Kesibukan Naima semakin bertambah sejak jumlah pengikutnya terus meningkat. Ia mulai merasa tidak sanggup mengurus semuanya seorang diri. Membalas pesan, membuat jadwal unggahan, memikirkan ide konten, memantau statistik, melakukan live streaming, hingga berhubungan dengan berbagai pihak yang mengajaknya bekerja sama membuat waktunya semakin terbatas. Karena itu, Naima akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan seseorang yang memang sudah cukup berpengalaman dalam mengelola media sosial.
Namanya Zahra. Zahra adalah seorang manajer media sosial yang sudah menangani beberapa akun dengan jumlah pengikut yang cukup besar. Ia sangat memahami cara kerja algoritma. Ia tahu kapan sebuah konten sebaiknya diunggah, bagaimana membuat orang berhenti menggulir layar, bagaimana membuat sebuah video mendapatkan banyak komentar, dan yang paling penting, bagaimana membuat para pengikut terus kembali melihat konten berikutnya. Bagi Zahra, media sosial bukan hanya tempat berbagi. Media sosial adalah sebuah permainan angka yang harus dipahami jika ingin memenangkan perhatian orang.
"Na, akun kamu sebenarnya sudah bagus," kata Zahra suatu sore ketika mereka sedang membicarakan perkembangan akun Naima. "Tapi kita masih bisa naik lebih tinggi."
Naima terlihat antusias mendengarnya.
"Memangnya kurang apa?"
Zahra membuka laptopnya dan menunjukkan beberapa data statistik.
"Engagement kamu sebenarnya bagus, tapi belum maksimal. Ada beberapa konten yang tayangannya tinggi, tapi interaksinya masih rendah. Kita perlu membuat orang bukan cuma melihat, tapi juga merasa sesuatu setelah melihat konten kamu."
Naima memperhatikan layar laptop itu dengan serius.
"Maksudnya?"
"Harus lebih emosional."
Naima terdiam.
Zahra kemudian menjelaskan bahwa orang-orang di media sosial cenderung lebih tertarik pada cerita yang menyentuh perasaan. Konten yang membuat orang penasaran, terharu, marah, bahkan ikut merasa sedih biasanya akan mendapatkan interaksi lebih tinggi dibandingkan konten yang hanya berisi nasihat biasa. Menurutnya, Naima sudah memiliki modal yang kuat. Ia dikenal sebagai perempuan bercadar yang sering memberikan nasihat, memiliki banyak pengikut, dan mempunyai kehidupan yang cukup menarik untuk dijadikan bahan cerita.
"Kamu punya karakter yang kuat, Na. Tinggal bagaimana kita mengemasnya."
Naima masih mendengarkan.
"Misalnya kamu bikin konten tentang pengalaman paling menyakitkan dalam hidupmu. Ceritakan sesuatu yang membuat orang penasaran. Tidak perlu semuanya langsung dibuka. Bikin mereka bertanya-tanya."
"Seperti curhat?"
"Iya. Curhat. Bisa tentang masa lalu, perjuangan kamu memakai cadar, pengalaman ketika diremehkan, atau kisah sedih yang pernah kamu alami."
Naima mulai berpikir.
"Kalau memang tidak ada yang terlalu dramatis?"
Zahra tertawa kecil.
"Yang penting ceritanya bisa menyentuh. Tidak semua hal harus diceritakan secara mentah. Kita bisa mengemasnya."
Naima kembali melihat statistik di layar.
Zahra kemudian menunjukkan beberapa contoh judul yang menurutnya bisa menarik perhatian. Judul yang sengaja dibuat menggantung, kalimat yang membuat orang penasaran, dan cerita yang seolah menyimpan sesuatu di baliknya.
"Ini namanya clickbait," jelas Zahra. "Orang harus merasa penasaran sebelum mereka menonton. Kalau mereka penasaran, kemungkinan mereka berhenti scroll lebih besar."
Naima mengangguk perlahan.
"Berarti memang harus dibuat lebih menarik."
"Bukan cuma menarik. Harus membuat orang merasa perlu menonton sampai selesai."
Zahra kemudian memberikan sebuah ide.
"Besok kita coba konten tentang perjuangan kamu. Misalnya, kamu duduk sendiri, kemudian ceritakan bagaimana rasanya ketika dulu tidak ada yang mendukung pilihanmu untuk bercadar. Kalau perlu menangis sedikit."
Naima langsung menoleh.
"Menangis?"
"Iya. Tidak perlu dibuat berlebihan. Cukup sampai orang ikut merasakan emosinya."
Naima tidak langsung menjawab. Ada sesuatu yang membuatnya sedikit ragu. Ia memang pernah mengalami masa-masa sulit ketika pertama kali mengenakan cadar, tetapi sebenarnya tidak separah seperti yang dibayangkan Zahra. Ia hanya membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan dan menjelaskan keputusannya kepada beberapa orang terdekat.
"Kalau aku sebenarnya enggak sampai menangis?"
Zahra menatapnya.
"Kalau memang belum menangis, ya kita bisa buat suasananya lebih emosional."
