Beberapa minggu terakhir, kehidupan Naima masih berjalan seperti biasanya. Jumlah pengikutnya terus bertambah, tawaran kerja sama masih berdatangan, dan hampir setiap konten yang ia unggah mendapatkan cukup banyak perhatian. Ia masih dikenal oleh banyak orang dan namanya sering muncul dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan dunia media sosial. Namun di tengah semua itu, muncul seorang kreator baru yang perlahan mulai menarik perhatian banyak orang. Awalnya Naima tidak terlalu memedulikannya. Ia hanya beberapa kali melihat wajah kreator tersebut muncul di berandanya, kemudian kembali menggulir layar untuk melihat konten lainnya. Namun semakin hari, nama kreator tersebut semakin sering muncul. Video-videonya ramai, jumlah komentarnya banyak, dan yang paling membuat Naima mulai memperhatikannya adalah pertumbuhan jumlah pengikutnya yang sangat cepat.
Suatu malam, ketika sedang beristirahat di kamar, Naima kembali melihat salah satu video kreator tersebut muncul di berandanya. Video itu baru diunggah beberapa jam yang lalu, tetapi jumlah penontonnya sudah mencapai ratusan ribu. Naima akhirnya membuka akun tersebut. Ia melihat satu per satu video yang diunggah, kemudian memperhatikan jumlah pengikutnya. Angkanya memang belum jauh melampaui dirinya, tetapi pertumbuhannya terlihat sangat cepat.
"Baru beberapa bulan sudah sebanyak ini?" gumam Naima pelan.
Ia kemudian membuka beberapa video lainnya. Ada yang sudah mencapai jutaan tayangan, ada pula yang dipenuhi ribuan komentar. Naima mulai memperhatikan cara kreator tersebut berbicara, cara mengambil gambar, bagaimana ia menulis judul, sampai bagaimana ia berinteraksi dengan para pengikutnya. Awalnya hanya rasa penasaran, tetapi tanpa disadari ia mulai membandingkan semuanya dengan dirinya sendiri. Ia kembali membuka akun miliknya, kemudian melihat statistik beberapa video terakhir. Sebenarnya jumlah tayangan Naima masih cukup tinggi. Beberapa videonya masih mencapai ratusan ribu penonton, bahkan ada pula yang lebih dari satu juta. Namun setelah melihat pencapaian kreator baru tersebut, angka-angka yang dulu selalu membuatnya bangga tiba-tiba terasa biasa saja.
Naima membuka kembali akun kreator itu. Ia melihat jumlah pengikutnya sekali lagi, kemudian kembali ke akun miliknya. Ia melakukan hal itu berulang kali, seolah ingin memastikan siapa yang lebih tinggi dan siapa yang pertumbuhannya lebih cepat. Beberapa nama yang memberikan komentar di akun kreator tersebut bahkan terasa tidak asing baginya. Ada di antara mereka yang selama ini juga sering memberikan komentar di unggahan Naima.
"Kenapa mereka sekarang lebih sering di sana?" pikirnya.
Naima langsung menutup aplikasi. Namun rasa penasaran membuatnya kembali membuka akun tersebut beberapa menit kemudian. Kali ini ia melihat pertumbuhan pengikutnya. Dalam beberapa hari, jumlahnya bertambah puluhan ribu. Naima kemudian membuka statistik miliknya sendiri. Jumlah pengikutnya juga bertambah, tetapi tidak sebanyak kreator tersebut. Padahal biasanya ia sudah merasa sangat senang ketika melihat jumlah pengikutnya naik ribuan dalam waktu singkat. Namun kali ini ia justru merasa angka tersebut terlalu kecil.
"Dia bisa bertambah sebanyak itu, sedangkan aku cuma segini."
Sejak saat itu, Naima mulai lebih sering memperhatikan statistik. Setiap kali mengunggah konten, ia akan melihat berapa banyak orang yang menonton dalam satu jam pertama. Setelah itu ia akan kembali melihatnya beberapa jam kemudian. Jika jumlahnya meningkat, ia merasa sedikit lega. Namun tanpa sadar, setelah melihat statistik miliknya, ia selalu membuka akun kreator baru tersebut untuk membandingkannya.
