Di Balik Cadar

5

Ketika Popularitas Menjadi Tujuan

8 min baca · 1425 kata ·
26 Agustus 2026

Hari-hari Naima kini semakin dipenuhi dengan berbagai macam kegiatan. Sejak namanya mulai dikenal banyak orang, tawaran untuk mengisi acara, membuat konten, melakukan promosi, hingga menjadi pembicara di berbagai kegiatan mulai berdatangan. Hampir setiap minggu selalu ada jadwal baru yang harus ia catat. Ponselnya tidak pernah sepi dari pesan masuk, baik dari pengikut, pemilik usaha, maupun orang-orang yang ingin bekerja sama dengannya.

Dulu Naima hanya membuat konten dari kamar dengan peralatan sederhana. Sekarang ia sudah mempunyai jadwal yang tersusun rapi. Pagi hari terkadang digunakan untuk membuat beberapa video sekaligus, siang hari menghadiri undangan, sore melakukan siaran langsung, dan malam hari masih harus memeriksa pesan serta komentar dari para pengikutnya.

"Besok jam sembilan ada undangan, jam satu siang meeting, sore live, malam ada acara lagi," gumam Naima sambil melihat jadwal di ponselnya.

Ia tersenyum sendiri.

Dulu ia tidak pernah membayangkan akan memiliki kesibukan seperti ini. Ia bahkan pernah merasa aneh melihat orang-orang yang begitu sibuk mengejar popularitas di media sosial. Namun sekarang dirinya justru berada di dalam keadaan yang sama.

Semakin banyak pekerjaan yang datang, semakin besar pula penghasilan yang ia dapatkan. Honor yang dulu hanya beberapa ratus ribu rupiah kini bisa mencapai jutaan rupiah untuk satu kali kerja sama. Bahkan beberapa pihak berani membayar lebih mahal hanya untuk mendapatkan namanya sebagai bagian dari promosi mereka.

Hal itu membuat Naima semakin bersemangat. Ia merasa semua yang selama ini dilakukan mulai membuahkan hasil.

"Alhamdulillah," ucapnya setiap kali menerima pembayaran.

Namun tanpa disadarinya, kata alhamdulillah itu terkadang hanya berhenti di bibir.

Hari demi hari berlalu. Jumlah pengikutnya terus bertambah. Dari puluhan ribu menjadi ratusan ribu. Setiap kali jumlah itu bertambah, Naima selalu merasa bangga. Ia bahkan mulai sering memeriksa jumlah pengikut sebelum tidur dan kembali melihatnya ketika bangun pagi.

"Sudah naik lagi."

Senyumnya mengembang. Tidak jarang ia mengambil tangkapan layar ketika jumlah pengikutnya mencapai angka tertentu. Ia menyimpannya sebagai pencapaian. Bagi Naima, angka-angka itu semakin lama semakin penting.

Seratus ribu pengikut membuatnya bahagia.

Dua ratus ribu membuatnya semakin percaya diri.

Tiga ratus ribu membuatnya merasa bahwa dirinya sudah benar-benar berhasil.

Ia mulai membandingkan akunnya dengan akun orang lain. Jika ada seseorang yang jumlah pengikutnya lebih sedikit, ia merasa berada di atas. Namun jika ada yang jumlah pengikutnya lebih banyak, ia mulai merasa tertantang.

"Aku harus bisa lebih besar dari dia."

Pikiran itu mulai sering muncul.

Naima tidak lagi hanya membuat konten untuk menyampaikan sesuatu yang bermanfaat. Ia mulai memikirkan apa yang sedang disukai orang, apa yang sedang viral, bagaimana membuat orang tertarik, dan bagaimana agar videonya bisa mendapatkan lebih banyak penonton.

Setiap kali membuat video, pertanyaan yang muncul bukan lagi, 'Apakah ini bermanfaat?'

Tetapi, 'Apakah ini akan ramai?'

Perubahan itu terjadi begitu perlahan hingga Naima sendiri tidak menyadarinya.

Bahkan dalam beberapa kesempatan, ia rela menunda waktu istirahat hanya untuk mengejar sebuah konten yang menurutnya sedang ramai diperbincangkan. Ia takut kehilangan kesempatan. Ia takut orang lain lebih dahulu membuat konten tersebut. Ia takut jumlah penontonnya turun. Kesibukannya membuat banyak hal mulai berubah. Termasuk ibadahnya.

