Pagi itu Naima bangun seperti biasanya. Tangannya langsung mencari ponsel yang berada di samping tempat tidur. Kebiasaan itu sudah menjadi sesuatu yang sulit ia tinggalkan. Bahkan sebelum benar-benar membuka mata dengan sempurna, ia sudah memeriksa notifikasi yang masuk. Ada banyak pesan dari pengikutnya, beberapa komentar baru, dan beberapa pemberitahuan tentang video yang ia unggah malam sebelumnya. Naima tersenyum kecil ketika melihat jumlah tayangannya terus bertambah. Ia merasa semuanya kembali berjalan seperti biasa setelah beberapa hari terakhir dirinya sempat merasa tidak nyaman dengan pikirannya sendiri.
Namun pagi itu ada sesuatu yang berbeda.
Salah satu video yang ia unggah malam sebelumnya tiba-tiba mendapatkan jumlah penonton yang jauh lebih cepat dari biasanya. Naima awalnya merasa senang. Ia mengira video tersebut sedang disukai banyak orang. Tetapi ketika membuka kolom komentar, ekspresinya perlahan berubah. Ada banyak orang yang membicarakan bagian tertentu dari video tersebut. Sebagian mempertanyakan perkataannya, sebagian menganggapnya tidak pantas, dan beberapa bahkan mulai menyebut Naima sebagai orang yang tidak konsisten dengan apa yang selama ini ia sampaikan.
Naima membaca salah satu komentar.
"Kok ngomongnya begitu? Bukannya selama ini Kak Naima selalu bilang jangan merendahkan orang lain?"
Ia mengerutkan kening.
Ia kembali memutar videonya. Kali ini ia memperhatikan bagian yang sedang dipermasalahkan. Sebenarnya ia hanya bercanda ketika mengatakan kalimat tersebut. Ia tidak bermaksud menyindir atau merendahkan siapa pun. Bahkan ketika merekamnya, ia sama sekali tidak berpikir bahwa perkataan itu akan menjadi masalah.
"Ah, mereka terlalu serius," gumamnya.
Naima menutup kolom komentar. Ia mencoba tidak memikirkannya.
Namun beberapa menit kemudian, notifikasi kembali masuk. Kali ini jumlahnya lebih banyak. Ada akun yang mengunggah potongan video Naima dan memberikan judul yang membuatnya terlihat seolah-olah sedang menghina orang lain. Potongan tersebut hanya berdurasi beberapa detik, tetapi bagian sebelum dan sesudahnya tidak ikut ditampilkan. Orang-orang yang melihatnya pun hanya mengetahui potongan tersebut tanpa memahami konteks sebenarnya.
Naima mulai merasa tidak nyaman.
Ia menghubungi Zahra.
"Zah, kamu lihat yang ramai?"
"Yang video kamu?"
"Iya."
Zahra membuka ponselnya dan melihat beberapa unggahan yang sedang beredar.
"Sudah mulai ramai."
"Padahal aku cuma bercanda."
"Aku tahu."
"Terus bagaimana?"
Zahra terdiam beberapa saat.
"Jangan langsung panik. Kita lihat dulu perkembangannya."
Naima mengangguk meskipun sebenarnya hatinya sudah mulai gelisah. Ia kembali membuka media sosial. Jumlah tayangan video tersebut semakin tinggi. Tetapi kali ini bukan jumlah penonton yang membuatnya senang. Ia justru takut melihat apa yang sedang dibicarakan orang.
Komentar yang awalnya hanya beberapa mulai bertambah menjadi ratusan.
Kemudian ribuan.
Ada yang masih membelanya, tetapi jumlah komentar yang menyerang juga semakin banyak.
"Selama ini saya kira dia berbeda."
"Ternyata cuma pencitraan."
"Ngomongnya tentang agama terus, tapi ternyata seperti itu."
"Jangan percaya sama konten seperti ini."
"Munafik."
Naima membaca komentar-komentar itu dengan tangan yang mulai terasa dingin. Satu komentar membuatnya berhenti cukup lama.
"Dulu saya kagum sama Kak Naima. Sekarang saya kecewa."
Naima mengenali akun tersebut. Orang itu sudah lama menjadi pengikutnya. Bahkan beberapa kali memberikan komentar positif di video-video sebelumnya. Ia pernah menulis bahwa Naima adalah sosok yang menginspirasi dan membuatnya ingin memperbaiki diri. Sekarang orang yang sama justru ikut menyalahkannya.
Naima menelan ludah.
"Kenapa semuanya berubah?"
Ia kembali membaca komentar lain.
Orang-orang yang dulu memujinya mulai menulis hal-hal yang menyakitkan. Ada yang mengatakan dirinya hanya pandai berbicara. Ada yang menyebut semua kontennya hanya pencitraan. Ada pula yang mulai membongkar video-video lamanya dan mencari kesalahan lain yang pernah dilakukan Naima.
Sebuah kesalahan kecil tiba-tiba menjadi seperti pintu yang membuka banyak hal. Potongan-potongan video lama mulai bermunculan. Ucapan yang dulu tidak pernah dipermasalahkan kini ditafsirkan berbeda. Candaan yang dulu dianggap biasa sekarang disebut sebagai bukti bahwa dirinya memang seperti itu. Naima merasa dunia sedang berbalik menyerangnya.