Suatu hari Naima membuat sebuah video yang menurutnya cukup bagus. Ia memilih topik yang sedang ramai, menggunakan pencahayaan terbaik, memilih angle yang menurutnya paling membuat matanya terlihat indah, dan mengulang beberapa bagian sampai benar-benar merasa puas. Setelah video itu selesai, ia segera mengunggahnya. Naima kemudian menunggu sambil sesekali membuka ponselnya.
Satu jam berlalu. Jumlah penonton mulai meningkat.
Dua jam berlalu. Angkanya kembali bertambah.
Naima tersenyum ketika melihat jumlahnya sudah mencapai puluhan ribu. Namun beberapa saat kemudian, seperti biasa, ia membuka akun kreator yang selama ini diam-diam diperhatikannya. Ternyata kreator tersebut juga baru saja mengunggah video.
Jumlah penontonnya sudah jauh lebih tinggi.
Senyum Naima perlahan menghilang. Ia kembali membuka videonya sendiri, kemudian melihat statistiknya sekali lagi. Tidak ada yang salah dengan angka tersebut. Bahkan jumlah penontonnya masih termasuk tinggi. Tetapi karena ada angka lain yang lebih besar, semua pencapaian itu tiba-tiba terasa tidak cukup.
"Kenapa video dia selalu cepat naik?" gumam Naima.
Ia meletakkan ponselnya di atas tempat tidur. Ada rasa kesal yang muncul, meskipun ia sendiri tidak tahu kepada siapa rasa itu ditujukan. Kreator tersebut tidak pernah menyebut namanya. Tidak pernah membandingkan dirinya dengan Naima. Bahkan mungkin tidak tahu bahwa ada seseorang yang setiap hari diam-diam memperhatikan pertumbuhan akunnya. Namun di dalam hati Naima, kehadiran kreator itu perlahan mulai dianggap sebagai sebuah ancaman.
Hari-hari berikutnya, kebiasaan membandingkan itu semakin sering dilakukan. Naima mulai memperhatikan kapan kreator tersebut biasanya mengunggah video. Ia melihat jenis konten apa yang paling banyak mendapatkan perhatian. Ia juga mulai mencari tahu produk apa saja yang dipromosikan dan kegiatan apa saja yang diikutinya. Semuanya dilakukan diam-diam. Naima tidak pernah menceritakan hal itu kepada siapa pun, bahkan kepada Fatimah.
Suatu sore, Fatimah datang berkunjung ke rumah Naima. Mereka duduk bersama setelah cukup lama tidak bertemu. Namun seperti biasa, ponsel Naima tidak pernah jauh dari tangannya. Ketika Fatimah sedang bercerita, Naima sesekali melihat layar ponselnya.
"Kamu sibuk sekali akhir-akhir ini, Ma," kata Fatimah.
Naima tersenyum kecil. "Memang lagi banyak kerjaan."
"Bagus dong kalau begitu."
"Iya. Sekarang memang banyak yang harus diurus."
Fatimah mengangguk, tetapi ia melihat Naima kembali membuka ponselnya. Saat itu, Naima sedang melihat statistik kreator baru tersebut. Begitu menyadari Fatimah memperhatikannya, ia langsung menutup aplikasi.
"Kamu lihat apa?" tanya Fatimah.
"Enggak apa-apa. Cuma lihat-lihat saja."
Fatimah tidak bertanya lagi. Ia memilih melanjutkan pembicaraan mereka. Namun Naima sebenarnya sudah tidak terlalu fokus. Pikirannya masih tertuju pada angka yang baru saja dilihatnya. Video kreator tersebut sudah mencapai lebih dari satu juta tayangan hanya dalam waktu satu hari. Sementara salah satu videonya yang diunggah dua hari sebelumnya masih jauh di bawah angka itu.
Dulu Naima bisa merasa sangat bahagia ketika satu videonya mencapai seratus ribu tayangan. Angka itu sudah cukup membuatnya bersyukur dan merasa senang. Namun sekarang, ketika melihat orang lain mendapatkan jutaan tayangan, seratus ribu seolah tidak lagi berarti apa-apa. Ia mulai lupa bahwa dirinya sebenarnya sudah berada di tempat yang dulu bahkan tidak pernah ia bayangkan. Ia memiliki banyak pengikut, mendapatkan penghasilan yang besar, dikenal oleh banyak orang, dan memiliki kesempatan untuk melakukan berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya. Namun semua itu terasa kurang ketika ia melihat ada orang lain yang terlihat lebih berhasil.