Kalimat itu membuat Naima terdiam. Untuk beberapa saat, ia merasa ada sesuatu yang kurang tepat. Namun ketika Zahra kembali menunjukkan angka statistik dan menjelaskan kemungkinan jumlah tayangan yang bisa didapatkan, keraguan itu perlahan menghilang.
"Kalau berhasil, konten kamu bisa naik jauh," kata Zahra.
Naima melihat angka-angka tersebut. Jauh di dalam dirinya, keinginan untuk kembali mendapatkan perhatian yang lebih besar mulai muncul. Ia teringat dengan kreator baru yang selama ini diam-diam ia bandingkan dengannya. Ia ingin kembali menjadi yang terdepan. Ia ingin melihat jumlah tayangannya kembali melampaui orang lain.
"Baiklah. Kita coba."
Keesokan harinya, sebuah kamera kembali dipasang di kamar Naima. Kali ini Zahra ikut mengatur semuanya. Lampu dibuat lebih redup, posisi kamera diatur lebih dekat, dan musik latar dipilih dengan suasana yang sedikit sedih.
Naima duduk di depan kamera.
"Siap?" tanya Zahra.
Naima mengangguk.
"Mulai."
Kamera menyala.
Naima menarik napas panjang dan mulai berbicara.
"Dulu ... tidak semua orang menerima keputusan saya ketika mulai memakai cadar."
Ia berhenti sejenak. Matanya menatap kamera.
"Saya pernah merasa sendirian..."
Zahra memberikan isyarat agar Naima terus melanjutkan.
Naima bercerita tentang masa lalu. Beberapa bagian memang benar, tetapi ada pula bagian yang dibuat lebih dramatis dari kenyataan. Ia memperpanjang jeda, menurunkan suara, dan mencoba menunjukkan kesedihan yang lebih dalam. Ketika sampai pada bagian yang menurut Zahra paling emosional, Naima menundukkan kepala. Air matanya tidak keluar. Zahra memberi isyarat lagi.
Naima mengusap sudut matanya. Ia kemudian mencoba menarik napas seperti seseorang yang sedang menahan tangis.
"Kadang saya bertanya ... kenapa saya harus melewati semua ini?"
Kamera tetap merekam. Setelah selesai, Zahra langsung tersenyum.
"Bagus."
Naima melihat hasil videonya.
"Menurutmu bagus?"
"Bagus banget. Tinggal judulnya."
Zahra mengetik beberapa pilihan.
"Perjuanganku Memakai Cadar Tidak Semudah yang Kalian Kira."
Naima membaca.
"Atau yang ini," kata Zahra. "Saya Pernah Menangis Diam-Diam Karena Cadar."
Naima terdiam. Kalimat itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Ia memang pernah sedih, tetapi tidak pernah sampai seperti yang digambarkan dalam judul tersebut.
Namun ketika Zahra mengatakan bahwa judul itu berpotensi mendapatkan lebih banyak klik, Naima akhirnya mengangguk.
Video itu diunggah malam harinya. Tidak lama kemudian, jumlah penonton mulai naik.
Puluhan ribu.
Ratusan ribu.
Komentar berdatangan dengan cepat.
"Masyaallah, Kak, jangan menyerah."
"Semoga Allah selalu menguatkan Kak Naima."
"Saya sampai ikut menangis."
Naima membaca komentar-komentar itu dengan perasaan campur aduk. Sebagian dirinya merasa senang. Kontennya ramai. Banyak orang memperhatikannya. Banyak yang memberikan dukungan.
Namun ada bagian kecil di dalam hatinya yang terasa tidak nyaman karena ia tahu tidak semua yang ditampilkan dalam video itu benar-benar seperti kenyataan.
Zahra justru terlihat sangat puas.
"Tuh, kan. Aku bilang juga apa. Konten emosional lebih mudah naik."
Naima melihat jumlah tayangan yang terus bertambah. Ia tersenyum.
Keraguan yang tadi muncul perlahan ia abaikan. Mungkin memang seperti ini caranya. Mungkin selama tujuannya baik, cara mengemasnya tidak terlalu penting. Setidaknya, itulah yang mulai ia yakini.
Sejak saat itu, Zahra semakin berani memberikan ide-ide baru. Ia menyarankan Naima membuat konten yang lebih dramatis, lebih menyentuh, lebih membuat penasaran. Tangisan, curhat, kisah sedih, konflik, bahkan judul-judul yang sengaja dibuat menggantung mulai menjadi bagian dari strategi mereka.
Bagi Zahra, semuanya sederhana. Jika angka naik, berarti berhasil. Jika komentar bertambah, berarti berhasil. Jika orang-orang membicarakan Naima, berarti berhasil. Dan perlahan-lahan, Naima mulai melihat semuanya dengan cara yang sama.
Ia mulai percaya bahwa selama angka terus meningkat, berarti apa yang dilakukannya tidak salah. Padahal tanpa disadarinya, ia sudah mulai menukar kejujuran dengan popularitas. Dan angka-angka di layar itu perlahan menjadi suara yang paling sering ia dengarkan.
BERSAMBUNG