"Ini tidak adil."
Ia mengatakannya sambil menatap layar ponsel.
Zahra kemudian menelepon.
"Na, jangan baca komentar terus."
"Aku harus bagaimana? Mereka semua menyerang aku."
"Tenang. Kita bisa klarifikasi."
"Aku harus minta maaf?"
"Kalau memang perlu, kita buat pernyataan."
Naima terdiam.
Sebagian dirinya merasa tidak perlu meminta maaf karena ia tidak bermaksud melakukan kesalahan. Namun bagian lain dalam dirinya takut kehilangan pengikut.
"Kalau aku minta maaf, nanti mereka menganggap aku benar-benar salah."
"Kalau tidak minta maaf, mereka bisa semakin ramai."
Naima tidak menjawab. Ia merasa terjebak.
Selama ini ia selalu terbiasa mendapatkan pujian. Ketika ada orang yang mengatakan dirinya cantik, ia tersenyum. Ketika ada yang menyebutnya inspiratif, hatinya merasa senang. Ketika orang-orang mengatakan bahwa dirinya adalah perempuan yang baik dan memberikan manfaat, ia merasa bangga.
Namun sekarang semua itu berubah. Pujian berubah menjadi hujatan. Komentar yang dulu membuatnya tersenyum kini membuatnya menangis.Orang-orang yang dulu mengatakan bahwa mereka mengaguminya kini mengatakan bahwa mereka kecewa. Naima mulai menyadari betapa rapuhnya sesuatu yang selama ini ia bangun.
Ia membuka salah satu unggahan lamanya. Ribuan komentar positif masih ada di sana.
"Masyaallah, Kak Naima."
"Semoga selalu istiqamah."
"Terima kasih sudah mengingatkan kami."
"Kak Naima benar-benar menginspirasi."
Naima membaca komentar-komentar itu sambil menahan air mata. Dulu ia merasa komentar tersebut adalah bukti bahwa dirinya berharga. Sekarang ia baru sadar bahwa komentar-komentar itu juga bisa hilang dalam sekejap.
Ia kembali membuka unggahan yang sedang viral. Jumlah tayangannya sudah mencapai jutaan. Naima tidak merasa bahagia. Untuk pertama kalinya, angka yang begitu besar justru membuatnya takut.
Zahra kembali mengirim pesan.
"Jangan posting apa pun dulu. Kita tunggu sampai situasinya lebih jelas."
Naima hanya membalas singkat.
"Baik."
Namun beberapa menit kemudian, ia kembali membuka media sosial.
Ia melihat namanya mulai muncul di berbagai unggahan. Beberapa akun membuat video khusus membahas dirinya. Ada yang memberikan kritik, ada yang menghujat, dan ada pula yang sekadar ikut-ikutan karena melihat topik tersebut sedang ramai.
Naima merasa napasnya semakin berat. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar.
"Aku cuma salah ngomong."
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Aku tidak bermaksud seperti itu."
Namun internet tidak mengenal penjelasan yang panjang. Orang-orang hanya melihat apa yang muncul di layar mereka.
Naima kemudian membuka kamera depan ponselnya. Matanya terlihat sembap. Ia memperhatikan wajahnya sendiri.
Biasanya ia akan memperbaiki penampilannya sebelum menyalakan kamera. Namun kali ini ia tidak peduli. Ia ingin membuat video klarifikasi. Tangannya sudah memegang ponsel. Namun sebelum merekam, ia teringat nasihat Zahra.
Jangan posting apa pun dulu.
Naima menurunkan ponselnya. Ia duduk di tepi tempat tidur dan mulai menangis. Bukan hanya karena hujatan yang diterimanya, tetapi karena untuk pertama kalinya ia merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia pikirkan.
Bagaimana jika semua yang ia bangun selama ini memang hanya bergantung pada pandangan orang? Bagaimana jika orang-orang yang selama ini memujinya sebenarnya hanya menyukai sosok yang ia tampilkan di layar? Dan bagaimana jika suatu hari mereka berhenti menyukainya?
Naima menutup wajahnya dengan kedua tangan. Selama bertahun-tahun ia mengejar popularitas. Ia mengejar angka. Ia mengejar perhatian.
Kini, ketika perhatian itu datang dalam bentuk yang berbeda, ia baru menyadari bahwa dirinya ternyata tidak siap menerimanya.
Dulu ia takut ketika jumlah penonton berkurang. Sekarang ia justru takut ketika jumlah penonton bertambah. Karena setiap penonton datang membawa penilaian. Dan kali ini, penilaian itu begitu tajam.
Naima mengambil ponselnya lagi dan melihat layar yang dipenuhi notifikasi. Tidak ada lagi senyum di wajahnya. Hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar di dalam pikirannya.
"Kalau mereka tidak lagi menyukai Naima yang ada di layar, lalu apakah masih ada yang menyukai Naima yang sebenarnya?"
Ia tidak menemukan jawabannya.
BERSAMBUNG