Dulu Naima selalu berusaha menjaga salat tepat waktu. Jika sudah terdengar azan, ia akan segera meninggalkan apa pun yang sedang dikerjakannya. Ia juga terbiasa membaca Al-Qur'an setiap hari meskipun hanya beberapa halaman. Setelah mengenakan cadar, ia bahkan pernah berjanji kepada dirinya sendiri untuk terus memperbaiki diri dan menjadi perempuan yang lebih dekat kepada Allah.

Namun sekarang semuanya mulai berantakan. Ketika azan terdengar, Naima terkadang masih sibuk membuat video.

'Nanti saja, masih sebentar.'

Ketika waktu salat tiba saat ia sedang dalam perjalanan, ia mulai mencari alasan untuk menundanya.

'Nanti kalau sudah sampai.'

Ketika sudah sampai rumah, tubuhnya merasa lelah.

'Nanti setelah istirahat.'

Pada akhirnya, waktu berlalu begitu saja. Hal yang dulu terasa sangat penting kini mulai kalah oleh kesibukan.

Al-Qur'an yang dulu sering berada di dekat tempat tidurnya kini lebih sering tertutup dan berdebu. Bukan karena Naima tidak lagi mencintai Al-Qur'an, tetapi karena ia selalu merasa masih memiliki banyak waktu untuk membacanya nanti.

'Nanti malam saja.'

Namun malam datang dengan kesibukan yang lain. Ia harus memeriksa hasil video. Membalas pesan. Melihat komentar. Mengecek jumlah tayangan. Mengatur jadwal besok. Dan ketika semua selesai, matanya sudah terasa berat. Naima tidur.

Keesokan harinya, semua kembali berulang. Begitulah hari-harinya berjalan.

Sementara itu, Fatimah semakin sering melihat perubahan tersebut. Suatu sore mereka bertemu setelah cukup lama tidak mengobrol secara langsung. Naima datang dengan penampilan yang terlihat semakin rapi dan membawa beberapa barang yang menunjukkan kesibukannya sebagai seorang konten kreator.

"Kamu sekarang sibuk sekali ya, Ma," kata Fatimah.

Naima tertawa kecil.

"Alhamdulillah. Banyak yang ngajak kerja sama."

"Baguslah kalau begitu."

"Honor sekarang juga lumayan."

Fatimah tersenyum.

"Yang penting jangan sampai kesibukan membuat kamu lupa istirahat."

Naima mengangguk.

"Tenang saja. Aku bisa mengatur semuanya."

Fatimah sebenarnya ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi ia mengurungkannya. Ia takut kejadian sebelumnya terulang kembali.

Naima kemudian bercerita panjang tentang pekerjaan yang sedang dijalaninya. Ia menceritakan tawaran yang datang, jumlah pengikutnya yang semakin banyak, acara yang akan dihadirinya, dan beberapa orang terkenal yang mulai mengenalnya.

Wajahnya terlihat begitu bahagia ketika membicarakan semua itu.

Fatimah hanya mendengarkan.

Namun di tengah pembicaraan, azan terdengar dari masjid yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.

Fatimah secara spontan melihat jam.

"Sudah masuk waktu salat."

Naima juga melihat jam di ponselnya.

"Oh iya."

Ia tidak langsung berdiri. Tangannya masih sibuk membuka sebuah pesan kerja sama.

Fatimah menatapnya.

"Kamu tidak salat dulu?"

"Nanti. Ini ada yang harus aku balas."

Fatimah terdiam. Kalimat sederhana itu membuat hatinya terasa berat.

Dulu, Naima adalah orang yang paling cepat mengingatkan dirinya ketika waktu salat tiba. Sekarang justru Naima yang mengatakan nanti.

Fatimah tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya berdiri dan pergi untuk menunaikan salat. Sementara Naima masih duduk di tempatnya.

Pesan yang ia baca memang penting bagi pekerjaannya. Tetapi sebenarnya masih bisa dijawab beberapa menit kemudian. Namun bagi Naima saat itu, pekerjaannya terasa lebih mendesak.

