Di Balik Cadar

3

Perhatian yang Mulai Membelenggu

5 min baca · 819 kata ·
26 Agustus 2026

Sejak popularitas Naima semakin meningkat, pesan yang masuk ke ponselnya tidak pernah berhenti. Hampir setiap kali ia membuka media sosial, selalu ada notifikasi baru yang menunggu untuk dibaca. Sebagian besar berasal dari para pengikutnya yang ingin bertanya tentang konten yang ia buat, meminta nasihat, atau sekadar memberikan apresiasi. Namun semakin lama, semakin banyak pula laki-laki yang mulai mengirim pesan kepadanya. Ada yang memang ingin belajar agama, ada yang hanya ingin mengenalnya lebih jauh, dan ada pula yang terang-terangan mengatakan ingin melamarnya.

Awalnya Naima tidak terlalu memperhatikan hal itu. Ia menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa, apalagi sebagian dari mereka memang datang dengan pertanyaan tentang agama.

"Assalamu'alaikum, Kak. Saya ingin bertanya tentang hukum memakai cadar, boleh?"

"Wa'alaikumussalam. Silakan," jawab Naima.

Percakapan seperti itu sering terjadi. Naima merasa senang jika bisa membantu orang lain mendapatkan pengetahuan yang menurutnya bermanfaat. Namun tidak semua percakapan berhenti sampai di sana. Setelah mendapatkan jawaban, biasanya mereka akan kembali mengirim pesan dengan pertanyaan lain yang terkadang sudah tidak berhubungan dengan agama.

"Terima kasih sudah menjawab, Kak. Kalau boleh saya bertanya lagi?"

"Silakan."

"Kalau boleh tahu, Kak Naima tinggal di mana?"

Naima sempat terdiam membaca pesan itu. Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pembahasan sebelumnya, tetapi ia tetap menjawab singkat.

"Di Jawa."

Dari satu pertanyaan kemudian berlanjut menjadi percakapan yang panjang. Ada yang bertanya tentang aktivitas sehari-harinya, makanan kesukaannya, sampai alasan Naima mulai mengenakan cadar. Beberapa dari mereka bahkan mengaku sudah lama mengikuti akun media sosialnya.

"Saya suka sekali mendengar nasihat Kak Naima. Suaranya menenangkan."

Naima tersenyum membaca pesan itu. Ada rasa senang yang muncul di dalam hatinya. Ia mulai terbiasa dengan pujian-pujian semacam itu.

"Masyaallah, teduh sekali tatapan matanya."

"Kak Naima berbeda dari perempuan lain."

"Semoga suatu hari saya bisa bertemu dengan Kak Naima."

Awalnya Naima hanya membaca pesan-pesan tersebut tanpa memberikan balasan. Namun lama-kelamaan, ia mulai merasa senang setiap kali menemukan pesan baru dari para pengikut laki-laki. Bahkan terkadang ia sengaja membuka kotak pesannya berulang kali hanya untuk melihat apakah ada seseorang yang mencarinya.

Suatu malam, ketika sedang duduk di atas tempat tidur, Naima menemukan sebuah pesan yang berbeda dari biasanya.

"Assalamu'alaikum. Maaf kalau pesan saya lancang. Saya sudah cukup lama mengikuti konten Kak Naima. Saya tertarik dengan cara Kakak menyampaikan sesuatu. Kalau Kakak berkenan, saya ingin mengenal Kakak lebih jauh dengan niat yang serius."

Naima terdiam. Ia membaca pesan itu sekali lagi. Kali ini tidak ada pertanyaan tentang agama dan tidak ada pembahasan mengenai konten yang ia buat. Laki-laki itu terang-terangan mengatakan ingin mengenalnya untuk tujuan pernikahan.

Naima tersenyum kecil. Entah mengapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia tidak langsung membalas pesan tersebut. Ponselnya diletakkan di samping bantal, tetapi beberapa menit kemudian tangannya kembali mengambilnya. Pesan itu dibaca lagi.

Ia tersenyum.

Kemudian Naima membuka komentar-komentar di unggahannya. Ternyata bukan hanya satu orang yang memberikan perhatian kepadanya. Ada beberapa laki-laki yang memberikan pujian, ada yang mencoba mengajaknya berbicara melalui pesan pribadi, bahkan ada pula yang secara terang-terangan mengatakan ingin melamarnya.

Dulu mungkin Naima akan merasa risih dengan perhatian seperti itu. Namun sekarang tidak. Justru ada bagian dari dirinya yang merasa bangga.

Ia mulai berpikir bahwa popularitas yang dimilikinya ternyata membuat banyak orang tertarik kepadanya.

Naima membuka kamera depan ponselnya. Ia memperhatikan kedua matanya yang tampak jelas di balik cadar. Bulu matanya masih terlihat lentik seperti biasanya. Ia tersenyum kepada layar.

"Berarti aku memang menarik perhatian mereka," gumamnya pelan.

Tidak ada seorang pun di kamar itu yang mendengarnya.

Naima kemudian kembali membuka media sosialnya. Sebuah komentar baru muncul di salah satu unggahannya.

"Masyaallah, ukhti. Kalau saya belum menikah, mungkin sudah saya lamar."

Naima membaca komentar tersebut berkali-kali. Bukannya merasa terganggu, ia justru tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari bahwa pujian dari orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya mampu membuat suasana hatinya berubah.

Ketika banyak yang memuji, ia merasa bahagia. Ketika pesan masuk bertubi-tubi, ia merasa dirinya berharga. Namun ketika sehari saja tidak banyak yang memperhatikannya, ada perasaan kosong yang mulai muncul.

Naima tidak menyadari bahwa sesuatu sedang berubah dalam dirinya. Perlahan, ia tidak lagi hanya membuat konten karena ingin berbagi. Ia mulai membuat konten karena ingin dilihat. Ia mulai semakin memperhatikan penampilannya di depan kamera, memilih angle yang membuat tatapannya terlihat lebih indah, memperhatikan riasan matanya, dan memastikan setiap video yang diunggah terlihat sempurna.

Bahkan sebelum mengunggah sebuah video, ia bisa menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk memastikan tidak ada bagian yang menurutnya kurang menarik. Semua itu dilakukan agar para pengikutnya tetap memberikan perhatian yang sama seperti sebelumnya.

Dan setiap kali jumlah penonton meningkat, hatinya ikut berbunga-bunga. Naima merasa sedang berada di puncak. Ia belum menyadari bahwa semakin lama ia menikmati perhatian itu, semakin sulit baginya untuk melepaskannya.

Sementara itu, Fatimah yang masih menyimpan kekhawatiran tentang sahabatnya hanya bisa memperhatikan perubahan Naima dari kejauhan. Ia tahu bahwa sesuatu yang awalnya terlihat kecil bisa menjadi besar jika terus dibiarkan. Kali ini, yang dikhawatirkannya bukan lagi sekadar kecanduan media sosial.

Fatimah mulai khawatir dengan hati Naima yang perlahan terbiasa mencari pengakuan dari orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya.


BERSAMBUNG