Di Balik Cadar

12

Kembali Menjadi Naima

6 min baca · 1090 kata ·
30 Agustus 2026

Beberapa hari setelah kejadian itu, Naima mulai mencoba melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah lama tidak ia lakukan, yaitu berhenti sejenak. Ia tidak lagi membuka media sosial sejak bangun tidur. Ponsel yang biasanya selalu berada di samping tempat tidurnya kini sengaja ia letakkan agak jauh. Ketika bangun, ia mencoba mengambil wudu, menunaikan salat, kemudian duduk sebentar membaca Al-Qur'an. Pada awalnya hal itu terasa sangat sulit. Tangannya beberapa kali ingin mengambil ponsel hanya untuk melihat notifikasi atau sekadar memastikan apakah ada pesan baru dari pengikutnya. Bahkan ketika sedang membaca Al-Qur'an, pikirannya masih sempat bertanya berapa jumlah pengikutnya pagi itu. Namun Naima mencoba menahan diri. Ia sadar bahwa selama ini dirinya sudah terlalu terbiasa hidup berdasarkan apa yang terjadi di dalam layar. Ia ingin belajar kembali menikmati hidup yang tidak selalu harus diketahui orang lain.

Pagi itu Naima berjalan ke dapur dan membantu ibunya menyiapkan sarapan. Tidak ada kamera yang merekam. Tidak ada tripod. Tidak ada lampu yang harus diatur. Tidak ada Zahra yang memberikan arahan tentang angle terbaik. Ia hanya berdiri di dapur dengan pakaian sederhana sambil membantu pekerjaan rumah. Sesekali ia tersenyum ketika melihat sesuatu yang lucu, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Anehnya, ia merasa lebih tenang. Dulu ia mungkin akan berpikir bahwa kegiatan seperti itu tidak cukup menarik untuk dijadikan konten. Sekarang ia justru mulai menyadari bahwa tidak semua hal harus menjadi tontonan orang lain.

Hari-hari berikutnya Naima mulai mengurangi aktivitasnya di media sosial. Ia tidak lagi melakukan live streaming setiap malam. Ia juga mulai menghapus beberapa jadwal konten yang menurutnya tidak terlalu penting. Ketika Zahra mengingatkannya bahwa jumlah pengikut bisa semakin turun jika ia terlalu lama tidak aktif, Naima hanya tersenyum.

"Biarkan saja."

Zahra terlihat terkejut. "Kamu yakin?"

"Iya."

"Na, kita sudah susah payah membangun akun ini."

"Aku tahu."

"Kalau kamu mengurangi konten, engagement juga bisa turun."

Naima terdiam sejenak sebelum menjawab, "Dulu aku terlalu takut angka turun. Sekarang aku ingin belajar tidak terlalu memikirkannya."

Zahra tidak langsung menjawab. Ia masih belum sepenuhnya memahami perubahan Naima. Selama ini ia mengenal Naima sebagai seseorang yang selalu berusaha mengejar angka. Setiap kenaikan jumlah pengikut selalu dirayakan, setiap video yang tidak sesuai target selalu dipikirkan ulang, dan setiap penurunan engagement selalu membuat Naima gelisah. Sekarang perempuan itu justru mengatakan bahwa dirinya tidak terlalu peduli.

"Aku tetap mau membuat konten," lanjut Naima. "Tapi tidak sebanyak dulu. Aku juga ingin memilih konten yang memang benar-benar ingin aku sampaikan, bukan hanya karena sedang ramai."

Zahra mengangguk pelan.

"Kalau itu keputusanmu, aku ikut."

Setelah percakapan itu, Naima mulai menjalani hari-harinya dengan lebih sederhana. Ia kembali melakukan beberapa pekerjaan rumah yang dulu sering ia tinggalkan karena terlalu sibuk membuat konten. Ia mulai lebih sering duduk bersama keluarga. Sesekali ia pergi bersama Fatimah tanpa membawa kamera. Mereka bisa berbicara berjam-jam tentang hal-hal sederhana seperti makanan, keluarga, kenangan ketika kuliah, atau sekadar cerita tentang kehidupan masing-masing. Naima mulai menikmati percakapan yang tidak perlu direkam dan tidak perlu dibagikan kepada siapa pun.

Namun perubahan itu tidak selalu mudah. Ada kalanya ketika sedang duduk santai, tangannya masih refleks mengambil ponsel. Ia membuka aplikasi media sosial dan melihat jumlah pengikutnya kembali turun. Dadanya sempat terasa sesak seperti dulu. Ia hampir membuka statistik untuk melihat seberapa banyak penurunan yang terjadi, tetapi kemudian ia mengunci kembali ponselnya.

"Sudah."