Setelah Fatimah kembali, Naima baru saja selesai membalas pesan tersebut.

"Ayo," kata Fatimah.

"Mau ke mana?"

"Salat."

Naima terdiam sebentar.

"Oh iya."

Ia kemudian berdiri.

Namun dalam perjalanan menuju tempat salat, pikirannya masih tertuju pada pekerjaannya. Ia memikirkan konten yang harus dibuat malam nanti. Ia memikirkan sebuah produk yang akan dipromosikan. Ia juga memikirkan target jumlah penonton yang harus dicapai. Bahkan ketika sedang beribadah, pikirannya masih dipenuhi urusan dunia maya.

Tanpa disadarinya, popularitas yang dulu hanya dianggap sebagai sarana kini mulai berubah menjadi tujuan. Naima semakin menyukai ketika namanya disebut orang. Ia merasa bangga ketika ada yang mengenalinya. Ia merasa senang ketika diundang ke berbagai acara. Ia merasa bahagia ketika mendapatkan honor besar. Dan ia merasa gelisah ketika semua itu mulai berkurang.

Semuanya perlahan menjadi ukuran kebahagiaannya. Bukan lagi seberapa banyak kebaikan yang bisa ia berikan, tetapi seberapa banyak orang yang melihatnya. Bukan lagi seberapa ikhlas ia menyampaikan nasihat, tetapi seberapa banyak orang yang memuji dirinya. Bukan lagi seberapa dekat ia dengan Allah, tetapi seberapa besar namanya dikenal manusia.

Naima mulai masuk terlalu dalam. Namun ia belum menyadarinya. Ia masih merasa bahwa dirinya baik-baik saja. Ia masih menggunakan kata dakwah untuk membenarkan semua yang dilakukan. Ia masih mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa popularitas itu hanya sebuah akibat. Padahal jauh di dalam hatinya, ia mulai mengejar akibat tersebut.

Suatu malam, setelah selesai melakukan live streaming, Naima melihat jumlah penontonnya.

"Seratus dua puluh ribu..."

Ia tersenyum puas. Komentar terus berdatangan.

"Kak Naima cantik."

"Masyaallah, semakin hari semakin anggun."

"Suara Kak Naima bikin adem."

"Semoga bisa ketemu langsung."

Naima membaca komentar-komentar itu satu per satu. Ia merasa senang. Kemudian sebuah komentar muncul.

"Semoga Kak Naima tetap istiqamah dan tidak berubah karena popularitas."

Naima berhenti membaca. Matanya tertuju pada komentar itu. Entah mengapa kalimat tersebut terasa berbeda. Ia mengabaikannya dan kembali membaca komentar lainnya.

Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk dari salah satu pengikutnya.

"Kak, jangan berubah ya. Saya suka Kak Naima yang dulu."

Naima kembali terdiam. Untuk beberapa saat, ia hanya memandang layar ponselnya. Kak Naima yang dulu ... ia mulai bertanya-tanya dalam hati. Apakah dirinya memang sudah berubah?

Naima segera menggeleng.

"Tidak. Aku masih sama."

Ia menutup aplikasi tersebut.

Kemudian mengambil ponsel lain yang digunakan untuk melihat jadwal pekerjaan besok. Masih ada beberapa agenda yang harus dilakukan. Naima kembali sibuk.

Pertanyaan tadi perlahan ia lupakan. Ia belum tahu bahwa perubahan terbesar dalam dirinya bukanlah perubahan penampilan, bukan pula bertambahnya jumlah pengikut. Melainkan perubahan di dalam hati.

Ia yang dulu takut kehilangan keikhlasan, kini justru takut kehilangan popularitas. Ia yang dulu ingin dikenal sebagai perempuan yang sederhana, kini mulai menikmati ketika banyak orang mengenal namanya.

Dan ia yang dulu melakukan sesuatu karena Allah, perlahan mulai melakukan banyak hal karena ingin dilihat manusia.

Popularitas itu sudah bukan lagi sekadar sesuatu yang datang kepadanya. Kini Naima mulai mengejarnya. Dan semakin ia mengejar, semakin dalam pula ia masuk ke dalamnya.


BERSAMBUNG