Di Balik Cadar

10

Ketika Semuanya Mulai Pergi

6 min baca · 1176 kata ·
30 Agustus 2026

Beberapa hari setelah video Naima menjadi perbincangan, suasana di media sosial mulai sedikit lebih tenang. Tidak sebanyak sebelumnya orang-orang membicarakan kesalahan yang ia lakukan. Namun bagi Naima, masalah itu belum benar-benar selesai. Justru ketika hujatan mulai berkurang, ia mulai merasakan dampak yang sebenarnya. Ponselnya yang dulu hampir setiap saat berbunyi kini mulai lebih banyak diam. Pesan kerja sama yang biasanya datang setiap hari mulai berkurang. Beberapa pihak yang sebelumnya sering menghubunginya kini tidak lagi memberikan kabar. Naima masih mencoba berpikir positif dan menganggap semua itu hanya sementara, tetapi jauh di dalam hatinya ia mulai merasa takut.

Suatu pagi, ketika sedang duduk di meja makan, ponsel Naima berbunyi. Ia langsung mengambilnya dengan harapan ada tawaran pekerjaan baru. Namun ternyata pesan tersebut berasal dari salah satu pihak yang selama ini bekerja sama dengannya.

"Assalamu'alaikum, Kak Naima. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, untuk sementara kerja sama yang akan datang kami batalkan terlebih dahulu. Semoga ke depannya kita bisa bekerja sama kembali. Terima kasih atas pengertiannya."

Naima membaca pesan itu berulang kali. Ia tidak langsung menjawab.

Kerja sama tersebut sebenarnya sudah dibicarakan sejak beberapa minggu sebelumnya. Bahkan jadwal pembuatan konten sudah disiapkan. Honor yang akan diterimanya juga cukup besar. Naima sempat memasukkan uang tersebut ke dalam perencanaan keuangannya karena mengira kerja sama itu sudah hampir pasti berjalan.

Sekarang semuanya batal.

Naima menarik napas panjang.

"Kenapa dibatalkan?"

Ia sebenarnya sudah tahu jawabannya.

Namun ia tetap mencoba menghubungi Zahra.

"Zah, ada kerja sama yang dibatalkan."

"Yang mana?"

Naima mengirimkan tangkapan layar pesan tersebut.

Zahra membacanya beberapa saat sebelum menjawab.

"Mungkin mereka lagi menjaga citra brand."

"Cuma gara-gara masalah kemarin?"

"Na, perusahaan juga punya pertimbangan sendiri. Mereka tidak mau ikut terseret."

Naima terdiam.

Kalimat itu terasa menyakitkan.

Dulu ketika namanya sedang naik, banyak orang yang ingin bekerja sama dengannya. Mereka datang membawa berbagai tawaran. Ada yang ingin produknya dipromosikan, ada yang mengundangnya ke acara, dan ada pula yang ingin menjadikan Naima sebagai bagian dari kampanye mereka. Saat itu Naima merasa bahwa dirinya sudah berada di tempat yang aman. Ia merasa popularitas yang dimilikinya akan bertahan lama.

Sekarang ia baru menyadari bahwa semua itu bisa berubah hanya dalam waktu singkat. Belum sempat ia benar-benar menerima kenyataan tersebut, beberapa hari kemudian ada pesan lain yang masuk.

Undangan untuk mengisi sebuah kegiatan dakwah yang sebelumnya sudah dijadwalkan ternyata dibatalkan.

"Maaf, Kak. Untuk kegiatan bulan depan sementara kami tunda dulu karena ada beberapa penyesuaian."

Naima membaca pesan tersebut dengan wajah datar. Kali ini ia tidak langsung bertanya. Ia sudah mulai mengerti.

Nama yang dulu dianggap mampu menarik banyak peserta kini justru mulai dipertimbangkan kembali. Orang-orang mulai berhati-hati mengundangnya. Bukan karena Naima tiba-tiba menjadi orang yang tidak memiliki kemampuan, tetapi karena citranya sudah mulai berubah di mata sebagian orang.

Undangan yang biasanya datang beberapa kali dalam sebulan kini semakin jarang.

Satu minggu berlalu.

Tidak ada.

Dua minggu.

Hanya ada satu undangan kecil yang bahkan belum pasti.

Naima mulai sering membuka jadwal lamanya. Ia melihat catatan kegiatan yang pernah dibuat beberapa bulan sebelumnya. Hampir setiap halaman dipenuhi tulisan. Ada acara, kerja sama, undangan, live streaming, dan berbagai kegiatan lainnya.

Sekarang kalender itu terlihat jauh lebih kosong. Naima merasa aneh melihatnya. Dulu ia mengeluh karena terlalu sibuk. Sekarang ia justru berharap ada sesuatu yang bisa mengisi kekosongan tersebut.

Namun yang paling membuatnya terpukul bukanlah pekerjaan yang berkurang. Melainkan jumlah pengikutnya. Awalnya hanya turun beberapa ratus. Naima tidak terlalu memikirkannya.

"Namanya juga ada yang unfollow."

Namun keesokan harinya jumlahnya kembali turun. Kemudian hari berikutnya turun lagi. Naima mulai memperhatikan angka tersebut. Ia membuka statistik akunnya hampir setiap beberapa jam.

