Di Balik Cadar

11

Untuk Siapa Aku Melakukannya?

7 min baca · 1319 kata ·
30 Agustus 2026

Hari-hari setelah pekerjaan mulai berkurang membuat Naima lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Tidak ada lagi jadwal yang begitu padat seperti beberapa bulan sebelumnya. Tidak ada banyak undangan yang harus dihadiri, tidak banyak pesan dari pihak yang ingin bekerja sama, dan live streaming yang dulu hampir setiap malam dilakukan kini hanya sesekali. Pada awalnya Naima merasa lega karena akhirnya memiliki waktu untuk beristirahat. Namun setelah beberapa hari berlalu, rasa lega itu berubah menjadi kegelisahan. Ia justru merasa tidak tenang ketika melihat dirinya tidak sesibuk dulu. Ponselnya masih berada di tangannya hampir sepanjang hari, tetapi sekarang ia lebih sering melihat layar yang sepi daripada notifikasi yang berdatangan. Jumlah pengikutnya masih terus berkurang meskipun tidak sebanyak sebelumnya. Ia mencoba membuat beberapa konten baru, tetapi hasilnya tidak seperti yang ia harapkan. Bahkan ketika sebuah video mendapatkan cukup banyak tayangan, Naima tidak lagi merasakan kebahagiaan yang sama. Ada sesuatu yang kosong di dalam dirinya.

Suatu pagi, Naima duduk sendirian di ruang tamu. Di hadapannya terdapat Al-Qur'an yang sudah beberapa waktu tidak benar-benar ia baca dengan tenang. Ia memandanginya cukup lama. Sebenarnya tidak ada yang melarangnya untuk membuka dan membacanya. Tidak ada pula yang membuatnya tidak memiliki waktu. Justru sekarang waktunya lebih banyak. Tetapi entah kenapa setiap kali hendak membacanya, pikirannya selalu dipenuhi berbagai hal. Ia memikirkan akun media sosialnya, jumlah pengikut yang terus menurun, tawaran kerja sama yang semakin sedikit, dan bagaimana caranya agar orang-orang kembali memperhatikannya. Ia merasa aneh. Dulu ketika sedang menghadapi masalah, ia bisa dengan mudah mengambil wudu dan duduk membaca Al-Qur'an. Sekarang ketika masalah datang, hal pertama yang ia lakukan justru membuka ponsel dan melihat apa yang sedang terjadi di media sosial.

Naima akhirnya mengambil Al-Qur'an tersebut. Tangannya membuka halaman demi halaman dengan perlahan. Ia mencoba membaca beberapa ayat, tetapi pikirannya kembali melayang. Baru beberapa saat membaca, ia sudah teringat dengan salah satu komentar yang ditulis orang beberapa hari lalu. Ia menutup matanya sebentar dan menarik napas panjang.

"Kenapa aku begini?"

Tidak ada yang menjawab.

Naima kembali mencoba membaca. Kali ini ia memaksa dirinya untuk berkonsentrasi. Namun semakin ia mencoba menenangkan pikirannya, semakin banyak hal yang muncul di kepalanya. Ia teringat ketika pertama kali mengenakan cadar. Saat itu semuanya terasa sederhana. Ia tidak memikirkan kamera. Ia tidak memikirkan jumlah pengikut. Ia bahkan tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari dirinya akan dikenal oleh banyak orang hanya karena apa yang ia bagikan di media sosial. Ia hanya ingin memperbaiki dirinya sedikit demi sedikit.

Naima berhenti membaca.

Ingatan itu membuat dadanya terasa sesak.

Ia teringat dirinya yang dulu sering bangun lebih awal untuk beribadah. Ia teringat bagaimana dulu ia bisa menolak pujian yang berlebihan karena merasa tidak pantas mendapatkannya. Ia juga teringat nasihat Fatimah yang berkali-kali mengingatkannya agar tidak terlalu mencari popularitas.

Dulu ia menganggap Fatimah berlebihan.

Sekarang justru setiap perkataan sahabatnya itu seperti kembali terdengar di kepalanya.

"Jangan terlalu mencari citra dan popularitas di dunia maya, Ma."

Naima menundukkan kepala.

Ia ingin mengatakan bahwa semuanya tidak seperti yang Fatimah pikirkan. Ia ingin membela dirinya sendiri seperti dulu. Tetapi kali ini ia tidak bisa. Ada bagian dalam dirinya yang mulai mempertanyakan apakah selama ini Fatimah memang benar.

Naima meletakkan Al-Qur'an di atas meja.

Ia mengambil ponselnya.

Tanpa berpikir panjang, ia membuka akun media sosialnya. Jumlah pengikutnya kembali turun. Hanya beberapa puluh, tetapi angka sekecil itu tetap membuat dadanya terasa tidak nyaman. Ia kemudian membuka video lamanya. Video yang dulu mendapatkan banyak pujian. Ia melihat komentar-komentar lama yang mengatakan bahwa dirinya adalah perempuan yang menginspirasi, teduh, sabar, dan selalu memberikan nasihat yang menenangkan.

Naima membaca semuanya.

Kemudian ia bertanya dalam hati, "Apakah aku memang seperti yang mereka katakan?"

Pertanyaan itu terasa lebih berat daripada yang ia bayangkan.

Ia membuka salah satu video ketika dirinya sedang memberikan nasihat tentang keikhlasan. Di dalam video itu ia berkata bahwa manusia tidak perlu terlalu memikirkan penilaian orang lain karena yang paling penting adalah penilaian Allah. Naima menatap wajahnya sendiri di layar. Ia ingat bagaimana setelah video itu selesai direkam, dirinya langsung membuka statistik untuk melihat apakah konten tersebut ramai atau tidak.

