Setelah meminta maaf kepada Fatimah, hati Naima memang terasa sedikit lebih ringan, tetapi masih ada sesuatu yang belum benar-benar ia keluarkan. Selama ini ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana dirinya terlihat di depan orang lain sampai lupa bahwa ada satu tempat di mana ia sebenarnya tidak perlu berpura-pura, yaitu di hadapan keluarganya sendiri. Naima masih menyimpan banyak cerita yang belum pernah ia sampaikan kepada ibunya. Tentang bagaimana awalnya ia membuat konten, tentang jumlah pengikut yang membuatnya terlena, tentang pujian yang perlahan membuat hatinya senang, tentang Zahra yang membantunya mengejar angka, tentang kreator baru yang membuatnya iri, sampai pada kesalahan kecil yang kemudian membuat semuanya berubah. Semua itu selama ini hanya berputar-putar di dalam kepalanya. Maka pada suatu sore, ketika suasana rumah sedang cukup tenang, Naima memberanikan diri untuk duduk bersama ibunya.
Ibu Maryam adalah perempuan sederhana yang sejak dulu menjalani hidup apa adanya. Ia tidak pernah terlalu mengenal dunia media sosial. Ponsel yang digunakan sehari-hari pun hanya untuk menerima telepon, mengirim pesan, atau sesekali melihat foto keluarga. Ia tidak memahami istilah engagement, algoritma, followers, konten viral, atau berbagai istilah lain yang setiap hari memenuhi kehidupan Naima. Ibu Maryam juga bukan perempuan yang mengenakan cadar. Ia hanya menggunakan jilbab sederhana ketika keluar rumah, dengan pakaian yang tidak berlebihan. Baginya, kehidupan tidak perlu dibuat rumit. Bangun pagi, beribadah, mengurus rumah, memasak, berkumpul dengan keluarga, dan menjalani hari dengan tenang sudah cukup membuatnya merasa bersyukur. Karena itulah Naima merasa sedikit malu ketika harus menceritakan kehidupannya yang selama ini begitu jauh dari kesederhanaan ibunya.
"Bu..."
"Iya, Nak?"
Naima duduk di samping ibunya. Untuk beberapa saat ia hanya diam. Ibu Maryam yang sedang melipat pakaian melihat wajah putrinya yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Kamu kenapa?"
Naima menghela napas.
"Aku mau cerita."
Ibu Maryam menghentikan pekerjaannya dan menatap putrinya. "Cerita saja. Ibu dengarkan."
Naima kemudian mulai bercerita. Ia menceritakan semuanya dari awal. Tentang bagaimana dulu ia hanya membuat konten dakwah sederhana tanpa memikirkan jumlah penonton. Kemudian orang-orang mulai mengenalnya, jumlah pengikutnya bertambah, komentar pujian semakin banyak, hingga akhirnya ia mulai menikmati semua itu. Ia bercerita tentang bagaimana setiap pujian membuat hatinya senang, bagaimana ia mulai gelisah ketika jumlah tayangan turun, bagaimana ia membandingkan dirinya dengan kreator lain, dan bagaimana Zahra kemudian mendorongnya membuat konten yang lebih emosional agar mendapatkan lebih banyak perhatian.
Ibu Maryam mendengarkan tanpa menyela.
Naima terus berbicara.
Ia menceritakan tentang video yang menjadi viral karena kesalahan kecil, hujatan yang datang, kontrak yang dibatalkan, undangan yang berkurang, hingga pengikut yang mulai meninggalkannya. Ia juga menceritakan bahwa setelah semua itu terjadi, ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri apakah selama ini ia benar-benar berdakwah karena Allah atau hanya karena ingin mendapatkan perhatian manusia.
Ketika semua cerita itu selesai, Naima menundukkan kepala. Air matanya mulai jatuh.
"Aku malu, Bu."
Ibu Maryam tidak langsung menjawab.
"Kenapa malu?"
"Karena aku merasa sudah jauh sekali. Aku bicara tentang agama kepada banyak orang, tapi aku sendiri malah sibuk mengejar pujian. Aku bilang kepada orang-orang supaya ikhlas, tapi aku sendiri senang ketika dipuji. Aku bilang jangan mencari penilaian manusia, tapi aku malah setiap hari melihat berapa banyak orang yang menyukai aku."
Ibu Maryam menarik napas panjang. Tangannya kemudian mengusap kepala Naima seperti ketika putrinya masih kecil.
"Nak..."
Suara Ibu Maryam terdengar lembut.
"Allah tidak pernah menghitung berapa banyak pengikutmu. Allah hanya melihat isi hatimu."
Naima terdiam.
Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih dalam daripada berbagai nasihat yang pernah ia dengar.