Ia menghela napas.

Ia tahu dirinya belum benar-benar bebas dari keinginan tersebut. Tetapi setidaknya sekarang ia mulai belajar berhenti sebelum kembali terjebak.

Satu hal lain yang terus ada di dalam pikirannya adalah Fatimah. Semakin Naima berusaha memperbaiki dirinya, semakin ia teringat kepada sahabat yang selama ini berkali-kali mengingatkannya. Ia teringat bagaimana dulu ia pernah menuduh Fatimah iri terhadap pencapaiannya. Ia teringat bagaimana setiap nasihat dianggap sebagai bentuk kecemburuan. Bahkan ketika Fatimah hanya ingin mengingatkan, Naima justru membentaknya.

Naima merasa sangat malu jika mengingat semua itu.

Suatu sore, ia akhirnya memberanikan diri menghubungi Fatimah.

"Fatimah, kamu di rumah?"

"Iya. Kenapa?"

"Aku mau ke sana."

Tidak lama kemudian Naima datang ke rumah Fatimah. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Tidak ada kamera yang dibawa. Tidak ada maksud untuk membuat sebuah konten tentang persahabatan atau meminta maaf di depan pengikut. Ia hanya ingin bertemu dengan sahabatnya.

Ketika Fatimah membuka pintu, keduanya saling memandang beberapa saat.

"Masuk, Ma."

Naima mengangguk.

Mereka duduk di ruang tamu. Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara. Naima menundukkan kepala sambil memainkan ujung jarinya.

"Fat ..."

"Iya?"

"Maaf."

Fatimah terdiam.

Naima menarik napas panjang.

"Aku mau minta maaf untuk semuanya. Untuk perkataanku dulu. Untuk caraku memperlakukan kamu. Untuk setiap nasihat yang kamu kasih tapi malah aku anggap sebagai kecemburuan."

Mata Fatimah mulai berkaca-kaca.

Naima melanjutkan, "Kamu benar. Aku memang sudah terlalu jauh."

Fatimah menggeleng pelan.

"Aku enggak pernah ingin kamu jatuh, Ma."

"Aku tahu sekarang."

"Yang aku takutkan dari dulu bukan popularitasmu. Aku takut kamu kehilangan dirimu sendiri."

Kalimat itu membuat Naima menundukkan kepala lebih dalam.

"Aku memang kehilangan diriku."

Air mata mulai jatuh di pipinya.

"Aku sampai enggak tahu mana yang benar-benar aku lakukan karena Allah dan mana yang aku lakukan karena ingin dipuji orang."

Fatimah tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendekat dan memeluk sahabatnya.

Tangis Naima pecah.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menangis bukan karena kehilangan pengikut atau pekerjaan. Ia menangis karena menyadari betapa jauhnya dirinya dari sosok yang dulu ia kenal.

"Terima kasih karena kamu masih mau jadi sahabatku," ucap Naima.

Fatimah tersenyum sambil mengusap bahunya.

"Namanya juga sahabat."

Sejak hari itu, Naima benar-benar mulai menata kembali hidupnya. Ia tidak menghilangkan media sosial sepenuhnya karena ia masih ingin berbagi sesuatu yang bermanfaat. Namun sekarang ia membuat batas. Ia tidak lagi memeriksa statistik setiap beberapa jam. Ia tidak lagi membuat konten hanya karena sedang viral. Ia juga tidak lagi memaksakan dirinya untuk terlihat sempurna di depan kamera. Jika ingin membuat konten, ia membuatnya dengan sederhana. Jika tidak ada yang ingin ia bagikan, ia memilih diam.

Jumlah pengikutnya memang terus menurun. Beberapa orang pergi. Beberapa tawaran pekerjaan tidak kembali. Tetapi kali ini Naima tidak mengejar mereka. Ia mulai memahami bahwa kehilangan sebagian popularitas tidak berarti kehilangan harga dirinya.

Suatu malam, setelah selesai salat, Naima duduk di dekat jendela. Ponselnya berada di atas meja, tetapi tidak disentuhnya. Ia memandang langit yang gelap dan menghela napas panjang.

Hidupnya memang tidak lagi seramai dulu. Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa lebih tenang. Ia tersenyum kecil.

Mungkin menjadi sederhana kembali bukan berarti kehilangan segalanya. Mungkin justru dari kesederhanaan itu ia sedang menemukan dirinya yang dulu. Naima memejamkan mata.

"Ya Allah, jangan biarkan aku kembali menjadi orang yang hanya hidup untuk penilaian manusia."

Dan malam itu, tanpa kamera dan tanpa satu pun orang yang melihat, Naima kembali menangis. Namun kali ini, air matanya terasa lebih ringan.


BERSAMBUNG