Naima mulai merasa bahwa dirinya harus selalu menjadi yang lebih baik. Lebih banyak pengikutnya. Lebih tinggi jumlah penontonnya. Lebih banyak mendapatkan pujian. Lebih sering mendapatkan undangan. Ia tidak lagi hanya ingin dikenal, tetapi mulai ingin menjadi lebih dikenal daripada orang lain.
Tanpa disadari, perasaan itu membuat Naima semakin sibuk. Ia mulai membuat lebih banyak konten. Jika melihat kreator tersebut mengunggah beberapa video dalam sehari, Naima juga merasa harus melakukan hal yang sama. Jika kreator itu melakukan siaran langsung dalam waktu lama, Naima mulai berpikir untuk melakukan live streaming lebih lama agar para pengikutnya tidak berpaling. Semua dilakukan karena ia tidak ingin kehilangan perhatian yang selama ini sudah didapatkannya.
Semakin hari, Naima semakin lelah. Ia terus mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah memiliki batas. Ketika jumlah pengikutnya bertambah, ia ingin lebih banyak lagi. Ketika satu videonya mendapatkan satu juta tayangan, ia mulai berharap video berikutnya bisa mendapatkan dua juta. Namun di saat yang sama, ia tetap tidak merasa puas karena selalu ada orang lain yang memiliki angka lebih tinggi.
Suatu malam, Naima kembali duduk sendirian di kamarnya sambil melihat statistik akun media sosialnya. Jumlah pengikutnya sebenarnya bertambah cukup banyak hari itu. Ada ribuan pengikut baru yang masuk. Namun wajahnya tidak terlihat bahagia. Ia justru sibuk menghitung berapa banyak pertumbuhan yang bisa ia dapatkan dalam satu minggu dan berapa jumlah yang mungkin akan dicapai dalam satu bulan.
Setelah itu, tanpa sadar, ia kembali membuka akun kreator tersebut.
Jumlah pengikutnya bertambah lagi.
Naima menghela napas panjang.
"Kenapa dia terus naik?"
Ada rasa tidak nyaman di dalam dirinya. Ia mulai berharap agar suatu hari kreator tersebut tidak mendapatkan tayangan sebanyak biasanya. Bahkan ketika suatu ketika ia melihat salah satu video kreator tersebut memiliki jumlah penonton yang lebih rendah, Naima justru merasa sedikit lega.
Perasaan itu membuatnya terdiam.
"Kenapa aku malah senang melihat orang lain turun?"
Naima sempat bertanya kepada dirinya sendiri. Namun pertanyaan itu tidak bertahan lama. Ia kembali membuka statistik miliknya dan melihat bahwa jumlah pengikutnya kembali bertambah. Seketika perasaannya berubah. Ia tersenyum dan kembali merasa baik-baik saja.
Padahal perlahan-lahan ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Dulu Naima merasa cukup ketika apa yang dilakukannya mendapatkan perhatian dan manfaat bagi orang lain. Sekarang ia mulai merasa tidak tenang ketika melihat orang lain mendapatkan perhatian lebih besar darinya. Keberhasilan orang lain tidak lagi hanya menjadi sebuah pencapaian yang bisa ia lihat dan apresiasi, tetapi mulai terasa seperti ancaman terhadap popularitasnya sendiri.
Naima tidak menyadari bahwa selama ini ia sebenarnya sedang berjuang dengan dirinya sendiri. Bukan dengan kreator baru tersebut. Bukan dengan jumlah pengikut yang terus bertambah. Bukan pula dengan angka-angka yang muncul di layar ponselnya. Semua itu hanya menjadi alasan bagi sesuatu yang lebih besar yang mulai tumbuh di dalam hatinya.
Ia semakin sulit merasa cukup. Semakin sulit merasa puas. Dan semakin takut jika suatu hari ada orang lain yang mengambil perhatian yang selama ini ia nikmati.
Naima hanya tahu satu hal. Ia tidak ingin kalah. Dan keinginan untuk tidak kalah itu perlahan membuatnya semakin jauh masuk ke dalam dunia yang selama ini begitu ia kejar.
BERSAMBUNG