"Kenapa turun terus?"

Zahra mencoba menenangkannya.

"Normal, Na. Setelah ada kontroversi, pasti ada yang pergi."

"Tapi biasanya naik terus."

"Memang. Tapi sekarang situasinya berbeda."

Naima terdiam.

Ia melihat jumlah pengikut yang selama ini begitu ia banggakan perlahan berkurang. Angka yang dulu membuatnya tersenyum kini justru membuatnya cemas.

Ia mulai membaca komentar.

Beberapa orang mengatakan bahwa mereka sudah tidak tertarik mengikuti kontennya. Ada yang mengatakan kecewa. Ada yang mengatakan ingin berhenti mengikuti karena merasa Naima sudah berubah. Namun ada pula yang masih memberikan dukungan.

"Semoga Kak Naima bisa belajar dari kejadian ini."

Naima membaca komentar tersebut cukup lama. Dulu mungkin ia akan merasa tersinggung. Sekarang ia justru tidak tahu harus merasa apa.

Ia kemudian membuka akun kreator yang dulu sering dibandingkannya. Jumlah pengikutnya justru terus bertambah. Kontennya semakin ramai. Beberapa videonya kembali masuk ke beranda Naima.

Naima menatap layar dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Dulu melihat keberhasilan orang tersebut membuatnya merasa tersaingi. Sekarang melihatnya justru membuatnya semakin merasa tertinggal. Ia menutup aplikasi.

Kemudian membukanya lagi. Kebiasaan itu seperti tidak bisa dihentikan. Naima mulai mencari cara untuk mengembalikan popularitasnya. Ia bertanya kepada Zahra apakah mereka perlu membuat konten baru.

"Mungkin kita harus mulai upload lagi," kata Naima.

"Jangan terburu-buru."

"Tapi kalau aku diam terus, pengikutku semakin banyak yang pergi."

"Kalau sekarang kamu membuat konten hanya karena takut kehilangan pengikut, justru bisa semakin salah."

Naima tidak menjawab. Ia tahu Zahra benar. Tetapi rasa takut dalam dirinya jauh lebih besar. Ia takut kehilangan apa yang selama ini sudah dibangunnya.

Ia takut tidak lagi dikenal. Ia takut tidak lagi mendapatkan undangan. Ia takut tidak lagi mendapatkan honor besar. Dan yang paling membuatnya takut adalah ketika melihat angka pengikutnya terus turun.

Malam itu Naima duduk sendirian di kamar. Ia membuka kembali video-video lamanya. Ada begitu banyak kenangan yang tersimpan di dalam akun tersebut. Ia melihat dirinya beberapa tahun lalu ketika baru mulai membuat konten. Saat itu pengikutnya masih sedikit. Ia membuat video dengan sederhana. Tidak ada ring light mahal, tidak ada manajer, tidak ada jadwal yang padat, dan tidak ada target jutaan tayangan.

Ia hanya membuat apa yang ingin dibuatnya. Naima tersenyum melihat dirinya yang dulu. Kemudian ia membuka video yang lebih baru.

Di sana ia terlihat jauh lebih profesional. Pencahayaan bagus, suara jernih, pengambilan gambar rapi, dan jumlah penontonnya sangat banyak. Namun entah mengapa, video-video itu justru terasa jauh dari dirinya.

Naima menutup mata.

Ia mulai memikirkan semua yang telah terjadi.

Dulu ia mengejar popularitas karena merasa bisa menggunakannya untuk menyebarkan kebaikan. Keemudian popularitas itu membuatnya menikmati pujian. Pujian membuatnya ingin lebih banyak diperhatikan. Perhatian membuatnya mengejar angka. Angka membuatnya takut kalah dari orang lain. Dan ketika akhirnya ia melakukan kesalahan, semua yang ia bangun mulai runtuh satu per satu.

Naima membuka kembali jumlah pengikutnya. Turun lagi. Ia menghela napas. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kehilangan yang sebenarnya. Bukan kehilangan uang. Bukan kehilangan pekerjaan. Bukan pula kehilangan popularitas semata. Ia merasa sedang kehilangan kehidupan yang selama ini ia bangun sendiri.

Ponselnya kembali berbunyi. Satu notifikasi.

Naima membukanya.

Seseorang berhenti mengikuti akunnya.

Naima menatap layar beberapa detik. Kemudian ia meletakkan ponselnya. Dulu satu pengikut baru bisa membuatnya tersenyum. Sekarang satu pengikut yang pergi bisa membuatnya merasa gagal.

Dan malam itu Naima mulai menyadari bahwa dirinya telah menjadikan angka-angka tersebut sebagai bagian dari harga dirinya.

Ketika angka naik, ia merasa berharga. Ketika angka turun, ia merasa tidak berarti.

Ia duduk sendirian dalam kamar yang sunyi. Tidak ada kamera. Tidak ada Zahra. Tidak ada pengikut. Tidak ada komentar. Hanya ada dirinya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Naima harus berhadapan dengan dirinya tanpa bisa bersembunyi di balik layar.


BERSAMBUNG