Ia terdiam.

Ada rasa malu yang tiba-tiba muncul.

Selama ini ia berbicara tentang keikhlasan, tetapi mengapa hatinya begitu gelisah ketika tidak mendapatkan pujian? Ia berbicara tentang tidak mencari perhatian manusia, tetapi mengapa dirinya begitu takut ketika jumlah pengikut berkurang? Ia berbicara tentang menerima apa yang Allah berikan, tetapi mengapa ia merasa iri ketika orang lain mendapatkan lebih banyak perhatian darinya?

Naima mematikan layar ponselnya.

Air matanya mulai jatuh.

Ia tidak tahu kapan terakhir kali menangis karena merasa takut kepada Allah. Selama ini ia lebih sering menangis karena komentar buruk, kehilangan pengikut, atau pekerjaan yang batal. Bahkan ketika membuat konten sedih, air mata yang keluar kadang merupakan bagian dari sesuatu yang sudah direncanakan. Tetapi kali ini berbeda. Tidak ada kamera di depannya. Tidak ada Zahra yang mengarahkan. Tidak ada pengikut yang menonton.

Hanya dirinya sendiri. Dan rasa bersalah yang selama ini berusaha ia sembunyikan.

Naima bangkit dan mengambil wudu. Setelah itu ia mengenakan mukena dan berdiri untuk salat. Namun ketika mulai membaca takbir, pikirannya kembali penuh. Ia merasa sulit berkonsentrasi. Ia mencoba mengingat Allah, tetapi pikirannya terus melayang pada kehidupan yang selama ini ia jalani.

Setelah selesai salat, Naima tidak langsung beranjak dari tempatnya. Ia duduk dan menundukkan kepala.

"Ya Allah..."

Suaranya sangat pelan.

Untuk beberapa saat ia tidak mampu melanjutkan.

Ia merasa malu untuk mengadu. Bukan karena Allah tidak mau mendengar, tetapi karena ia sendiri merasa telah terlalu jauh meninggalkan apa yang seharusnya menjadi tujuan hidupnya. Ia teringat begitu banyak waktu yang dihabiskannya untuk membuat konten. Berapa kali ia mengulang video hanya agar terlihat sempurna. Berapa kali ia membaca komentar hanya untuk mencari pujian. Berapa kali ia merasa kecewa karena angka tidak sesuai harapan. Berapa kali ia membandingkan dirinya dengan orang lain.

Dan yang paling membuatnya takut adalah sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul begitu saja.

"Aku berdakwah karena Allah ... atau karena manusia?"

Naima terdiam.

Pertanyaan itu terasa seperti menghantam sesuatu yang selama ini ia sembunyikan dari dirinya sendiri. Ia mencoba mencari jawaban yang bisa membuat hatinya tenang.

"Tentu karena Allah."

Namun kali ini jawaban itu tidak langsung terasa meyakinkan. Jika benar karena Allah, mengapa ia begitu sedih ketika tidak dipuji? Jika benar karena Allah, mengapa ia begitu takut kehilangan pengikut? Jika benar karena Allah, mengapa ia lebih memikirkan jumlah tayangan daripada kualitas ibadahnya?

Naima menangis semakin deras. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Aku sebenarnya sedang melakukan apa?"

Tidak ada jawaban selain isak tangisnya sendiri.

Ia teringat ketika pertama kali memulai konten dakwah. Saat itu ia tidak memiliki banyak pengikut. Ia tidak mendapatkan uang. Tidak ada orang yang mengenalnya. Namun ia tetap membuat konten karena memang ingin berbagi sesuatu yang menurutnya bermanfaat.

Lalu semuanya berubah. Sedikit demi sedikit ia mulai menyukai pujian. Kemudian ia menyukai perhatian. Setelah itu ia menyukai angka. Dan akhirnya ia takut kehilangan semuanya.

Naima menyadari bahwa mungkin masalahnya bukan ketika ia dikenal orang. Bukan pula ketika ia mendapatkan penghasilan dari media sosial. Yang membuatnya jatuh adalah ketika sesuatu yang awalnya hanya menjadi sarana perlahan berubah menjadi tujuan.

Ia menatap mukena yang dikenakannya. Air matanya belum berhenti.

"Ya Allah, kalau selama ini niatku sudah salah, bagaimana aku harus memperbaikinya?"

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Naima tidak meminta agar jumlah pengikutnya kembali bertambah. Ia tidak meminta agar undangan datang lagi. Ia tidak meminta agar orang-orang kembali memujinya. Ia hanya meminta agar hatinya kembali seperti dulu.

Namun di dalam dirinya masih ada ketakutan yang besar. Ia tahu menyadari kesalahan bukan berarti semuanya akan langsung berubah. Ia masih mencintai popularitas. Ia masih senang ketika dipuji. Ia masih takut kehilangan perhatian. Dan ia belum tahu apakah dirinya benar-benar sanggup melepaskan semua itu.

Naima kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia menatap layar yang masih mati. Untuk beberapa detik, tangannya hampir menyalakannya.

Namun kali ini ia berhenti. Ia meletakkan kembali ponsel itu. Lalu memejamkan mata. Mungkin untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Naima sedang belajar untuk tidak melihat dirinya dari mata manusia.

Tetapi perjalanan untuk kembali menemukan dirinya ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.


BERSAMBUNG