Di Balik Cadar

2

Di Balik Layar

5 min baca · 839 kata ·
09 Agustus 2026

Pintu kamar Naima tertutup rapat. Suasana yang tadi dipenuhi suara tawa dan percakapan kini berubah menjadi sunyi. Hanya suara pendingin ruangan dan sesekali bunyi notifikasi dari ponsel yang terdengar. Naima duduk di depan kamera kecil yang sudah terpasang rapi di atas tripod. Cahaya ring light menerangi wajahnya, sementara di belakangnya sebuah sudut kamar telah ditata sedemikian rupa. Tidak banyak barang, hanya beberapa buku, tanaman hias kecil, dan sebuah rak yang sengaja diletakkan agar latar belakang videonya terlihat lebih menarik.

Naima menekan tombol rekam.

"Assalamu'alaikum, sahabat semuanya..."

Ia berhenti. Tangannya segera meraih ponsel dan memeriksa hasil rekaman.

"Ulang."

Video pertama dihapus. Ia kembali mengatur posisi duduknya, kali ini sedikit lebih menyamping. Naima menekan tombol rekam untuk kedua kalinya.

"Assalamu'alaikum, sahabat semuanya. Semoga hari ini kita selalu—"

Ia kembali berhenti.

"Ah, kurang bagus."

Rekaman kedua pun dihapus.

Ketiga. Keempat. Kelima. Keenam. Semuanya berakhir dengan hal yang sama. Hapus!

Naima menatap layar ponselnya dengan serius. Bukan isi pesan yang pertama kali ia perhatikan, melainkan bagaimana dirinya terlihat di layar. Ia memperbesar hasil rekaman, kemudian memperhatikan kedua matanya. Posisi wajahnya digeser sedikit ke kanan, lalu ke kiri.

"Yang ini lebih bagus."

Jarinya kembali menyentuh layar. Sebuah filter dipilih. Mata Naima tampak lebih terang, bulu matanya terlihat semakin lentik, warna kulitnya menjadi lebih halus, dan cahaya di sekitar wajahnya terlihat lebih lembut. Naima tersenyum kecil. Ia merasa sangat sempurna dengan filter itu.

"Ini."

Ia kembali memperhatikan hasilnya. Untuk beberapa detik, ia hanya diam. Ada kepuasan kecil yang muncul ketika melihat dirinya sendiri di layar. Padahal beberapa menit sebelumnya ia baru saja mengatakan kepada Fatimah bahwa dirinya tidak sedang mengejar popularitas.

Naima kembali merekam. Kali ini ia sudah menemukan sudut yang menurutnya paling sempurna. Kepalanya sedikit dimiringkan, matanya diarahkan tepat ke kamera, sementara suaranya dibuat lebih lembut.

"Assalamu'alaikum, ukhti semua..."

Ia tersenyum. Senyum yang sama seperti yang sering dilihat para pengikutnya. Senyum yang terlihat teduh dan tenang. Namun setelah rekaman selesai, senyum itu perlahan menghilang. Naima kembali memeriksa video. Ada bagian yang membuatnya tidak puas.

Hapus.

Rekam lagi.

Hapus.

Rekam lagi.

Entah sudah berapa kali ia melakukan hal yang sama. Jam di dinding kamar menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi Naima masih berada di tempat yang sama. Ia tidak merasa sedang bekerja. Setidaknya, begitulah yang selalu ia katakan kepada dirinya sendiri.

"Ini kan cuma konten."

"Ini kan untuk berbagi."

"Ini kan supaya orang lain mendapatkan manfaat."

Kalimat-kalimat itu selalu ia gunakan untuk menenangkan dirinya sendiri. Namun jauh di dalam hati, ada sesuatu yang tidak bisa ia bohongi. Ia menyukai ketika orang-orang memperhatikannya. Ia menyukai ketika notifikasi ponselnya tidak berhenti berbunyi. Ia menyukai ketika seseorang menulis bahwa matanya begitu indah. Ia menyukai ketika ada yang mengatakan bahwa dirinya terlihat anggun. Dan lebih dari semuanya, ia menyukai perasaan ketika melihat jumlah penonton terus bertambah.

Naima membuka salah satu unggahannya. Seratus ribu tayangan. Ia tersenyum. Kemudian ia membuka unggahan yang lain. Dua ratus ribu tayangan. Senyumnya semakin lebar. Namun ketika menemukan sebuah video yang hanya mendapatkan belasan ribu tayangan, ekspresinya berubah. Dahinya mengernyit.

"Kenapa yang ini sedikit?"

Ia membuka kolom komentar. Tidak banyak pujian seperti biasanya. Tidak ada komentar yang mengatakan matanya indah. Tidak ada yang memanggilnya ukhti cantik. Tidak ada komentar yang membuatnya merasa istimewa.

Naima meletakkan ponselnya di atas meja. Entah mengapa dadanya terasa sesak. Padahal tidak ada seorang pun yang menyakitinya. Tidak ada yang memarahinya. Tidak ada yang mengatakan sesuatu yang buruk. Hanya angka. Angka yang seharusnya tidak memiliki arti apa-apa. Namun malam itu, angka tersebut mampu mengubah suasana hatinya.

Naima berdiri dan berjalan menuju cermin. Ia menatap dirinya sendiri. Cadar masih menutupi wajahnya, hanya kedua matanya yang terlihat. Ia memperhatikan matanya cukup lama. Kemudian tangannya menyentuh bulu mata yang tadi sengaja ia buat lebih lentik.

"Bagus, kan?"

Ia tersenyum kepada bayangannya sendiri.

Namun untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya terasa asing. Dia menemukan dirinya dengan versi yang lebih baru, lebih menyukai tantangan dan kebahagiaan ini.

Naima kembali duduk. Ponselnya berbunyi. Satu notifikasi, kemudian dua, lalu bertambah menjadi puluhan. Wajahnya kembali cerah. Tangannya segera meraih ponsel. Satu komentar dibaca, kemudian komentar berikutnya. Sebuah senyum kembali muncul di wajahnya, seolah-olah kegelisahan beberapa menit yang lalu tidak pernah terjadi.

Begitulah kehidupan Naima sekarang. Ia membutuhkan kamera untuk merasa percaya diri. Ia membutuhkan angka untuk merasa berhasil. Ia membutuhkan komentar untuk merasa berharga. Dan tanpa disadarinya, ia mulai membutuhkan perhatian orang lain untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia masih cukup baik.

Di depan kamera, Naima terlihat sempurna. Di balik kamera, ia terus berusaha menjadi sempurna.

Padahal tidak ada seorang pun yang tahu bahwa untuk menghasilkan satu video yang terlihat begitu tenang, Naima harus mengulanginya berkali-kali. Tidak ada yang tahu berapa kali ia mengganti angle. Tidak ada yang tahu berapa banyak filter yang ia coba. Dan tidak ada yang tahu bahwa di balik kedua mata indah yang selalu ia tampilkan di layar, ada hati yang mulai gelisah ketika perhatian manusia perlahan berkurang.

Naima kembali menyalakan kamera. Ia tersenyum dan menatap lensa.

"Assalamu'alaikum, sahabat semuanya..."

Kali ini rekamannya tidak dihapus.

Menurut Naima, inilah versi dirinya yang paling sempurna.

Setidaknya, versi yang ingin ia perlihatkan kepada dunia yang bisa memberinya kepuasan.


BERSAMBUNG