Di Balik Cadar

15

Menemukan Tenang

4 min baca · 724 kata ·
31 Agustus 2026

Beberapa minggu kemudian, Naima kembali membuat konten. Keputusan itu tidak datang karena keinginannya untuk kembali mendapatkan popularitas, tetapi karena ia merasa masih memiliki sesuatu yang ingin disampaikan. Ia kembali duduk di depan kamera dengan perlengkapan sederhana. Tidak ada lagi persiapan berlebihan seperti dulu. Ia tidak terlalu memikirkan sudut pengambilan gambar, tidak berulang kali memeriksa wajahnya, dan tidak lagi meminta Zahra mencari cara agar videonya terlihat lebih menarik. Kali ini Naima hanya ingin berbicara dengan apa adanya. Ia menyampaikan beberapa nasihat sederhana tentang menjaga hati, tentang keikhlasan, dan tentang bagaimana manusia terkadang terlalu sibuk memperbaiki pandangan orang lain terhadap dirinya sampai lupa memperbaiki dirinya sendiri.

Setelah selesai merekam, Naima menonton videonya sekali. Tidak ada keinginan untuk mengulangnya berkali-kali hanya karena merasa ekspresinya kurang sempurna. Ia juga tidak lagi mencari filter yang membuat matanya terlihat lebih indah. Setelah merasa cukup, ia mengunggah video tersebut. Tangannya sempat berhenti beberapa detik setelah menekan tombol unggah. Kebiasaan lama tiba-tiba muncul. Dulu setelah mengunggah sebuah konten, hal pertama yang dilakukannya adalah membuka statistik. Ia ingin tahu berapa banyak orang yang sudah menonton, berapa yang menyukai, berapa yang membagikan, dan berapa banyak pengikut baru yang masuk. Bahkan terkadang baru beberapa menit berlalu, ia sudah memeriksa kembali. Namun kali ini Naima meletakkan ponselnya di atas meja dan beranjak pergi.

Beberapa jam kemudian, ia kembali melihat ponselnya. Ada beberapa komentar yang masuk. Tidak sebanyak dulu. Jumlah tayangannya pun biasa saja. Tidak ada lonjakan besar seperti ketika dirinya masih berada di puncak popularitas. Naima membaca beberapa komentar tersebut dengan tenang. Ada yang mengucapkan terima kasih, ada yang memberikan tanggapan, dan ada pula yang hanya meninggalkan satu dua kata. Setelah itu ia menutup kembali aplikasi tersebut. Tidak ada rasa kecewa. Tidak ada keinginan untuk menghapus video karena tidak mendapatkan banyak perhatian. Tidak ada pula keinginan untuk membuat konten lain secara terburu-buru agar angka kembali naik.

Hari berikutnya ia melakukan hal yang sama. Ia membuat konten ketika memang memiliki sesuatu yang ingin disampaikan. Ia berhenti ketika tidak ada yang ingin ia katakan. Perlahan ia mulai terbiasa dengan keadaan tersebut. Jumlah komentarnya jauh lebih sedikit. Followers tidak lagi bertambah pesat. Bahkan sesekali masih ada orang yang berhenti mengikuti akunnya. Tetapi Naima tidak lagi menjadikan semua itu sebagai ukuran keberhasilannya. Ia mulai memahami bahwa mungkin selama ini dirinya terlalu sibuk menghitung berapa banyak orang yang mendengar perkataannya, sampai lupa bertanya apakah dirinya sendiri sudah menjalankan apa yang ia sampaikan.

Suatu malam, setelah selesai mengunggah sebuah video, Naima duduk di dekat jendela. Ponselnya berada di atas meja dan layar notifikasi sesekali menyala. Ia tahu mungkin ada komentar baru. Ia tahu mungkin ada orang yang memberikan tanda suka. Namun ia tidak segera mengambilnya. Ia memilih tetap duduk dan menikmati suasana malam. Tidak ada rasa penasaran yang berlebihan. Tidak ada jantung yang berdebar menunggu angka. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa bisa bernapas tanpa harus mengetahui bagaimana orang lain menilai dirinya.

Fatimah yang sedang berada di rumahnya sempat bertanya, "Kamu enggak penasaran videomu dapat berapa?"

Naima tersenyum.

"Dulu penasaran sekali. Sekarang kalau ramai ya Alhamdulillah, kalau sepi juga tidak apa-apa."

Fatimah ikut tersenyum.

"Berarti kamu sudah benar-benar berubah."

Naima menggeleng pelan.

"Aku belum tahu. Mungkin aku masih belajar."

Jawaban itu membuat Fatimah terdiam sejenak. Memang, Naima belum menjadi manusia yang sempurna. Sesekali keinginan untuk dipuji masih muncul. Sesekali ia masih merasa senang ketika sebuah konten mendapatkan respons yang baik. Namun sekarang ia sudah tahu bagaimana mengendalikan perasaan tersebut. Ia tidak lagi membiarkan angka menentukan apakah dirinya berharga atau tidak.

Naima kemudian kembali menatap ponselnya. Ia tidak membukanya. Ia hanya tersenyum dan membiarkannya tetap berada di atas meja.

Ia akhirnya memahami bahwa ketenangan yang selama ini ia cari ternyata tidak berada di balik jumlah pengikut yang banyak, bukan pula pada pujian manusia atau tingginya angka tayangan. Ketenangan itu justru muncul ketika ia berhenti berusaha menjadi seseorang yang disukai semua orang dan mulai belajar menjadi seseorang yang ikhlas di hadapan Allah.

Naima menundukkan kepala.

Dalam perjalanan panjangnya, ia pernah mengira bahwa cadar adalah sesuatu yang cukup untuk membuat dirinya terlihat lebih baik di mata manusia. Namun kini ia memahami bahwa menutup wajah tidak otomatis membuat hati menjadi bersih. Ada sesuatu yang jauh lebih sulit untuk dijaga daripada sekadar penampilan, yaitu niat.

Dan di dalam keheningan malam itu, sebuah kesadaran kembali tumbuh di dalam hatinya.

"Cadar memang mampu menutupi wajah dari pandangan manusia. Namun hanya keikhlasan yang mampu membuka jalan menuju ridha Allah."