang dikatakan Fatimah tadi pasti salah. Ia tidak sedang mencari perhatian. Ia tidak sedang mengejar pujian. Ia hanya sedang berdakwah. Setidaknya, itulah yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri.
Tanpa disadarinya, Naima mulai belajar mencari pembenaran atas apa yang ingin ia percayai. Setiap pujian dianggap sebagai tanda bahwa dakwahnya diterima. Setiap jumlah tayangan yang tinggi dianggap sebagai keberhasilan. Sedangkan rasa senang ketika dipuji dan rasa kecewa ketika tidak diperhatikan perlahan ia abaikan.
Naima tidak sadar bahwa terkadang perubahan niat tidak datang dengan suara keras. Ia datang perlahan, menyelinap di antara pujian, angka, perhatian, dan rasa bangga yang terus dipelihara. Dan malam itu, Naima kembali menyalakan kamera.
Sperti biasa, ia tersenyum kepada layar.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda di dalam hatinya.
BERSAMBUNG