Ibu Maryam melanjutkan, "Ibu memang tidak mengerti media sosial. Ibu tidak tahu bagaimana caranya supaya orang banyak melihat tulisan atau videomu. Ibu juga tidak tahu kenapa orang bisa senang melihat angka pengikut yang banyak. Tapi Ibu tahu satu hal. Jangan sampai sesuatu yang seharusnya menjadi jalan kebaikan malah membuat hati kamu jauh dari Allah."
Naima mengusap air matanya.
"Kamu tahu apa itu riya'?"
Naima mengangguk pelan.
"Tahu, Bu."
"Riya' itu penyakit hati, Nak. Kadang datangnya tidak terasa. Kita melakukan sesuatu yang baik, lalu awalnya memang karena Allah. Tapi kemudian kita senang ketika ada yang melihat. Kita mulai berharap dipuji. Kita mulai kecewa kalau tidak ada yang memperhatikan. Lama-lama kita tidak lagi sibuk memikirkan apakah Allah menerima amal kita atau tidak, tetapi sibuk memikirkan apakah manusia menyukai kita atau tidak."
Naima menundukkan kepala semakin dalam.
Ia merasa seolah-olah ibunya sedang menceritakan dirinya sendiri.
"Ibu tidak bilang kamu tidak boleh berdakwah lewat media sosial. Tidak. Kalau memang itu bisa menjadi jalan kebaikan, lanjutkan. Tapi kamu harus sering bertanya kepada dirimu sendiri, untuk siapa kamu melakukan semua itu?"
Naima terdiam cukup lama.
"Kalau tidak ada yang menonton, apakah kamu masih mau melakukannya?"
Pertanyaan itu membuat Naima tertegun.
Ibu Maryam kembali melanjutkan, "Kalau tidak ada yang memuji, apakah kamu masih mau menyampaikan kebaikan? Kalau tidak ada yang tahu namamu, apakah kamu masih mau berbuat baik? Kalau jawabannya iya, insyaallah kamu sedang belajar ikhlas. Tapi kalau kamu hanya semangat ketika banyak yang melihat, kamu harus hati-hati. Bisa jadi hati kamu sedang meminta sesuatu dari manusia."
Naima menangis.
"Berarti selama ini aku salah, Bu?"
Ibu Maryam tersenyum.
"Jangan buru-buru mengatakan semuanya salah. Kamu sedang diuji. Popularitas juga ujian. Uang juga ujian. Pujian juga ujian. Bahkan ketika orang-orang membencimu, itu juga ujian."
Naima mengangkat wajahnya.
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Perbaiki niatmu."
"Bagaimana caranya?"
"Setiap kali kamu mau melakukan sesuatu, tanyakan kepada dirimu sendiri, apakah Allah akan senang dengan apa yang kamu lakukan? Jangan terlalu sibuk memikirkan manusia sampai lupa kepada Allah."
Ibu Maryam kemudian menggenggam tangan putrinya.
"Dan jangan merasa kamu harus menjadi sempurna di depan manusia. Kamu ini manusia, Nak. Bisa salah, bisa lupa, bisa jatuh. Yang penting jangan betah dalam kesalahan."
Naima menangis dalam pelukan ibunya.
Selama ini ia mencari jawaban dari berbagai tempat. Ia membaca komentar, bertanya kepada Zahra, memperhatikan statistik, bahkan membandingkan dirinya dengan orang lain. Namun jawaban yang selama ini ia cari ternyata disampaikan oleh perempuan sederhana yang bahkan tidak memahami dunia yang telah membuat Naima begitu jauh tersesat.
Sore semakin berganti malam. Setelah percakapan itu, Naima duduk sendirian di kamarnya. Ia mengambil ponselnya, membuka akun media sosial, kemudian melihat jumlah pengikutnya. Angkanya masih terus berkurang. Untuk sesaat hatinya kembali terasa tidak nyaman. Kebiasaan lama itu hampir membuatnya membuka statistik.
Namun ia teringat suara ibunya.
"Allah tidak pernah menghitung berapa banyak pengikutmu. Allah hanya melihat isi hatimu."
Naima mengunci layar ponselnya. Untuk pertama kalinya, angka itu tidak lagi ia lihat. Ia meletakkan ponsel di atas meja, mengambil Al-Qur'an, kemudian duduk dengan tenang.
Mungkin perjalanan untuk memperbaiki hati tidak akan selesai dalam satu malam. Mungkin riya' masih akan datang. Mungkin keinginan untuk dipuji masih akan muncul. Tetapi setidaknya sekarang Naima tahu bahwa ia harus mulai mengawasi sesuatu yang selama ini justru paling ia abaikan. Bukan jumlah pengikutnya. Bukan jumlah tayangannya. Bukan komentar manusia. Melainkan hatinya sendiri.
BERSAMBUNG